Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah: Sosok | Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al-Aziziyah!


Headlines News :
Powered by Blogger.
Mudimesra

Kabar Ads

http://www.al-aziziyah.org/p/alquran-mp3.html

Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

Nasehat Terakhir Abu Panton Di Dayah Mudi Mesra

Islamic -Saat itu jam sudah menunjuki pukul 2 malam, tetapi Abu Panton masih terus menyampaikan nasehat dan mauidhah terhadap seluruh santri MUDI, baik yang masih belajar maupun yang sudah alumni. Disamping banyak menyampaikan nasehat abu juga banyak menyampaikan kisah beliau bersama Abon ketika masih belajar di ma’had. Ketika menceritakan hal ini tidak ada seorang pun yang tidak terharu, bahkan banyak yang tidak sanggup menahan air mata.

Ada satu jam lebih abu berbicara di hadapan hadirin yang memadati halaman masjid, beliau berbicara dengan penuh semangat, khusyu’ dan hikmah. Rasanya ini merupakan hal yang paling bermakna dari peringatah HAUL tahun ini disamping hasil mubahatsah tentunya.

Kisah beliau bersama Abon. Diatarakisah beliau bersama Abon adalah pada suatu malam beliau mutalaah kitab mazahibul arbaah di dalam balee beuton, tanpa beliau sadari beliau tertidur dengan kitab diatas dadanya. Ketika sudah larut malam beliau terbangun dan beliau terkejut ketika mendapati Abon sedang duduk di dekat kepalanya. Spontan beliau bangun dan bertanya kepada Abon, “padum na trep ka teungku duk inoe” ? saat itu Abon masih dipanggil teungku. Abonmenjawab, “ kalon puteng rukok” ! Abuterkejut ketika melihat puntung rokok sudah banyak dalam asbak dimana ini membuktikan bahwa Abon sudah lama duduk menemaninya tidur.

“ peu kitab nyan “ ? Tanya Abon selanjutnya seraya menunjuki ke arah kitab yang ada pada abu, “ kitab mazahibul arbaah teungku, geupeugah taleuk 3 sigoe kheun jatuh satu”. Jawab abu. “ nyan salah “. Komentar abu selanjutnya. Mendengar komentar Abon demikian abu merasa penasaran, sehingga beliau bertanya, “ meunye memang salah peu alasan, inoe kameutuleh lagee nyo”. “ pokok jih nyan salah, kapateh mantong peu yang lon peugah” jawab Abon seraya mondar mandir dalam balee beuton sambil mengapit-ngapitkan kitab mazahibul arbaah yang ada di tangannya. 

Dengan jawaban Abon yang demikian abu merasa tidak ada yang perlu ditanyakan lagi dan meyakini saja apa yang dikatakan Abon. Tetapi yang lebih mengherankan, kata abu, adalah sambil jalan tersebut, Abon banyak mengucapkan kata-kata seperti orang surah kitab, tetapi abu tidak mengerti satupun maksudnya. Kapan beliau tahu kebenaran yang telah disampaikan Abon yaitu ketika beliau menunaikan ibadah haji ke baitullah dan membeli satu kitab hadits yang di dalamnya termaktub semua surah yang Abon jelaskan sambil jalan beberapa tahun yang lalu. Pada hal kitab tersebut tidak ada dalam maktabah Abon. 

Ini berarti jangankan Abon pernah memutala’ah kitab tersebut, mungkin melihatpun tidak. Menurut abu ini adalah salah satu bukti bahwa Abon banyak mendapat ilham dari Allah SWT. masyaAllah. Ini hanya sepenggal kisah dan isi pidato beliau saat itu, kami sangat menyesal tidak sempat menulis semuanya, padahal tidak satupun perkataan beliau yang sia-sia. 

Memang dari nada perkataan dan nasehat beliau itu kami mendapat firasat itu yang terakhir ingin beliau sampaikan. Sering abu menghadiri HAUL dan Bahstul Masail tapi tidak pernah beliau memberikan nasehat sedemikian mengharukan dan penuh hikmah. Cuma saat itu kami tidak berani mengatakan yang macam-macam karena setiap perkataan itu adalah doa. Sedangkan tidak sedikitpun keinginan kita untuk berpisah dengan beliau. Tapi bagaimanapun kita berkehendak hanya Allah SWT yang memutuskan. 

Sumber: www.islami.xyz
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Penemu Angka Nol: Muhammad bin Musa al-Khawarizmi

Islamic - Dunia Eropa atau “Dunia Barat” dari dulu hingga kini, sepertinya mengklaim bahwa Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Eropa atau ‘dunia barat’.

Tapi tahukah anda, sejatinya asal Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Timur Tengah yaitu Mesopotamia yang menjadi peradaban tertua di dunia?

Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar.

Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi.

Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Selama ini banyak kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa / Barat padahal sejatinya banyak ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika dari barat.

Namun pada masa kejayaan Islam, mereka tak memperlakukan suatu penemuan atau suatu keilmuan baru, menjadi ajang pengeruk keuntungan. Artinya, pada masa itu tak ada yang dinamakan “HAK PATENT” yang bertujuan untuk mambayar sejumlah uang jika penemuannya digunakan oleh pihak lain.

Hak patent  adalah “produk Barat”, dimana pada masa lalu banyak sekali penemu dari dunia Islam. Kemudian buku dan literatur penemu-penemu di dunia Islam ini kembali dibaca dan dipelajari, lalu para penemu barat mempetenkannya! Itulah sebabnya hanya dikenal ilmuwan dari dunia Barat yg sebenarnya ilmu-ilmu tersebut dari masa kejayaan Islam.

Selain ahli dalam matematika al-Khawarizmi, yang kemudian menetap di Qutrubulli (sebalah barat Bagdad), juga seorang ahli geografi, sejarah dan juga seniman. Karya-karyanya dalam bidang matematika dimaktub dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Inilah yang menjadi rujukan para ilmuwan Eropa termasuk Leonardo Fibonacce serta Jacob Florence.

Muhammad bin Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya jika angka 0 (nol) tidak ditemukan? Tak akan ada rumus Einstein dan rumus lainnya, bahkan tak akan ada ilumu matematika semaju sekarang.

Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini.

al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Karyanya Kitab Surat Al Ard menggambarkan secara detail bagian-bagian bumi. CA Nallino, penterjemah karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini.

Sumber: islamislogic.wordpress.com
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pengajian TASTAFI Kota Banda Aceh Di MRB 6 Muharram 1438 H ‘’Kelebihan Hari A'syura''


Pengajian TASTAFI Kota Banda Aceh Di MRB 6 Muharram 1438 H ''Kelebihan Hari A'syura''
Nara Sumber : Abu Syaikh Hasanoel Basri HG

Kelebihan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dimaksudkan haram melakukan perperangan, karena dalam setahun terdapat 4 bulan haram yaitu Zulkaidah,Zulhijjah,Muharram Dan Rajab, Dalam bulan Muharram terdapat hari-hari yang mulai terutama hari A’syura yang mana terdapat keutamaan dan kejadian yang luar biasa.

Pengajian TASTAFI pada kali ini edisi 6 Muharram 1438 H Abu MUDI tidak membacakan kitab Siarus Salikin sebagaimana biasanya,akan tetapi beliau membaca kitab I’anatu Thalibin karangan Abi Bakar Syata kerena mengingat memontum yang tepat menyambut kedatangan hari A’syura beberapa hari lagi.

Dalam kitab I’anatu Thalibin terdapat suatu faedah yang menerangkan kelebihan hari Asyura yang biasa kami rangkum sebagai berikut :
Diwajibkan Allah puasa sehari kepada ummat nabi Musa as (Bani Israil) yaitu pada  sepuluh Muharram (A’syura) .Sedangkan bagi kita sebagai ummat nabi Muhammad saw disunnahkan berpuasa dan menafkahkan keluarga pada hari tersebut sebagai tambahan supaya berbeda dengan Yahudi disunnahkan juga kita berpuasa hari Tasu’a (9 Muharram) dua amalan ini adalah sepakat para ulama dengan riwayat yang sahih.

Ada beberapa riwayat yang terjadi berbeda pendapat para ulama tentang amalan hari A’syura (10 Muharram) akan  tetapi boleh diamalkan karena bagian dari fadhail amal, diantaranya : 
Memotong kuku,mengusab kepala anak yatim,bersedekah, shalat sunnah A’syura,memakai celak, mengunjungi ulama ,menjenguk orang sakit dan membaca surat Al Ikhlas 1000 kali.

Diantara kejadian pada hari A’syura adalah:

1. Diampunkan Allah nabi Adam as dari kesalahan memakan buah khuldi serta diangkatnya sebagai Safiyullah.
2. Diangkatkan nabi Idris as ketempat yang tinggi (langit).
3. Dikeluarkan nabi Nuh as dari bahtera.
4. kelepasan nabi Ibrahim as dari api raja Namrud,
5. Diturunkan Taurat kepada nabi Musa as
6. Disembuhkan nabi Ayyub as,
7. Dikeluarkan nabi Yunus as dari perut ikan
8. Terbelah laut untuk bani Israil, diampunkan nabi Daud as
9. Diiberikan Allah kerajaan bagi nabi Sulaiman as,
10. Diampunkan dosa nabi Muhammad as baik dosa yang terdahulu maupun yang akan datang.
11. Hari Asyura hari pertama turun hujan ,pertama rahmat,dijadikan langit dan bumi.



