![]() |
| Abiya Muhammad Baidhawi Ulama Muda |
Malam Jum’at adalah malam yang
penuh barakah senantiasa bagi kita melakukan ibadah sebagai bekal menuju
akhirat nanti, tidak kalah pentingnya jika kita menghaziri majlis-majlis ilmu dan
ulama dalam rangka menata hati yang kadang kala terlalu banyak dosa yang telah
kita kerjakan.
Pada malam Jumat kali ini kami
mengikuti tausiah penuh hikmah bersama Abiya Muhammad Baidhawi beliau adalah
intelektual serta ulama muda Aceh sekarang , beliau mengisi kuliah selama satu
jam penuh dihadapan ribuan santri dan para
guru MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Dalam tausiah beliau menyatakan
syarat untuk menuntut ilmu supaya bermamfaat adalah dengan cara menjaga hati
dan perbuatan kita dari perbuatan maksiat dan dosa karena ilmu ini ibarat nur
dan dosa ibarat kegelapan maka antara keduanya saling berlawanan.
‘’Ilmu ini ibarat madu yang
diberikan oleh guru dan kita sebagai santri adalah orang yang menunggu madu
tersebut dengan membawa bejana, namun
jika kita membawa bejana yang bernajis maka madu tersebut tidak akan bisa
dipakai walaupun jumlahnya sangat banyak’’ pinta beliau pada pertengahan
kuliah dihadapan ribuan santri dan dewan guru.
Untuk mendapatkan ilmu agama ini
bukan hanya belajar tapi dengan menjahui dari perbuatan maksiat dan menjaga
makanan , maka makanan yang kita makan sudah semestinya kita jaga.
Jangan terlalu kenyang
Jangan terlalu banyak
Jangan terlalu enak
Karena jika kita merasakan
enaknya makanan di dunia ini maka kita tidak akan merasakan kelezatan makanan
dalam surga nanti dan jika perut dipenuhi oleh makanan maka tidurlah hati
seseorang.
Pada akhir kuliah Abiya
menceritakan kisah Imam Syafi’i yang lahir dalam keadaan yatim dan dari
keluarga yang miskin, ketika Imam Syafi’i belajar pada Imam Malik , beliau
(Imam Syafi’i) tidak memilki satu lembar kertaspun untuk menulis pelajaran akan
tetapi Imam Syafi’i sanggup mengahafal seuruh apa yang diajarkan Imam Malik. Ini adalah berkat kesungguhan
beliau dalam menahan segala maksiat dan menjaga makanan .


0 Comments