Diantara kelebihannya juga ‘’Barang siapa yang bersedekah pada hari A’syura seolah-olah ia tidak pernah menolak orang yang meminta-minta dan Barang siapa mengunjungi orang sakit pada hari A’syura maka seolah-olah ia mengunjungi orang yang sakit keseluruhannya’’.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Riyadh bin Badr Bajrey Memfatwakan Bunuh Sesama Islam


Ulama salaf mana yg dia jadikan panutan smpai brani memusuhi ulama' yg berbeda pendapat dgn pemahamannya..!!!?
.
Dia (Riyadh bin Badr Bajrey) bilang HAJAR, HAJAR ULAMANYA, MUSUHI ULAMANYA, JANGAN DIMANIS-MANISIN, HAJAR ITU PENTOLANNYA..!!!

Makanya kebanyakan golongan mereka serem serem dan galak galak. Lah ustadnya aja ndiktrinya kayak gini. Naudzubillah

Sekali lagi,,, ULAMA SALAF MANA yg dia pakai panutan..!? Apakah 4 Imam Madzhab mengajarkan seperti itu..!? 
Kitab mana yg dia PAKAI RUJUKAN..!?

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu'alaikum

Jum'at 5 Agustus 2016
Grand Mufty Mesir, Prof. Dr. Syekh Ali Jum'ah mengalami percobaan pembunuhan saat akan melaksanakan sholat Jum'at, namun Alhamdulillah gerakan tersebut berhasil digagalkan.

justify;"> Siapa pelakunya!!??
Wallahua'lam

Tapi melihat keadaan disana, hampir bisa di pastikan adalah kelompok yang memang menyulut permusuhan terhadap sesama Muslim dgn alasan Ahlu bid'ah, dholalah dll (beliau mmg d musuhi kelompok tsb)

Syekh Ali Jum'ah dikenal Ulama' Aswaja suka Maulidan dsb.

* Video ini sebagian cara propaganda dan doktik mereka.
* Video ini juga menunjukkan bagaimana mereka provokator dengan menyeru permusuhan disaat Ulama' Aswaja bijak dalam menyikapi perbedaan

Vidio Penebar Kebencian Riyadh bin Badr Bajrey

Silakan dibagikan agar teman2 kita tahu bahwa yg menyulut api perpecahan adlah mereka
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Berkah Ulama Menular Kepada Orang Lain


Imam Abu Ya'la al Hanbali dalam Thabaqat Hanabilah juz I hlm. 18 menulis:

ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﺍﻟﺴﻌﻴﺪ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻋﻦ ﻳﻮﺳﻒ ﺍﻟﺰﺍﻫﺪ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺷﺠﺎﻉ ﺍﻟﻤﺮﻭﺭﻭﺫﻱ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻘﺮﺷﻲ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﻮﺳﻒ ﺑﻦ ﺑﺨﺘﺎﻥ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺧﻴﺎﺭ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻗﺎﻝ ﻟﻤﺎ ﻣﺎﺕ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺃﻯ ﺭﺟﻞ ﻓﻲ ﻣﻨﺎﻣﻪ ﻛﺄﻥ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﻗﺒﺮ ﻗﻨﺪﻳﻼ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ ﺃﻣﺎ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻧﻪ ﻧﻮﺭ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺑﻨﺰﻭﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺑﻴﻦ ﺃﻇﻬﺮﻫﻢ ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﻳﻌﺬﺏ ﻓﺮﺣﻢ

"Ketika Imam Ahmad bin Hanbal wafat, seseorang dalam mimpinya seakan-akan melihat lampu di atas setiap kuburan. Kemudian ia bertanya, apa ini? Lalu dikatakan kepadanya: "Apakah Anda tak tahu bahwa itu adalah cahaya bagi penghuni kuburan, yaitu kuburan mereka dengan sebab disemayamkannya laki-laki ini (Imam Ahmad) ditengah-tengah mereka. Dan sungguh diantara mereka ada yang disiksa tetapi kemudian dirahmati Allah". (Dikisahkan juga oleh Imam Ibnul Jauzi dalam Shafwah ash Shafwah juz II hlm. 359)

Bahkan, dikuburan Imam Ahmad juga ramai dibuat pengajian.

Imam Abu Ya'la dalam Thabaqat Hanabilah juz II hlm. 248 menulis:


وكان مشايخ الحنابلة يعقد مجلس العلم عند قبر الامام أحمد

"Masyayikh Hanbali mengadakan pengajian ilmu disamping makam Imam Ahmad".

Beliau dalam juz II hlm. 186 juga menulis:

Imam Rizqullah at Tamimi berkata:


زرت قبر الامام أحمد صحبة القاضي الشريف أبو علي فرأيت يقبل رجل القبر فقلت له : في هذا أثر؟ قال لي : أحمد في نفسي شيئ عظيم وما أظن ان الله تعالى يؤاخذني بهذا

"Aku ziarah ke makam Imam Ahmad karena menemani Qadhi Syarif Abu Ali (salah satu petinggi ulama madzhab Hanbali). Kemudian aku lihat beliau mencium kaki kuburan (Imam Ahmad) . Lalu aku katakan kepadanya: "Apakah ada atsar tentang ini?" Beliau menjawab: "Ahmad dihatiku adalah sesuatu yang agung. Dan aku tidak berprasangka Allah akan menyiksaku gara-gara ini".
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rakyat Berduka, Dua Ulama Karismatik Aceh Meninggal Dunia Pada Hari Yang Sama

Islamic - Dua ulama karismatik dan berpengaruh di Aceh, Abuya Jamaluddin Waly dan Teungku Mukhtar Luthfi alias Abon Seulimum meninggal dunia, pada Kamis 21 Juli 2016. Berpulangnya kedua pemuka agama itu membawa duka bagi masyarakat di Bumi Serambi Makkah.

Abon Seulimum yang merupakan Pemimpin Dayah (Ponpes) Ruhul Fata Seulimum, Aceh Besar, meninggal akibat komplikasi penyakit. Ia sempat dirawat di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Ribuan pelayat mulai dari muridnya, masyarakat, hingga pejabat ikut mengantarkan jenazahnya ke liang lahat Kamis sore.

Sementara Abuya Jamaluddin Waly mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Teuku Pekan Blang Pidie, Aceh Barat Daya, sekira pukul 23.15 WIB tadi, atau beberapa jam setelah meninggalnya Abon Seulimum.

Kabar meninggalnya Pemimpin Dayah (Pesantren) Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan itu,beredar cepat melalui pesan berantai dan media sosial.

"Aceh kembali berduka. Innalillahi waainna Ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Abuya Jamaluddin Waly Al-Khalidy pada malam Jumat ini," tulis pengikut fanpage Facebook Ponpes Darussalam, Labuhan Haji.

Abuya Jamaluddin Waly adalah sosok yang disegani kharisma dan keilmuannya. Ia putra dari Abuya Syeikh Muhammad Muda Waly Al Khalidy, ulama besar Asia Tenggara sekaligus pendiri Pesantren Darussalam Labuhan Haji, salah satu ponpes tertua di Aceh.

Jamaluddin Waly memimpin Ponpes Darussalam sepeninggal abang kandungnya, Abuya Profesor Muhibuddin Waly pada 7 Maret 2012. Selain memimpin pesantren warisan orangtuanya dan menjabat Ketua Majelis Zikir Al-Waliyah Aceh, Jamaluddin juga merupakan pembimbing umum (Mursyidul Am) Tarekat Naqsyabandiyah se Aceh.

Tarekat Naqsyabandiyah pertama kali dikembangkan di Aceh oleh ayahnya, Abuya Syeikh Muda Waly. Pengikutnya bukan hanya di Aceh, tapi juga Sumatera Barat, Jawa, Malaysia, dan Asia Tenggara.

Selain sebagai ulama, Abuya Jamaluddin Waly adalah politikus andal yang lama berkiprah di parleman. Ia pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Istimewa Aceh (1968-1987) dan anggota DPR/MPR RI (1987-1999).

Jamaluddin Waly juga piawai menulis dan merangkai syair. Salah satu buku karangannya adalah "Panduan Zikir dan Doa Bersama".(okezone.com)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rakyat Turki : "Kami mencintai Erdogan"

Teladan dari Turki
Jangan pernah bohongi dan dzolimi rakyat, bercermin pada masyarakat Turkey mereka cinta kepada pemimpin mereka, mereka loyal kepada pemimpin, jika pemimpin cinta dan tidak bohongi rakyat maka apapun perintah pemipin pasti di dengar oleh rakyat.
Pukul 2 pagi, puluhan juta rakyat Turkey turun ke jalan untuk menolak usaha kudeta dari para oknum militer, turun ke jalan dan melakukan demo adalah himbuan presiden Turkey dan hanya hitungan tak kurang dari 10 menit..puluhan juta rakyat turkey turun ke jalan.
Terbukti, kekuatan seorang pempimpin bukan letak pada senjata dan besar jumlah militer, tapi pada kecintaan pemimpin kepada rakyatnya.
luar biasa melihat loyal rakyat kepada pemimpin dan begitu cintanya pemimpin kepada rakyatnya.
Bang Onim - Jurnalis Muslim Indonesia di Gaza Palestina -

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Inilah Tindakan Umar Bin Khatab Saat Rakyatnya Masak Batu Karena Miskin

Islamic - Baru-baru ini nitizen dihebohkan dengan kehidupan keluarga Iyah, wanita asal Cianjur yang sangat miskin sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Karena bingung melihat kondisi anaknya yang kelaparan, Iyah berusaha mengelabuhi anaknya dengan memasak batu.

Ia berharap cara ini dapat menyenangkan anak-anaknya yang kelaparan karena mengira Ibunya tengah memasak sesuatu. Sungguh potret sisi lain kehidupan yang sangat menyayat hati. Beruntung ada pihak kepolisian setempat yang terenyuh dan segera membantu keluarga Iyah.

Ternyata kondisi seperti ini sudah pernah terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Sebagai pemimpin pada kala itu, Umar sangat terpukul melihat rakyatnya menderita kelaparan, bahkan Ia sampai menghukum dirinya sendiri karena takut mendapat hukuman dari Allah di akhirat kelak. Apa yang dilakukan Umar? Berikut ulasannya.

Pada masanya Umar merupakan pemimpin yang gemar melakukan Blusukan. Namun Blusukan ini dilakukan pada malam hari, sehingga tidak ada satu orang  pun yang mengetahui. Dengan cara ini, Umar bisa tahu bagaimana kehidupan rakyat yang dipimpinnya.

Pada suatu ketika itu wiilayah yang dipimpin Umar mengalami peceklik panjang yang disebut dengan tahun Abu. Kondisi ini membuat pohon menjadi mengering, tanah tandus, dan hujan pun tidak kunjung datang sehingga tanah menjadi menghitam layaknya Abu.

Setiap hari Umar memerintahkan aparatnya untuk menyembelih onta dan membagikannya kepada rakyatnya. Hatinya semakin pedih ketika melihat banyak rakyatnya kelaparan. Ia bahkan sempat berdoa, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ku.”

Pada masa itu Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Hal ini dilakukan untuk memastikan makanan tersebut diberikan kepada rakyatnya. Dan tahukah anda apa yang Ia makan? Umar hanya makan sedikit roti dengan minyak zaitun.

Namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, Ia menabuhkan perutnya dengan jemari dan berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Pada suatu malam Umar mengadakan blusukan dengan sahabatnya yang bernama Aslam. Ia ingin mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Sampailah Ia di suatu perkampungan kecil di wilayah Madinah. Saat melakukan perjalanan di kampung yang tandus tersebut, Umar menemukan tenda lusuh ditengah-tengah gurun tandus tersebut.

Dari dalam tenda Ia mendengar gadis kecil menangis yang tidak berhenti. Saat akan mendekati tenda itu, Umar terkaget karena melihat seorang wanita dewasa sedang duduk diperapian.  Wanita tersebut terlihat mengaduk-aduk bejana  di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Mendengar hal tersebut, Umar dan Aslam tertegun lama. Namun mereka tidak banyak bicara dan  tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam memastikan Ibu tersebut memberikan masakannya kepada anaknya. Namun selama mereka disana gadis kecil di dalam tenda itu tidak berhenti menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Karena begitu lama, Umar pun merasa tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan wanita tersebut. Ia berpikir tentang apa yang sedang dimasak oleh ibu itu? karena sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Namun jawaban ini sungguh membuat hati Umar tersayat-sayat dan sakit. Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar.

“Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Perkataan tersebut membuat Aslam ingin menegur perempuan itu. Ia ingin menjelaskan bahwa perempuan ini tidak pantas menjelek-jelekan Umar sementara Umar kini sedang berada di hadapannya.

Namun Umar sempat mencegah Aslam dan dengan air mata yang berlinang Ia cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Jawaban ini membuat Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang. Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

“Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu,” kata Khalifah Umar.

Dan benar, keesokannya wanita tersebut menemui Amirul Mukminin. Ia begitu kaget melihat sosok Amirul Mukminin yang ternyata adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

“Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum,” kata wanita itu.

“Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu,” kata Khalifah Umar.

Sejatinya seorang pemimpin harus dan wajib berempati kepada nasib rakyatnya. Bahkan seorang pemimpin yang baik, harus memastikan semua rakyatnya kenyang terlebih dahulu sebelum dia makan sesuatu.

Sumber: infoyunik.com
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Umar Bin Khattab : Suatu Negeri akan Hancur Jika Para Penghianat Menjadi Petinggi, dan Harta dikuasai oleh Orang-orang Fasik

….Kepada para komandan pasukan Umar Radiyallahu Anhu mengatakan : “..Perintahkan manusia agar pergi haji dan barangsiapa yang tidak mampu , maka hajikan dia dari harta Allah..”…
(Dari disertasi DR. Jabirah bin Ahmad Al Haritsi , pada program S3 Ekonomoi Islam Fakultas Syariah dan Studi Keislaman Universitas Ummul Qura Makkah dengan predikat Summa Cumlaude)
~~~~~~~~~~
Umar bin Khatab Radiyallahu Anhu  adalah Khalifah yang berhasil membangun dan meletakkan dasar-dasar ekonomi kokoh berdasarkan keimanan  dan Tauhid kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Beliau adalah orang yang terakhir kali bisa makan dan beristirahat setelah yakin  penduduk sudah  terjamin kesejahteraannya. Beliau  sangat zuhud terhadap keduniawiaan dan itu diberlakukannya pada keluarganya. Umar Radiyallahu anhu sangat terkenal dengan pengawasan terhadap rakyatnya dan ketegasannya terhadap orang-orang yang melakukan penyimpangan, khususnya apabila orang yang melakukan penyimpangan itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan umum seperti Gubernur, hakim, pemungut zakat.
Dalam masa sekarang ini dimana negara-negara di dunia terbagi menjadi negara kapitalis, negara sosialis dan lain-lain sesuai dasar sistem ekonomi yang diikuti oleh setiap negara.  Ini menunjukkan begitu kuatnya hubungan antara politik dan ekonomi yang saling mempengaruhi secara timbal balik. Umar Radiyallahu anhu menjelasakan bahwa kerusakan sistem pemerintahan dan dikuasainya berbagai urusan oleh orang-orang yang fasik merupakan sebab kehancuran pilar-pilar umat; dimana beliau mengatakan,” Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”
Sesungguhnya ekonomi kontemporer mengakui sebab-sebab yang menghancurkan terhadap kerusakan ekonomi dan bahwasanya itu merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap usaha pengembangan ekonomi khususnya di negara-negara berkembang).
Oleh karena itu , Umar R.a berupaya keras dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang baik. Bahkan seringkali beliau bertanya kepada sebahagian sahabatnya agar mereka mengemukakan pendapat mereka untuk mengetahui faktor-faktor kebaikan. Contohnya kepada Muadz bin Jabal ,” Apakah pilar perkara ini ya Muadz?’ Ia berkata,”Islam, karena dia adalah  fitrah; ikhlas , karena dia adalah substansi agama, dan ketaatan karena dia adalah perlindungan.
Dari fikih Ekonomi Umar r.a. semasa pemerintahannya ,ada beberapa point yang menyebutkan kriteria sistem pemerintahan yang baik yaitu :
  1. Pemerintah melaksanakan tugasnya nya yang terpenting yaitu menjaga agama dengan cara menetapkan hukum-hukumnya dan berjihad melawan musuh, menjaga harta kaum muslimin yaitu dengan mengumpulkan dan membagikannya sesuai syariah, menegakkan keadilan dengan meralisasikan kemanan dan ketentraman , berupaya mewujudkan kesejahteraan ummat dengan memperhatikan orang-orang  yang membutuhkan
  2. Melibatkan ummat dengan cara musyawarah ataupun memberikan andil ummat kepada pengawasan terhadap jalannya pemerintah dengan cara menasehati dan meluruskannnya
  3. Ada hak ummat menuntut pemerintah jika pemerintah mengabaikan pelaksanaan apa yang menjadi hak-hak ummat. Dalam hal ini Umar sangat peduli untuk mengetahui pendapat umum dan ia bertanya kepada Malik , sahabat dekatnya di rumah seraya mengatakan ,” wahai Malik , bagaimana keadaaan manusia?” ia menjawab “ Manusia dalam keadaan baik .”. Lalu Umar bertanya lagi “Apakah kamu mendengar sesuatu ?” Malik menjawab “ Aku tidak mendengar melainkan kebaikan”Pertanyaan ini berulang sampai tiga kali. Maka Malik berkata padanya pada hari ketiga”Apa yang kamu khawatirkan dari manusia?” Umar menjawab” Bagaimana kamu ini Malik! Aku khawatir jika Umar mengabaikan sebagian hak kaum muslimin lalu mereka datang kepadanya dengan bendera dan menanyakan hak mereka ?” Dan diantara nasehat Umar kepada para gubernurnya adalah “ Janganlah kamu memukul kaum muslimin, karena dengan itu kamu menistakan mereka. Dan janganlah kamu menghalangi hak mereka, karena dengan itu kamu menjadikan mereka untuk mendurhakai kamu..
  4. Adanya Kestabilan yang tidak mengakibatkan kepada pergolakan dan kegoncangan. Kestabilan politik disini adalah dengan mengharamkan seorang muslim mendurhakai pemimpinnya.
  5. Pengembangan ekonomi ini menuntut adanya sistem manajemen yang memudahkan lajunya roda pengembangan dan menghilangkan rintangan dari jalannya, dimana sebagian bentuk manajemen dan sistem pengawasan yang terdapat dalam fikih ekonomi Umar r.a adalah sbb :
a.Hisbah dan pengawasan pasar
b. Pengawasan harta
c. Pengawasan kerja dan pengaturannya
d. Perlindungan lingkungan
Menurut Fiqih ekonomi tersebut ,bahwasanya ada korelasi antara pengembangan ekonomi dalam kacamata Islam dengan terwujudnya suatu lingkungan yang islami dalam segala aspek kehidupan. Dan dari dua diantara lima pilar-pilar pengembanganan ekonomi ( sebagaimana dikemukakan dalam disertasi Dr Jaribah bin Ahmad dari tesisnya yang membahas mengenai itu) adalah  
  1. Kesalehan ummat
Sesungguhnya kesalahehan ummat adalah dengan mengimani Islam sebagai akidah dan syariah dan pengaplikasiannya dalam segala aspek kehidupan.
Ketika seorang muslim meyakini bahwa dia sebagai Khalifah di bumi, ini akan mendorongnya melakukan pengembangan ekonomi karena ini merupakan hak dan sarana ummat. Dan jika ini dilakukakannya sepenuh hati karena Allah (ikhlas) maka akan menjadi ibadahnya dihadapan Allah Ta’ala.
Disisi lain , ketaatan dan kemaksiatan juga berdampak dalam kehidupan ekono mi umat, dimana ketaatan akan menjadi sebab diperolehnya keberkahan dalamn segala sesuatu, sedangkan kemaksiatan berakibat tercerabutnya keberkahan dari segala sesuatu . Allah berfirman dalam QS al A’Raf : 96
“ jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan  bumi, tetapi mereka mendustakan( ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya..”
Umar Radiyallahu anhu mengegaskan dalam pernyataannya ;”… Sesungguhnya dunia adalah kesenangan yang menawan, maka barang siapa mengambilnya dengan cara ayang benar, dia akan mendapatkan keberkahan di dalamnya, dan barang siapa mengambilnya dengan cara tidak benar maka dia seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.
 2. Kebaikan sistem
Pemerintah adalah perangkat politik dan apa yang muncul darinya terkait  sistem pemerintah. Sebab dengan kebaikan perangkat politik, konsistensi pemahaman politik bagi individu dan kebaikan hubungan antara rakyat dan pemerintah, maka akan meletakkan laju pesatnya pengembangan ekonomi pada jalan yang semestinya.
Contoh sikap Umar sebagai pejabat negara dapat dilihat dari perkataaan antara lain tehadap para gubernurnya “ Sesungguhnya aku tidak menguasakan kepadamu atas urusan arah, harga diri serta harta kaum muslimin, namun aku mengutus kamu untuk menegakkan shalat, membagi fai’ mereka dan menetapkan hukum dengan Adil.
Kepada para komandan pasukan Umar Radiyallahu Anhu mengatakan : “..Perintahkan manusia agar pergi haji dan barangsiapa yang tidak mampu , maka hajikan dia dari harta Allah..”
Perkataan Umar, ” Sungguh aku sangat berupaya agar tidak melihat kebutuhan manusia melainkan aku penuhinya, selama sebagian kita terdapat keleluasaan atas sebagaian yang lain. Tapi jika demikian itu tidak dapat dilakukan, maka kita memberi contoh dalam kehidupan kita sehingga kita sama dalam kecukupan”
Dalam fikih ekonomi Umar radiyallahu anhu kita dapatkan bahwasanya politik ekonomi dijalankan oleh pemerintah merupakan tolok ukur terpenting tentang baik atau tidaknya sistem pemerintah, sekaligus merupakan karekteristik sistem pemerintah itu. Sebagai bukti hal itu bahwa Umar Radiyallahu anhu mengatakan”’ demi Allah.., aku tidak mengerti apakah aku khalifah atau seorang raja. Jika aku Raja maka demikian itu adalah perkara besar!”   Maka seorang berkata,” Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya diantara keduanya terdapat perbedaan.” Ia berkata,” Apakah itu ? Ia menjawab, ’Khalifah tidak mengambil melainkan dengan cara yang benar dan tidak meletakkannya melainkan dalam kebenaran dan Anda alhamdulillah seperti demikian itu.. Sedangkan raja adalah menindas manusia, lalu dia mengambil dari ini dan memberi yang ini.” Maka Umar pun diam. (eramuslim.com)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rasulullah Memilih Lapar Demi Umatnya

Rasulullah Muhammad SAW seperti biasanya maju ke depan untuk mengimami shalat. Para sahabat pun berjajar dan mendirikan shaf di belakang beliau.

Namun ada yang yang tidak biasa terjadi dengan Rosululloh saat itu. Gerakan-gerakan shalat Rosululloh terlihat sangat berat. Seperti ada beban. Setiap pergantian dalam rukun-rukun shalat terdengar suara sayup seperti terjadi gesekan atau pergeseran sendi-sendi tulang beliau.

Suara gesekan sendi itu itu terus terdengar sayup dari rakaat ke rakaat.

Setelah selesai shalat jamaah itu… Sayyidina Umar ibn Khattab ra. memberanikan diri bertanya ke Rosululloh.

“Kami melihat Anda seperti menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah Anda, ya Rosulullah?”

“Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat….”

“Ya Rosululloh, mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah sendi bergesekan di tubuh Anda? Kami yakin Anda sedang sakit…”


Sayyidina Umar dan beberapa sahabat sempat khawatir dengan kondisi Rosululloh saat itu.

Tak ingin sahabatnya terus khawatir, Rosululloh SAW menyingkapkan jubahnya sehingga perut beliau yang putih dan kempis terlihat.

Para sahabat terkejut. Ketika mendapati perut itu terbalut oleh sebuah kain. Mereka baru sadar ketika Rosululloh menjelaskan apa yang ada dibalik kain itu.

Ternyata Rosululloh membalut sejumlah batu kerikil untuk menahan lapar. Kerikil itu ditempatkan di lambung Rosululloh dan kemudian ditekan oleh balutan kain untuk mengurangi sakitnya rasa lapar.

Suara gesekan antarkerikil itulah yang membuat suara seperti gesekan sendi tubuh Rosululloh setiap kali beliau menggerakkan badannya.

Sebagaian sahabat sempat menitikkan air mata ketika melihat kondisi Rosulullloh saat itu.

Dengan menahan keharuan, Sayyidina Umar: “Ya Rosululloh, kalau Anda lapar dan tak punya sesuap untuk dimakan, Anda tinggal bilang. Kami akan mendatangkannya,” pinta Sayyidina Umar.

Namun, apa jawaban dari Rosululloh saat itu?

Dengan senyum dan kelembutannya beliau menjawab: “Tidak perlu sahabatku. Saya tahu, apa pun akan kalian korbankan demi saya. Namun, apa yang harus saya katakan dihadapan Allah SWT nanti apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih kelaparan di akhirat.”

———

Tidak ada yang tahu, apa yang terjadi di dalam hati para sahabat saat itu ketika mendengar jawaban Rosululloh tadi: “…biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini”.
Yang jelas, hati para sahabat saat itu pasti bergetar menahan haru melihat kemuliaan Sang Kekasih Alloh SWT itu…

(Disadur dari beberapa sumber)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kedustaan Yang Dinisbahkan Kepada Syaikh Abdul Qadir Jailani

Dlarih al Imam al Jilani

Dalam sebuah kitab berjudul al-Fuyûdlât ar-Rabbâniyyah Fi Ma’âtsir ath-Tharîqah al-Qâdiriyyah yang ditulis oleh Isma’il al-Qadiri al-Kailani dimuat dua bait syair dan dinisbatkan secara dusta kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir. Bait pertama berbunyi:

    كُلّ قُطْبٍ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ سَبْعًا #       وَأنَا اْلبَيْتُ طَائِفٌ بِخِيَامِيْ

    “Setiap wali Quthub melaksanakan tawaf di ka’bah tujuh kali putaran, adapun bagi saya justru ka’bah tersebut tawaf mengelilingi kemahku”.

Artinya, menurut penulis bait syair ini, ka’bah meninggalkan Mekah dan pergi ke Irak untuk melakukan tawaf di kemah Syaikh ‘Abd al-Qadir. Ini jelas merupakan kedustaan, karena Allah menetapkan ka’bah pada tempatnya di Mekah untuk selalu dikelilingi dalam tawaf oleh seluruh kaum muslimin tanpa terkecuali, baik di waktu siang maupun malam. Rasulullah sendiri, pembawa syari’at dan makhluk Allah yang lebih tinggi derajatnya dari siapapun melakukan tawaf dengan mengelilingi ka’bah, bukan ka’bah mengelilingi Rasulullah.

Bait syair ke dua berbunyi:

    لَوْ أنِّي ألْقَيْتُ سِرِّيْ عَلَى لَظَى  #       لَأُطْفِئَتِ النّيْرَانُ مِنْ عُظْمِ بُرْهَانِي

    “Jika aku letakan rahasiahku di atas kobaran api neraka maka api neraka tersebut akan padam karena keagungan rahasiahku”.

Dalam bait kedua ini jelas berisikan penentangan terhadap teks-teks syari’at yang telah menetapkan bahwa surga dan neraka tidak akan pernah punah selamanya. Seorang muslim yang berakidah benar, bahkan seorang awam sekalipun berkeyakinan bahwa neraka tidak akan pernah padam selamanya. Bagaimana mungkin seorang alim besar seperti al-Jailani mengucapkan semacam bait syair di atas?![1].

2.      Kedustaan lain yang juga dikutip dalam kitab al-Fuyûdlât ar-Rabbâniyyah di atas dan dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir adalah apa yang disebut dengan al-Ghautsiyyah. Disebutkan dalam kitab tersebut seakan Allah mengajak berbicara kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir dengan mengatakan “Ya Ghauts al-A’zham (Wahai penolong yang agung)…! Akan terjadi perkara ini dan itu…!”. Dalam bagian lain disebutkan bahwa Allah berkata kepadanya “Ya Ghauts al-A’zham… (Wahai penolong yang agung) makanan orang-orang fakir (kaum sufi) adalah makanan-Ku, dan minuman mereka adalah minuman-Ku”. Dalam kitab tersebut lafazh “Ya Ghauts al-A’zham” berulang-ulang disebutkan.

Dalam menyikapi hal ini Syaikh Abu al-Huda ash-Shayyadi, salah seorang khalifah terkemuka dalam tarekat ar-Rifa’iyyah, berkata:

    “Telah dinisbatkan kepada wali yang agung; Abu Shâlih Muhyiddin as-Sayyid al-Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani --semoga Allah meridlainya-- beberapa pernyataan dusta yang bukan dari ucapannya. Kalimat-kalimat tersebut tidak dinukil dengan sanad yang benar darinya. Seperti kalimat dusta yang mereka sebut dengan “al-Ghautsiyyah”. Sesungguhnya beliau --semoga rahmat Allah selalu tercurah padanya-- jauh dari kalimat-kalimat tersebut dan terbebas darinya”

3.      Kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir sengaja disisipkan oleh kaum Musyabbihah yang mengaku madzhab Hanbali ke dalam kitab karya beliau sendiri; al-Ghunyah. Supaya dianggap bahwa akidah madzhab Hanbali adalah akidah tasybîh, seperti akidah yang mereka yakini. Juga supaya dianggap bahwa Syaikh ‘Abd al-Qadir berakidah tasybîh seperti mereka, karena Syaikh ‘Abd al-Qadir dalam fiqih mengikuti madzhab Hanbali. Di antara kedustaan tersebut adalah bahwa Allah bersemayam di langit[3]. Keyakinan semacam ini jelas menyalahi akidah Ahlussunnah yang telah menetapkan bahwa Allah adan tanpa tempat dan tanpa arah.

Apa yang disisipkan kaum Musyabbihah dalam kitab al-Ghunyah ini jelas merupakan kedustaan. Seorang awam dari kaum muslimin yang berakidah lurus tidak akan berkeyakinan sesat semacam ini, terlebih Syaikh ‘Abd al-Qadir yang merupakan pemuka kaum sufi dan salah seorang ulama terkemuka. Beliau bukan seorang yang bodoh yang tidak mengenal sifat-sifat wajib pada Allah; yang salah satunya Mukhâlafah Li al-Hawâdits.

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (النجم: 31)

“Dan bagi Allah segala sesuatu yang ada di langit-langit dan di bumi”. (QS. Al-Najm: 31)

Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa langit dengan segala isinya serta bumi dengan segala isinya adalah makhluk Allah. Maka bagaimana mungkin Allah membutuhkan kepada makhluk-Nya tersebut?! Langit dan bumi adalah makhluk Allah, keduanya memiliki permulaan, artinya ada dari tidak ada. Sementara wujud Allah azali; tidak memiliki permulaan dan Abadi; tidak memiliki penghabisan. Artinya mustahil bagi Allah yang sebelum menciptakan langit dan bumi serta tidak membutuhkan kepada keduanya kemudian setelah menciptakan keduanya berubah menjadi membutuhkan kepada keduanya!! Kaum Musyabbihah pasti tidak akan bisa menjawab bila dikatakan kepada mereka kelak apa bila nanti langit dan bumi punah, adakah Allah masih membutuhkan tempat? Lantas di mana? Dan jika kemudian berubah tidak membutuhkan, bukankah perubahan adalah tanda yang paling jelas dari sesuatu yang baharu (makhluk)?! Inilah di antara tanda-tanda kesesatan orang-orang Musyabbihah.

Kaum Musyabbihah, dalam kitab al-Ghunyah di atas juga menyisipkan kesesatan lain terhadap Syaikh’Abd al-Qâdir. Dalam kitab tersebut mereka menuliskan bahwa huruf-huruf al-Qur’an adalah qadîm; tidak memiliki permulaan[4]. Pada bagian lain mereka juga menuliskan bahwa Allah mengeluarkan suara yang mirip dengan suara halilintar[5]. Tulisan ini jelas bukan keyakinan Syaikh ‘Abd al-Qadir yang notabene seorang sunni. Dalam akidah Ahlussunnah telah ditetapkan bahwa tidak ada suatu apapun yang qadîm selain Allah. Huruf-huruf, suara dan bahasa jelas merupakan makhluk Allah. Dengan demikian maka sifat kalam Allah bukan berupa huruf, suara maupun bahasa.

Adapun al-Qur’an; kitab berisikan tulisan atau huruf-huruf dalam bahasa arab Arab, disebut kalam Allah bukan berarti Allah mengeluarkan kalimat-kalimat tersebut. Tapi al-Qur’an yang sudah berbentuk kitab tersebut adalah sebagai ungkapan (‘Ibârah) dari sifat kalam Allah atau dari al-Kalâm al-Dzâti. Al-Qur’an dibawa malaikat Jibrîl dari Allah bukan berarti Jibrîl berhadap-hadapan dengan Allah, dan Allah mengeluarkan huruf-huruf atau suara-suara yang kemudian dibawakan Jibrîl kepada Rasulullah. Karena bila Allah mengeluarkan huruf, suara dan bahasa maka tak ubahnya seperti manusia. Yang benar ialah bahwa malaikat Jibrîl diperintah oleh Allah untuk mengambil bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut dari al-Lauh al-Mahfûzh yang telah tertulis demikian adanya dan kemudian dibawakannya kepada Rasulullah. Dalil bagi hal ini adalah firman Allah:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (الحاقة: 40)

“Sesungguhnya ia benar-benar bacaan utusan yang mulia” (QS. Al-Haqqah: 40)

Yang dimaksud dengan ayat ini tidak lain adalah malaikat Jibrîl, sebagaimana telah disepakati para ahli tafsir. Artinya al-Qur’an yang sekarang kita baca dan tersusun dari huruf-huruf adalah sesuatu yang dibacakan malaikat Jibrîl kepada Rasulullah

Di antara yang dapat membatalkan apa yang dinisbatkan kaum Musyabbihah kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir di atas adalah sebuah kisah yang benar adanya dari beliau sendiri. Suatu ketika, Syaikh ‘Abd al-Qadir dalam khlawatnya didatangi Iblis dalam bentuk cahaya yang indah. Iblis berkata: Wahai hambaku, wahai Abd al-Qâdir, aku adalah tuhanmu, aku halalkan bagimu segala sesuatu yang telah aku diharamkan dan aku gugurkan darimu segala sesuatu yang telah aku wajibkan. Maka berbuatlah sekehendakmu karena aku telah megampuni segala dosamu baik yang telah allu maupun yang akan datang…!!. Syaikh ‘Abd al-Qadir tanpa ragu kemudian menjawab: Terlaknat wahai engkau Iblis…!!. Dalam pada ini Syaikh ‘Abd al-Qadir tahu bahwa yang berbicara tersebut adalah Iblis. Karena Allah bukan cahaya atau sinar, Allah ada tanpa tempat, Allah tidak berkata-kata dengan suara dan huruf, dan Allah tidak akan menghalalkan sesuatu yang diharamkannya

Asy-Syibli, dalam menerangkan makna ma’rifat berkata: “Dialah Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Allah ada sebelum adanya segala benda dan huruf-huruf. Dzat Allah bukan benda dan kalam-Nya bukan huruf-huruf”.

4.      Cerita-cerita yang dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir yang dimuat dalam kitab Bahjah al-Asrâr Wa Mâ’din al-Anwâr adalah kedustaan-kedustaan belaka. Kitab ini ditulis oleh ‘Ali asy-Syathnufi al-Mishri dengan rangkaian-rangkaian sanad yang tidak benar, sebagaimana penilaian sanad ini dinyatakan oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab ad-Durar al-Kâminah[9]. ‘Ali asy-Syathnufi sengaja membuat rangkaian-rangkain sanad palsu tersebut untuk menjual cerita-cerita hingga laku di khalayak kaum muslimin[10].

Di antara kedustaan yang dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir dalam kitab Bahjah al-Asrâr di atas adalah pernyataan “Telapak kakiku ini berada di atas leher seluruh wali Allah”. Pernyataan semacam ini jelas bersebrangan dengan sifat-sifat para wali Allah yang dikenal sebagai kaum yang sangat tawadlu dan mengutamakan al-khumûl serta menghindari kesenangan-kesenangan duniawi. Syaikh Sirajuddin al-Makhzûmi dalam kitab Shihâh al-Akhbâr Fi Nasab al-Sâdâh al-Fâthimiyyah al-Akhyâr menyatakan bahwa pernyataan di atas jelas-jelas sebuah kedustaan yang dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir. Dalam kitab tersebut, Syaikh Sirajuddin juga menyebutkan siapa orang yang sengaja membuat penisbatan pernyataan itu kepada al-Jailani

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda di hadapan beberapa orang sahabatnya:

إنّ التّوَاضُعَ أفْضَلُ الْعِبَادَةِ (رَوَاهُ ابْنُ حَجَر فِي الآمَالِي)

“Sesungguhnya sikap tawadlu adalah ibadah yang paling utama”. (HR. Ibn Hajar dalam al-Âmâli al-Mishriyyah).

Rasulullah mengucapkan hadits ini di hadapan para sahabatnya bukan berarti mereka orang-orang yang tidak tawadlu. Kebanyakan para sahabat, terlebih para sahabat terkemuka beliau (Kibâr al-Shahâbah) adalah orang-orang yang tawadlu. Hadits hendak ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa sikap tawadlu adalah sikap yang sangat terpuji. Sementara kebalikannya, yaitu sikap takabur, sombong dan riya’ adalah sifat-sifat tercela. Sikap tawadlu inilah yang selalu diteladani seluruh para wali Allah, termasuk oleh Syaikh ‘Abd al-Qadir. Bahkan dalam beberapa kesempatan Syaikh ‘Abd al-Qadir menyatakan bahwa derajat ketaqwaan dan kewalian tidak lain salah satunya diraih dengan sifat tawadlu dan lapang dada (Salâmah al-Shadr). Artinya, perkataan “Telapak kakiku ini berada di atas leher seluruh wali Allah” jelas memberikan pemahaman kesombongan. Kalimat semacam ini bagaiman mungkin dinyatakan Syaikh ‘Abd al-Qadir yang menjunjung sifat-sifat tawadlu’?!

Syaikh Abu al-Huda ash-Shayyadi berkata:
    “Adapun apa yang tertulis dalam kitab Bahjah al-Asrâr karya asy-Syathnufi tentang manâqib Syaikh ‘Abd al-Qadir yang memuat hikayat-hikayat dan riwayat-riwayat maudlû’ (palsu), hal ini telah dinilai oleh para pemuka sufi sendiri. Di antara mereka ada yang menilai bahwa asy-Syathnufi sengaja membuat kedustaan-kedustaan tersebut dengan tujuan-tujuan pribadi. Penilaian ini di antaranya dari Ibn Rajab al-Hanbali dalam Thabaqât al-Hanâbilah dalam penulisan biografi Syaikh ‘Abd al-Qadir. Sebagian sufi lain mengatakan bahwa asy-Syathnufi adalah seorang pembuat cerita-cerita dusta. Mereka menyatakan bahwa asy-Syathnufi tidak tahu apa-apa, ia selalu mengambil cerita-cerita apapun, baik yang benar maupun yang tidak benar”

Selanjutnya Syaikh ash-Shayyadi berkata:
    “Adapun yang ia tulis dalam Bahjah al-Asrâr dengan rangkaian sanad yang dinisbatakan kepada Syaikh ‘Abd al-Qadir tentang kata-kata “telapak kakiku ini berada di atas leher seluruh wali Allah”, para ulama telah berselisih pendapat padanya. Pendapat al-Hâfizh Ibn Rajab al-Hanbali, al-Imâm al-‘Izz al-Fârutsi asy-Syafi’i, adz-Dzahabi, al-Taqy al-Wasithi, Ibn Katsîr dan mayoritas ulama terkemuka lainnya mengingkari kata-kata tersebut dan menafikannya sebagai pernyataan Syaikh ‘Abd al-Qadir. Mereka mengatakan bahwa kata-kata tersebut adalah di antara kedustaan-kedustaan yang dibuat al-Syathnufi, di nama hal tersebut dirangkai dengan sanad yang tidak bisa dijadikan sandaran”

Masih dalam kitab Bahjah al-Asrâr, di dalamnya juga tertulis: “Ketahuilah oleh kalian sesungguhnya amal ibadah kalian tidak masuk ke dalam bumi tapi naik ke langit, dengan dalil firman Allah: “Ilayhi Yash’ad al-Kalim al-Thayyib Wa al-‘Amal al-Shâlih Yarfa’uh…”, maka Tuhan kita berada di arah atas, Dia bersemayam di atas ‘arsy…”. Tulisan ini tanpa kita ragukan adalah karya orang-orang Musyabbihah-Mujassimah. Merekalah yang merusak madzhab Hanbali dengan keyakinan sesat semacam ini. Kaum Musyabbihah dan Mujassimah tersebut tidak hanya mengotori madzhab Hanbali tapi juga memalsukan perkataan-perkataan para ulama Hanâbilah seperti Syaikh ‘Abd al-Qadir yang notabene seorang sunni bermadzhab Hanbali. Dalam pada ini asy-Sya’rani mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam Bahjah al-Asrâr tersebut adalah sisipan dan kepalsuan dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Adakah seorang wali Allah, seorang yang ‘arif dan alim berkeyakinan semacam ini?!

5.      Pernyataan beberapa orang yang menisbatkan dirinya kepada tarekat al-Qadiriyyah mengatakan bahwa seorang mursyid akan terpelihara dari segala kesalahan. Karenanya setiap ucapan dan tingkah laku seorang mursyid hendaklah menjadi panutan tanpa harus dibantah sedikitpun. Dalam pada ini sebagian mereka dalam menggambarkan Syaikh ‘Abd al-Qadir membuat sya’ir berbunyi:

إنّ لِشَيْخِيْ تَسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اسْمًا          #       كَسُمَى ذِي الْجَلاَلِ فِي اسْتِجَابِ الدّعَاءِ

“Sesungguhnya Syaikhku memiliki 99 nama, seperti nama Allah “Dzu al-Jalal” dalam mengabulkan setiap doa”.

Artinya menurut penulis bait syair ini Syaikh ‘Abd al-Qadir memiliki 99 nama seperti 99 nama Allah yang salah satunya mengabulkan doa-doa para hamba. Kandungan bait ini jelas berisikan tasybîh; penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya dan benar-benar merupakan kesesatan dan kekufuran.

Syaikh ‘Abd al-Qadir dan para wali Allah lainnya tidak akan mengatakan bahwa seorang wali Allah atau seorang mursyid selalu terpelihara dari kesalahan. Ini dapat kita lihat dari pernyataan beliau sendiri dalam kitab Âdâb al-Murîd:

    إذَا عَلِمَ الْمُرِيْدُ مِنْ الشّيْخِ خَطَأً فَلْيُنَبِّهْهُ، فَإنْ رَجَعَ فَذَاكَ الأمْرُ وَإلاّ فَلْيَتْرُكْ خَطَأَهُ وَلْيَتْبَعِ الشّرْعَ

    “Jika seorang murid mengetahui suatu kesalahan dari Syaikhnya maka ingatkanlah ia. Jika Syaikhnya tersebut kembali dari kesalahannya maka itulah yang diharapkan -ia dapat tetap bersamanya-. Namun bila Syaikh-nya tersebut tidak mau kembali maka tinggalkanlah kesalahannya dan ikutilah syara’”.

Simak pula perkataan Imam Ahmad ar-Rifa’i al-Kabir:

    سَلِّمْ لِلْقَوْمِ أحْوَالُهُمْ مَا لَمْ يُخَالِفُوا الشّرْعَ فَإنْ خَالَفُوا الشّرْعَ فَكُنْ مَعَ الشّرْع

    “Jangan engkau hirauhkan kaum sufi terhadap keadaan apapun yang ada pada diri mereka selama mereka tidak menyalahi syara’, namun jika mereka menyalahi syara’ maka ikutilah syara’ -jangan mengikuti mereka-”.

Dari beberapa pernyataan para ulama di atas dapat dipahami bahwa tidak seorang manusiapun yang dapat terbebas dari kesalahan dalam urusan agama, baik kesalahan kecil maupun besar. Inilah yang dimaksud dengan hadits nabi:

    مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ إلاّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكْ غَيْرَ رَسُوْلِ اللهِ

    “Tidak seorangpun dari kalian, kecuali setiap ucapannya ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah, selain Rasulullah; selalu benar”.

Dari pemahaman hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa seluruh manusia, dari mulai para sahabat nabi hingga mereka yang hidup di masa sekarang ini, tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan berbuat kesalahan dalam urusan agama. Kecuali Rasulullah, ia dijaga oleh Allah dari kemungkinan kesalahan tersebut. Contoh paling kongkrit, yang hal ini dijadikan alasan kuat oleh para ulama, adalah bahwa beberapa sahabat Rasulullah yang telah diberi kabar gembira akan masuk surga, jatuh dalam kesalahan. Namun hal ini tidak menafikan keutaman dan derajat mereka. Para sahabat tersebut adalah tokoh-tokoh tertinggi dalam derajat kewalian, artinya jauh lebih utama dari para wali Allah yang datang di kemudian hari.

Seperti sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab, seorang sahabat nabi yang dinyatakan oleh nabi sendiri selalu mendapat ilham dan memiliki firasat yang sangat kuat (nabi menyebutnya dengan muhaddats)[15]. Suatu hari ia berkata di hadapan para sahabat lain: “Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membuat harga yang terlalu mahal dalam urusan mas kawin, jika datang kepadaku berita seseorang yang melebihkan mas kawinnya di atas 400 dirham maka aku akan mengambilnya dan aku letakan di bait al-mâl (kas negara)”. Tiba tiba seorang perempuan berkata: “Wahai Amîrul Mu’minîn engkau tidak berhak melakukan itu. Allah berfirman: “Dan bila kalian telah memberikan mas kawin kepada mereka, maka janganlah kalian ambil darinya sedikitpun” QS. Al-Nisa’: 20. Kemudian sahabat ‘Umar naik kembali ke mimbar, seraya berkata di hadapan kaum muslimin: “Wahai manusia aku serahkan kepada kalian tentang harga-harga mas kawin kalian, perempuan ini benar dalam pendapatnya dan ‘Umar telah salah”.

Demikian pula yang terjadi di kalangan para ulama. Kemungkinan kesalahan dalam memberikan fatwa adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Dan bila salah seorang dari mereka terjatuh dalam kesalahan, maka klaim salah dari ulama yang lebih kuat pendapatnya adalah hal yang biasa terjadi. Karenanya, Imam al-Haramain dalam beberapa kitabnya seringkali menulis: “Ayahku berkata demikian, dan ini salah!!”. Padahal ayah beliau, bernama ‘Abdullah ibn Yusuf yang dikenal dengan sebutan Imam al-Juwaini, adalah seorang ulama terkemuka di kalangan madzhab Syafi’i. Bahkan, karena sangat agungnya keilmuan Imam al-Juwaini, sebagian ulama berkata jika setelah nabi Muhammad ada lagi seorang nabi maka al-Juwaini inilah yang berhak atas kenabian tersebut.

Dengan demikian pernyataan sebagain pengikut tarekat bahwa seorang mursyid selalu terpelihara dari segala kesalahan adalah sebuah kesesatan belaka. Pernyataan mereka ini jelas tanpa didasarkan kepada ilmu agama. Seperti sebagian mereka yang berkata bahwa seorang syeikh atau mursid mengetahui segala sesuatu yang diperbuat oleh muridnya, sekalipun mursid tersebut sedang di tempat tidurnya. Sebagian lainnya berkata bahwa seorang mursid mengetahui hal-hal yang gaib dan mengetahui segala sesuatu yang terlintas di dalam benak setiap muridnya. Na’udzu Billâh.

6.      Sebagian pengikut tarekat al-Qadiriyyah, juga beberapa pengikut tarekat lainnya  beranggapan bahwa bergabung dalam komunitas tarekat adalah suatu kewajiban. Pernyataan semacam ini jelas merupakan kesesatan. Ini sama juga dengan mewajibkan suatu perkara yang tidak wajib dalam Islam.

Benar, para ulama menyatakan bahwa tarekat adalah suatu yang baik. Walapun ia merupakan bid’ah atau sesuatu yang baharu; karena tidak pernah ada pada masa Rasulullah dan masa sahabatnya, namun ia merupakan bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik. Tujuan utama dari dirintisnya tarekat oleh para ulama sufi dan orang-orang saleh terdahulu adalah untuk mendorong meningkatkan nilai takwa kepada Allah. Para ulama empat madzhab sepakat bahwa bid’ah atau sesuatu yang baharu yang tidak ada di masa Rasulullah dan para sahabatnya terbagi kepada dua bagian.

Pertama; Bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik, yaitu seuatu yang baharu yang sejalan dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Kedua; Bid’ah sayyi’ah atau bid’ah yang bersebrangan dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Dalil yang menguatkan adanya pembagian bid’ah kepada dua bagian ini adalah sabda Rasulullah:

مَنْ سَنَّ فِي اْلإسْلاَمِ سُنّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أجُوْرِهِمْ شَىءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإسْلاَمِ سُنّةً سَيّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ مِنْ بَعْدِهِ بِهَا مِنْ غَيْرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهِمْ شَىءٌ (رَوَاهُ مُسْلِم).

“Barang siapa merintis dalam Islam akan suatu yang baik, maka bagi orang tersebut pahala dari apa yang ia perbuat dan pahala dari orang-orang yang mengikutinya sesudahnya, dengan tanpa berkurang sedikitpun dari pahala orang-orang tersebut. Dan barang siapa merintis dalam Islam sesuatu yang buruk, maka bagi orang tersebut dosa dari apa yang ia perbuat dan dosa dari orang-orang yang mengikutinya sesudahnya, dengan tanpa berkurang sedikitpun dari dosa orang-orang tersebut” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).

Contoh dari bid’ah hasanah sangat banyak, seperti; pembuatan titik-titik pada huruf huruf al-Qur’an dan harakat i’râb-nya, merayakan peringatan maulid nabi Muhammad, membuat mihrab-mihrab masjid dan lainnya. Termasuk dalam bid’ah hasanah ini adalah tarekat-tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh.

Dengan demikian kita tidak meragukan bahwa tarekat-tarekat seperti al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah, ar-Rifa’iyyah, as-Suhrawardiyyah, al-Jistiyyah, as-Sa’diyyah, asy-Syadziliyyah, al-Badawiyyah, ad-Dasuqiyyah, al-Maulawiyyah dan berbagai tarekat lainnya, tujuan dirintisnya adalah sesuatu yang baik dan masuk dalam pengertian bid’ah hasanah. Mereka yang merintis tarekat-tarekat tersebut adalah orang-orang saleh, ahli ilmu dan amal yang konsisten dalam menjalankan syari’at Rasulullah. Bila kemudian di belakang hari tarekat-tarekat tersebut dimasuki kesesatan-kesesatan maka hal itu tidak merusak asal kebolehan tarekat itu sendiri, hanya saja tentu yang harus dipermasalahkan sekaligus disingkirkan adalah penyimpangan-penyimpanganya, bukan tarekatnya.

Bergabung dengan salah satu tarekat yang ada bukan suatu kewajiban. Sebagian mereka yang mewajibkannya adalah pernyataan tanpa dasar. Pada hakekatnya, komitmen yang dituntut dari setiap orang muslim adalah agar selalu bertakwa, berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Islam, yaitu dengan mengerjakan segala yang diwajibkan dan menjauhi segala yang dilarang. Sementara itu, tarekat yang berisikan bacaan-bacaan dzikir dengan ditambah janji atau berbaiat kepada seorang mursyid untuk memegang teguh syari’at Islam tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas takwa. Artinya, tanpa bergabung dengan tarekat atau tidak, komitmen awal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada setiap hamba muslim adalah agar selalu menjaga nilai takwa dan meningkatkan kualitasnya dalam berbagai keadaan dan tempat. Kemudian bila dinyatakan bergabung dengan tarekat merupakan kewajiban, berarti sekian banyak orang dari sebelum bermunculannya tarekat-tarekat tersebut adalah orang-orang yang berdosa. Jelas, klaim semacam ini tanpa dasar.

Di dalam beberapa kitab tulisan para ulama pengikut tarekat al-Naqsyabandiyyah dan para ulama lainnya telah dijelaskan bahwa bergabung dengan tarekat bukan merupakan kewajiban. Di antaranya dalam kitab al-Sa’âdah al-Abadiyyah Fimâ Jâ’a Bihi an-Naqsyabandiyyah karya Syaikh ‘Abd al-Majid Ibn Muhammad al-Khani al-Khalidi an-Naqsyabandi dan kitab al-Hadîqah an-Nadiyyah Wa al-Bahjah al-Khâlidiyyah karya Syaikh al-‘Allâmah Muhammad Ibn Sulaiman al-Baghdadi al-Hanafi; salah seorang khalifah tarekat an-Naqsyabandiyyah. Dalam kitab yang terakhir disebut dinyatakan bahwa Ibn Hajar menyebutkan dalam kumpulan fatwa-fatwa besarnya beberapa gambaran dari tatacara mengambilan janji oleh para Syaikh dari tangan seorang yang bertaubat, serta disebutkan pula bahwa mengambil janji di hadapan seorang mursyid atau di atas tangan seorang Syaikh yang saleh adalah sesuatu yang baik dan dicintai

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

An-Najah Menawarkan Ajidar Matsya LC Dialog Terbuka Tentang Devenisi Ahlusunnah Wal Jama'ah.


Asslamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Terkait dengan banyak vidio bapak Ajidar Matsyah LC yang sangat kontroversi baru-baru ini , dalam banyak vidio yang menyebar beliau merasa keberatan tentang devinisi Ahlusunnah adalah pengikut Imam Asy'ari Dan Maturidi.

Dalam banyak vidio yang menyebar di Dumay beliau lagi-lagi keberatan dengan pengertian tersebut bahkan membuat kata-kata Safsatah (argumen seolah-olah benar). Bukan hanya itu beliau juga mengatakan orang bermazhab Syafii Di Aceh masih belum cukup referensinya dan mazhab kita ini cuma mazhab kebiasaan.

Yang paling disayangkan paparan Safsatah atau seolah-olah benar di atas beliau sampaikan di atas mimbar khutbah dan dihadapan banyak orang awam mengakibatkan keresahan dikalangan masyarakat.

Maka dari pihak kami Grup An-Najah  pencinta Ahlusunnah Wal Jamaah Wal ulama mengajak yang bersangkutan untuk dialog ilmiah tentang :

1. Devenisi Aqidah Ahlusunnah Wal Jamaah

2.Khanduri Kematian

Mungkin dua judul ini sangat cocok dibicarakan karena ini sedang dibutuhkan oleh umat tentang dalil-dalil ilmiahnya

Bagi bapak Ajidar Matsyah LC yang mulia bisa menghubungi kami :
082365267374 (Tgk.Yusrizal Aswaja)
082236528601 (Tgk.Razali Al Faruqi)
Waktu Dan Tempat bisa ditentukan selanjutnya setelah bapak menerima tawaran kami ini.

Wassalam Wr Wb
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Ajidar Matsyah:Pengikut Asya'ri Dan Maturidi Bukan Ahlusunnah Wal Jama'ah



Kerancuan Pemikiran Ajidar Matsyah LC
Dalam Salah Satu Vidio Yang diunggah Oleh Akun IKAT dan Beberapa Vidio yang beredar di dunia maya bahwa sosok AM (Ajidar Matsyah) patut di

Dalam vidio-vidio tersebut ia mengatakan beberapa pernyataan ia mengatakan pengertian dan ta'rif dari Ahlusunnah Wal Jamaah adalah bukan pengikut Asyari dan Maturidi.
Ia juga menggugat tongkat yang hukumnya sunat sebagaimana terdapat dalam hadis shahih dan menentang keputusan muzakarah ulama Aceh beberapa waktu kemarin.

Pernyataan ini sangat bertentang dengan  defenisi yang telah ditulis oleh ulama pendahulu salafu shalih seperti dalam kitab  Itihaf Isadatul Muttaqin syarah Ihya Ulumiddin, Tuhfatul Murid,Kifayatul Awam DLL.

Sebenarnya Pengertian Ahlusunnah Wal Jamaah adalah pengikut Asyari dan Maturidi  dan bagaimana dengan Syafii lahir lebih duluan dari dua imam tersebut, maka kedua Imam ini mengakui dengan Aqidah Imam Syafii sama dengan Aqidah mereka.

Berarti pengertian yang tertulis dari pada ulama pendahulu sangat shahih dan tidak bisa diganggu gugat oleh AJidar Matsyah, ia hanya seorang pelajar kemarin belum bisa memahami kitab ulama dan hadis rasul saw dengan pemahaman sebenarnya.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Suara Bocah Suriah Ini Bikin Juri Tercengan Saat Membaca Ayat Suci Al Qur’an

Islamic - Dua juri talent show berkaca-kaca saat seorang bocah Suriah membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan salah seorang juri sampai menunduk dan mengusap matanya berkali-kali.

Bocah asal Suriah itu membaca Surat At Takwir. Dengan tartil dan penuh penghayatan ia membaca ayat demi ayat. Saat ia berhenti pada ayat 9, seorang juri yang sejak tadi berkaca-kaca kemudian mengusap matanya. Sementara juri yang lain berkomentar takjub. “Masya Allah… shadaqallahul adhiim… ahsan, ahsan.”

Lalu bocah itu membaca surat Qaf dan membuat juri yang tadinya berkomentar takjub, turut berkaca-kaca matanya.

Anda juga merasakan getaran tilawah bocah Suriah tersebut? Ini videonya:

Sumber: .tarbiyah.net
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tahapan Mendidik Anak Ala Rasulullah

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisaa’ : 9)

Sahabat Ummi, setiap orangtua mendambakan anak yang shaleh, cerdas, dan membanggakan, akan tetapi keinginan dan upaya yang dilakukan sering kali belum selaras.

Kita sebagai orangtua lebih banyak mengandalkan guru maupun tempat les untuk mencerdaskan anak-anak kita, padahal kunci cerdasnya anak, justru ada di rumah, ada pada kedua orangtua!

Orangtua perlu memahami bagaimana tahapan mendidik anak sesuai dengan usianya. Berikut ini adalah tahapan cara mendidik anak ala Rasulullah yang insya Allah dapat mencerdaskan anak-anak kita, baik secara intelektual maupun emosional.

1.  Mendidik anak usia 0 hingga 6 tahun: Perlakukan anak sebagai raja

Anak usia 0-6 tahun merupakan usia emas atau Golden Age.  Anak pada usia ini akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat.  Percepatan tumbuh kembang ini bisa dirangsang dengan mainan.  Mainan akan sangat membantu agar anak menjadi anak yang cerdas.
Sedangkan Rasulullah sendiri menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak kita yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun.  Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak merupakan pola mendidik yang baik.

Zona merah: Jangan marah-marah! Jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak, pahami bahwa anak masih kecil dan yang berkembang adalah otak kanannya.

Jadikan anak merasa aman, merasa dilindungi dan nyaman bersama orangtua.  Ketika anak nakal maka janganlah membiasakan untuk dipukul supaya anak mau menurut.  Memukul ataupun memarahi anak pada usia ini bukanlah cara yang tepat.  Berikanlah kesempatan pada anak agar merasakan kebahagiaan yang berkualitas dimasa kecil.



2.  Mendidik anak usia 7 hingga 14 tahun: Perlakukan anak sebagai tawanan perang/ pembantu

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”     (HR. Abu Dawud)

Perkenalkanlah anak dengan tanggung jawab dan kedisiplinan pada usia ini.  Kita bisa melatihnya mulai dari memisahkan tempat tidurnya dan mendirikan shalat 5 waktu.

Pukullah anak ketika anak tidak mau mendirikan shalat.  Tapi bukan pukulan yang menyakitkan atau pukulan di kepalanya.  Atau kita bisa membuat sanksi-sanksi ketika anak melanggar, namun sanksi yang diberikan usahakan sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua.

Zona kuning: Zona hati-hati dan waspada. Latih anak mandiri mengurus dirinya sendiri, missal cuci piring, cuci baju, menyetrika. Pelajaran mandiri ini akan bermanfaat banyak di masa depannya, untuk kecerdasan emosionalnya.


3.  Mendidik anak usia 15 hingga 21 tahun: Perlakukan anak seperti sahabat

Anak pada usia ini adalah usia dimana anak akan cenderung memberontak.  Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak.  Fungsinya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika anak berbuat kesalahan, karena kita dekat dengan anak.

Zona hijau: sudah boleh jalan. Anak sudah bisa dilepas mandiri dan menjadi duta keluarga.

Timbulkan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua namun bisa bersikap seperti sahabat setia.  Sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati anak.
Masa ini adalah masa pubertas untuk anak-anak.

Jangan sampai ketika anak-anak punya masalah namun mereka cari solusi dan cari curhat ke tempat orang lain.  Didiklah anak dengan membangun persahabatan meskipun kita adalah orangtuanya, agar anak tidak merasa bahwa kita adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu tentang permasalahan dirinya.

Para orangtua juga dilarang untuk memarahi dan menghardik anak di hadapan adik-adiknya ataupun di depan kakak-kakaknya.  Maksudnya supaya harga dirinya tidak jatuh sehingga anak tidak merasa rendah diri. Jalinlah pendekatan yang baik kepada anak.

Semoga bermanfaat.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Beginilah Doa Malaikat Terhadap Orang yang Pelit

Ada kalanya malaikat berdoa untuk kebaikan, namun terkadang mereka mendoakan hal yang buruk atas manusia yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW.
Islamic - Ternyata, para malaikat juga memiliki doa khusus yang ditujukan kepada orang yang pelit, kikir atau bakhil ini. Bukan kebaikan, namun keburukan terhadap diri dan harta yang kita miliki. Seperti apa doanya?

Malaikat merupakan makhluk yang memiliki kedudukan dekat sang pencipta. Karena ketaatan mereka kepada Allah, maka doa makhluk yang diciptakan dari cahaya terrsebut akan lebih cepat dihijabah.

Ternyata, diam-diam malaikat turut serta mendoakan manusia. Ada kalanya mereka berdoa untuk kebaikan, namun terkadang mereka mendoakan hal yang buruk atas manusia yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW. Termasuk doa untuk orang-orang pelit menginfakkan harta menolong sesama.

Dalam hadist riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

'Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.' Sedangkan yang lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.'" HR. Al-Bukhari, kitab az-Zakaah, bab Qauluhu Ta’aalaa: faman A’tha wat taqaa… (no. 1442) dan Muslim, kitab az-Zakaah bab Fil Munfiq wal Mumsik (no. 1010).

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Silahkan Downloud Vidio Pengajian TASTAFI Abu MUDI Disini


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

newer posts back home
 
Mudimesra

Link's Partners

Mudimesra
Support : Creating Website | Free Template | Radio Aceh
Copyright © 2014. Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger