Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah: Hukum-Fiqh | Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al-Aziziyah!


Headlines News :
Powered by Blogger.
Mudimesra

Kabar Ads

http://www.al-aziziyah.org/p/alquran-mp3.html

Showing posts with label Hukum-Fiqh. Show all posts
Showing posts with label Hukum-Fiqh. Show all posts

HUJJAH ILMIAH SEPUTAR SYA'BAN Oleh : Buya Yahya Pengasuh LPD Al-Bahjah – Cirebon

 
Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.
Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang sangat perlu diperhatikan oleh kaum muslimin. Dan pada bulan ini juga ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh para Salafuna sholih untuk mempersiapkan dan melatih diri dengan memperbanyak ibadah dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Diantara amalan tersebut adalah :

1. Puasa

Puasa di bulan Sya’ban itu termasuk disunnahkan karena untuk melatih agar nanti ketika Ramadhan tiba sudah terbiasa dengan puasa. Selain itu bulan ini juga banyak dilalaikan oleh manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Namun kita tidak perlu mengkhususkan hari tertentu dari bulan Sya’ban untuk berpuasa karena tidak ada hadits yang benar secara khusus menentukan hari tertentu untuk puasa.Yang ada adalah riwayat yang menjelaskan anjuran puasa bulan Sya’ban secara umum.

2. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban

Jumhur ulama berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban hukumnya adalah sunnah baik dengan cara beribadah secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dan kita boleh mengisinya dengan bermacam-macam ibadah seperti puasa, sholat dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan para Ulama dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.

A. Keutamaan Bulan Sya’ban

Disebutkan dalam beberapa hadits Shohih tentang keutamaan Bulan Sya’ban yang sungguh sangat diperhatikan oleh Nabi Muhammad SAW.
1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata : “Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
2. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Khuzaimah dan beliau katakan hadits ini adalah shohih

عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ, وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku bertanya : Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu antara Rojab dan Ramadhan, di bulan itu diangkat amal-amal kepada Alloh Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa”.

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim :

عَنْ عَائِشَةَ لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم– يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Dari Sayyidah A’isyah ra beliau berkata : Rasulullah ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam tidak biasa berpuasa satu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Imam Bukhari no. 1970 dan Imam Muslim no. 1156)
Dalam lafazh Imam Muslim menyebutkan riwayat dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyAllohu ‘anha dengan sedikit berbeda.

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Nabi ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan sya’ban” (HR. Imam Muslim no. 1156)
Dari Riwayat-riwayat tersebut di atas sungguh sangat jelas bahwa Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan Bulan Sya’ban dengan berpuasa.

B. Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah banyak hadits dari Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shohih yaitu :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ فَقَالَ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كِلَبٍ

Dari Sayyidah Aisyah ra beliau berkata : “Aku kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam,. Kemudian aku keluar dan aku menemukan beliau di pemakaman Baqi’ Al-Ghorqod” maka beliau bersabda “Apakah engkau khawatir Alloh dan Rasulnya akan menyia-nyiakanmu?” Kemudian aku berkata : “Tidak wahai Rasulullah, sungguh aku telah mengira engkau telah mendatangi sebagian isteri-isterimu”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Alloh menyeru hambanya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuninya dengan pengampunan yang lebih banyak dari bilangan bulu domba Bani Kilab (maksudnya pengampunan yang sangat banyak)”. (HR. Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shohih)

Domba Bani Kilab adalah gerombolan Domba terbanyak di Jazirah Arab di waktu itu.
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَ صُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ ! أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ ! أَلاَ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ ! أَلاَ كَذَا… أَلاَ كَذَا… حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ

Dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib bahwasanya Rasulullah bersabda, “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya karena Alloh menyeru hambanya di saat tenggelamnya matahari, lalu berfirman, ‘Adakah yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rizki kepada-Ku, niscaya akan memberinya rizki, Adakah yang sakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Alloh akan mengkabul hajat hambanya yang memohon pada waktu itu)…. Adakah yang demikian…. Sampai terbit fajar.”

3. Hadits yang diriwayatkan Imam Abu Nu’aim dan dikatakan shohih oleh Imam Ibnu Hibban begitu juga Imam Thabrani berkata semua perowinya adalah orang yang dapat dipercaya (Tsiqah) :

عَنْ مُعَاذٍ بِنْ جَبَلٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Dari Sayyidina Mu’ad Bin Jabal, dari Nabi SAW beliau berkata : “Alloh Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Alloh mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

4. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. :

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو منافق.

Dari Abu Musa Al-asy’ari r.a. , dari Rasulullah SAW, beliau berkata :
“ Sesungguhnya Allah SWT melihat kepada hambaNya di malam nishfu Sya’ban maka Allah SWT mengampuni semua makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang munafik “

C. KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG MALAM NISHFU SYA’BAN

1. Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hambali berkata dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif hal 199 – 201 :
وليلة النصف من شعبان كان التابعون من أهل الشام كخالد بن معدان و مكحول ولقمان بن عامر وغيرهم يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة ،وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها ، … ((لطائف المعارف)) ص199-201

“Dan malan nishfu sya’ban adalah malam yang para tabi’in negara syam seperti kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman Bin Amir dan yang lainnya mereka mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dan mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam tersebut. Dan dari mereka lah umat islam mengambil faham keutamaannya dan keagungannya.”
Dan ibnu hajar melanjutkan :

واختلف علماء أهل الشام في صفة إحيائها على قولين: أحدهما: أنه يستحب إحياؤها جماعة في المسجد. كان خالد بن معدان ولقمان بن عامر وغيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم ويتبخرون ويكتحلون ويقومون في المسجد ليلتهم تلك. ووافقهم إسحاق بن راهوية في ذلك وقال في قيامها في المساجد جماعة: ليس ذلك ببدعة.

Ulama Syam berbeda pendapat dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban :
Pendapat Pertama : Disunnahkan menghidupkannya secara berjamaah di masjid. Dan para ulama tersebut di atas mereka mengenakan pakaian yang paling bagus yang mereka miliki serta membakar kayu harum dan menggunakan celak. Mereka melakukan sholat di masjid pada malam itu. Dan pendapat ini di setujui oleh Ishaq Ibnu Rohawih dan beliau berkata ”Ini bukanlah sebuah bid’ah”

وقال الشافعي: بلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال: ليلة الجمعة، والعيدين، وأول رجب، ونصف شعبان

Berkata Imam Syafi’i : Telah sampai berita kepada kami bahwa doa akan di Kabul di lima malam, malam jum’at, malam 2 hari raya, dan Awal Rajab Dan Nifsu Sya’ban.

2. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkirotul Khufadz juz 4 hal 1328 disaat menjelakan biografinya Ibnu Asyakir beliau katakana :

أبو القاسم بن عساكر، صاحب التصانيف ….قال ولده المحدِّث بهاء الدين القاسم: كان أبي رحمه الله مواظباً على الجماعة والتلاوة، يَختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية – من جامع دمشق -،وكان كثير النوافل والأذكار، ويُحيي ليلة النصف – من شعبان – والعيد بالصلاة والذكر

“Ibnu Asyakir adalah seorang hafidz muhaddits Syam yang mempunyai banyak karangan, berkata putra Ibnu Asyakir, yaitu Baha Uddin Al-Qosim berkata “Ayahku (Ibnu Asyakir) selalu berjamaah serta membaca Al-Qur’an dan hatam setiap jum’at dan setiap hari di bulan ramadhan dan selalu ber i’tikaf di menara Asyarqiyah di Damaskus. Beliau selalu memperbanyak sholat sunnah dan dzikir serta menghidupkan malam Nishfu sya’ban dan malam ‘id dengan sholat dan dzikir .

3. Berkata Imam Ibnu Haj dalam kitabnya Al-Madkhol juz 1 hal 257 :

وبالجملة فهذه الليلة وإن لم تكن ليلة القدر فلها فضل عظيم وخير جسم، وكان السلف رضي الله عنهم يعظّمونها ويشمّرون لها قبل إتيانها، فما تأتيهم إلا وهم متأهّبون للقائها والقيام بحرمتها، على ما قد عُلم من احترامهم للشعائر… ))

Fasl malam nishfu sya’ban Kesimpulannya “Malam Nishfu sya’ban meskipun bukan malam lailatul qodar akan tetapi adalah malam yang mempunyai keutamaan yang sangat agung dan kebaikan yang sangat banyak. Ulama salaf mengagungkannya serta bersungguh-sungguh dalam menyambut kedatangannnya. Dan tidak datang malam Nishfu sya’ban kepada mereka kecuali mereka sudah siap menghidupkannya seperti yang telah diketahui dari mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang mengagungkan syiar Alloh

4. Berkata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa nya, (Ibnu Taimiyah adalah tokoh kebanggaan orang-orang yang mengingkari kegiatan di Malam Nishfu Sya’ban). Ibnu Taimiyah berfatwa :

إذا صلى الإنسان ليلة النَّصف وحده أو في جماعة خاصة كما كان يفعل طوائف من المسلمين فهو : حسن. ((مجموع الفتاوى)) ج 23 ص131

“Apabila ada orang sholat di malam Nishfu Sya’ban dengan sendirian atau berjama’ah sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin itu merupakan hal yang baik”.

وأما ليلة النصف فقد روي في فضلها أحاديث وآثار ،ونقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها ، فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجة فلا يُنْكَر مثل هذا ، أمَّا الصلاة جماعة فهذا مبني على قاعدة عامة في الاجتماع على الطاعات والعبادات…

Beliau juga berkata dalam kitab yang sama hal 132 “Adapun keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits dan atsar (perkataan para sahabat dan tabi’in) dan sejumlah dari ulama salaf sesungguhnya mereka menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan sholat. Adapun sholatnya seseorang dengan sendirian pada malam Nishfu Sya’ban cara seperti itu telah dilakukan oleh ulama salaf dan dengan hujjah-hujjah (dalil-dalil) yang jelas maka hal ini tidak boleh di ingkari. Adapun sholat jamaah yang mereka lakukan di malam Nishfu Sya’ban ini berdasarkan atas qoidah umum bahwa dianjurkan berkumpul dalam melakukan ketaatan dan ibadah.
Ibnu Taymiyah menjelaskan dalam kitab Iqtidho Shirotol Mustaqim hal 266 :

ليلة النصف من شعبان. فقد روي في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي: أنها ليلة مُفضَّلة. وأن من السلف من كان يخصّها بالصلاة فيها، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة. ومن العلماء من السلف، من أهل المدينة وغيرهم من الخلف: من أنكر فضلها، وطعن في الأحاديث الواردة فيها، كحديث:{ إن الله يغفر فيها لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب} وقال: لا فرق بينها وبين غيرها. لكن الذي عليه كثير من أهل العلم؛ أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم: على تفضيلها، وعليه يدل نص أحمد، لتعدد الأحاديث الواردة فيها، وما يصدق ذلك من الآثار السلفيَّة، وقد روي بعض فضائلها في المسانيد والسنن. وإن كان وضع فيها أشياء أُخر ))

Malam Nishfu sya’ban keutamaannya telah diriwayatkan dari banyak hadits-hadits dan atsar (perkataan sahabat dan tabi’in) yang kesimpulannya, “Malam Nishfu sya’ban adalah malam yang diutamakan”. Dan sebagian ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan melakukan ibadah sholat. Dan berpuasa di bulan Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits yang shohih. Ada sebagian ulama salaf dari penduduk kota madinah dan juga sebagian ulama kholaf yang mengingkarinya dan berusaha mencederai hadits-hadits yang menunjukan keutamaannya seperti hadits : “Sesungguhnya Alloh mengampuni di malam Nishfu Sya’ban terhadap dosa dengan pengampunan yang lebih banyak dari bulu domba bani kilab”.

Setelah Mereka yang mencederai hadits tersebut akhirnya mereka berkata bahwa tidak ada perbedaan diantara bulan sya’ban dan bulan lainnya. Akan tetapi kebanyakan ulama-ulama salaf telah mengutamakan (menghidupkan) malam Nishfu Sya’ban sebagaimana nash riwayat yang jelas dari Imam Ahmad karena banyaknya hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaannya dan juga karena banyaknya perkataan-perkataan dari para ulama salaf yang tersebut dalam kitab musnad-musnad dan sunan-sunan. Meskipun memang ada beberapa riwayat yang lain yang dipalsukan.”

Kesimpulan :

Bagi siapapun yang ingin menyampaikan kebenaran harus jujur dan amanat karena ada ancaman hukuman berat dari Alloh SWT bagi pengkhianat-pengkhianat. Ada sebagian kaum muslimin yang mendustakan semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan Bulan Sya’ban dan Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban. Sungguh dikhawatirkan mereka Akan dihukum oleh Alloh karena telah berdusta atas Nabi Muhammad SAW.

Dan memang ada beberapa riwayat palsu tentang keutamaan menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban. Akan tetapi bagi orang yang takut kepada Alloh SWT haruslah jujur, yang palsu harus dibuang akan tetapi jika ada riwayat yang telah dianggap benar (shohih) oleh Ahli Hadits tidak ada bagi kita kecuali menginshafi dan menerimanya. Bahkan jika seandainya tidak ada riwayat yang benar dan hanya ada yang dhoif hal tersebut oleh para ulama masih bisa digunakan untuk memacu amal baik dengan syarat-syaratnya. Apalagi sudah terbukti ada beberapa ahli hadits yang menghukumi keshohihanya.

Dan telah disebutkan perkataan sebagian dari ulama-ulama yang menyeru untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan dzikir sholat dan lain-lain. Maka jika ada orang di akhir zaman ini yang dengan lantang berkata bahwa ulama terdahulu tidak pernah menghimbau menghidupkan malam Nishfu Sya’ban lalu mereka katakan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah bid’ah, maka orang tersebut adalah salah satu dari dua.

Pertama ; mereka adalah orang yang tidak mengetahui para ulama salaf. Jika demikian adanya orang-orang tersebut tidak perlu di ikuti karena sempitnya wawasan tentang ulama salaf. Bahkan Dia telah kurang ajar kepada ulama terdahulu.
Kedua ; mereka telah mengetahui apa yang telah disebutkan oleh para ulama salaf di atas hanya karena kecurangan mereka, mereka sembunyikan kebenaran ini karena menuruti hawa nafsu. Dan kita pun tidak perlu mengikuti orang yang mengikuti hawa nafsu.
Dan bagi kita adalah tidak ada pilihan lain kecuali “Mengikuti ulama-ulama yang menghimbau dan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban”.
Cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban adalah dengan memperbanyak amal-amal yang diajarkan oleh Rosulullah SAW seperti melakukan sholat sunnah hajat, sholat sunnah tasbih, sholat sunnah witir atau dengan bersholawat, berdzikir, beristighfar dan membaca Al-Qur’an atau membaca ilmu yang menjadikan kita semakin dekat kepada Alloh SWT.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bolehkah Mencuri koneksi Wi-Fi ?

Pertanyaan dan jawaban ini dikutip dari Departemen Fatwa Umum Yordania terkait dengan adab Islam dalam menggunakan teknologi modern Wi-Fi.
Pertanyaan: Apa hukumnya menggunakan jaringan Wi-fi tanpa permisi dari pemiliknya? Apakah hal-hal, seperti aplikasi, file, dll, yang diunduh dari jaringan ini dianggap haram dan sehingga harus dihapus?
Jawaban: Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Menggunakan langganan internet berbayar adalah hak bagi pelanggannya saja. Oleh karena itu, tidak ada satupun yang boleh menggunakannya tanpa izin pemiliknya, sebagaimana yang diindikasi dari sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam khutbah pada Haji wada’ di hari Raya Qurban di Mina:
“Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram/dilindungi, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini.” [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]. Beliau juga bersabda: “…. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan kerelaan pemiliknya yang telah memberikannya dengan senang hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.” [Musnad Al-Imam Ahmad]
Oleh karena itu, izin dari pelanggan [Wi-Fi] harus dicari sebelum menggunakan Wi-Fi-nya, bahkan jika menggunakannya tidak merugikan pemiliknya. Namun, tidak diproteksipassword bukan berarti memberikan orang hak untuk menggunakan Wi-Fi seseorang karena mungkin saja ia lupa untuk menguncinya atau tanpa sengaja membiarkannya terakses siapa saja, dan seorang Muslim sejati adalah seseorang yang menghindari hal-hal yang syubhat.
Adapun terkait materi yang telah diunduh, menghapusnya bukan sebuah kompensasi bagi pemilik jaringan. Oleh sebab itu, melakukan hal itu bukanlah perkara yang wajib. Tetapi, diperintahkan untuk memberikan uang kompensasi bagi pemilik jaringan atau meminta maaf atau kerelaannya agar bebas dari kewajibannya.
Kami ingin menekankan di sini bahwa diperbolehkan untuk menggunakan dan mengunduh dari jaringan wireless yang di set up di tempat-tempat umum karena itu disediakan dan terbuka untuk umum. Wallahu a’lam. sumber : arrahmah
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Menyewa Pembaca Al-Quran Di Kuburan Adalah Sunnah



Link Dasar : http://lbm.mudimesra.com

Bolehkah Meyewa Seseorang Untuk Membaca Al-Quran di Kuburan ?

Diskipsi Masalah :
Kebiasaan masyararakat yang Ahlusunnah wal Jamaah telah turun-temurun jika ada keluarganya yang meninggal dunia mereka menyewa orang membaca al-Quran hal ini telah biasa dilakukan sejak lama akan tetapi ada sekelompok orang sekarang bersikap usil (wahabi atau pengikut Abdul Wahab). Mereka melarang membaca al-Quran tersebut bahkan mengatakan bid’ah serta pelakunya akan masuk neraka, vonis model ini sangatlah tidak bijak seolah-olah selain dari kelompok mereka tidak akan masuk surga sama sekali dan hanya merekalah yang memilki sugra itu, padahal hukum membaca al-Quran boleh kapan saja dan dimana saja.

Pertanyaan :
Bolehkan menyewa pembaca al-Quran di kuburan ?

Jawaban :
Boleh menyewanya dan hukum membaca al-quran dikuburan adalah sunat seperti ditempat-tempat yang lainnya.

Referensi:
Fathul Mu’in juz 3 hal. 112-113 (Cet. Haramain)


قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الاستئجار لقراءة القرآن عند القبر و مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها

Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwani Wal ‘Ubady juz 6 hal. 180-181 (Cetakan Beirut)

وَيَصِحُّ الِاسْتِئْجَارُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ بِمِثْلِ مَا حَصَلَ مِنْ الْأَجْرِ لَهُ أَوْ بِغَيْرِهِ عَقِبَهَا عَيَّنَ زَمَانًا أَوْ مَكَانًا أَوْ لَا .
حاشية الشرواني
(قَوْلُهُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ إلَخْ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالرَّوْضِ مَعَ شَرْحِهِ (فَرْعٌ) الْإِجَارَةُ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ مُدَّةً مَعْلُومَةً أَوْ قَدْرًا مَعْلُومًا جَائِزَةٌ لِلِانْتِفَاعِ بِنُزُولِ الرَّحْمَةِ حَيْثُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَكُونُ الْمَيِّتُ كَالْحَيِّ الْحَاضِرِ سَوَاءٌ أَعْقَبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لَهُ أَوْ جَعَلَ أَجْرَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَمْ لَا فَتَعُودُ مَنْفَعَةُ الْقِرَاءَةِ إلَى الْمَيِّتِ فِي ذَلِكَ وَلِأَنَّ الدُّعَاءَ يَلْحَقُهُ وَهُوَ بَعْدَهَا أَقْرَبُ إجَابَةً وَأَكْثَرُ بَرَكَةً وَلِأَنَّهُ إذَا جَعَلَ أَجْرَهُ الْحَاصِلَ بِقِرَاءَتِهِ لِلْمَيِّتِ فَهُوَ دُعَاءٌ بِحُصُولِ الْأَجْرِ لَهُ فَيَنْتَفِعُ بِهِ فَقَوْلُ الشَّافِعِيِّ إنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ إلَيْهِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ اهـ.(قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ إلَخْ) أَيْ لِلْمَيِّتِ أَوْ الْمُسْتَأْجِرِ اهـ نِهَايَةٌ (قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ) عَطْفٌ عَلَى عِنْدَ الْقَبْرِ وَكَذَا قَوْلُهُ بَعْدُ أَوْ بِحَضْرَةِ الْمُسْتَأْجِرِ أَيْ أَوْ عِنْدَ غَيْرِ الْقَبْرِ مَعَ الدُّعَاءِ وَ (قَوْلُهُ لَهُ) أَيْ لِلْقَارِئِ مُتَعَلِّقٌ بِحَصَلَ وَ (قَوْلُهُ أَوْ بِغَيْرِهِ) عَطْفٌ عَلَى بِمِثْلِ أَيْ كَالْمَغْفِرَةِ رَشِيدِيٌّ وَسَمِّ (قَوْلُهُ أَوْ بِغَيْرِهِ) يَنْبَغِي أَنْ يُعَيِّنَ لَهُ لِيَصِحَّ الِاسْتِئْجَارُ وَتُرْفَعُ الْجَهَالَةُ اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يُقَالَ الدُّعَاءُ هُنَا غَيْرُ مَعْقُودٍ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ وَالدُّعَاءُ تَابِعٌ وَلَعَلَّ هَذَا أَوْجَهُ نَعَمْ فِي قَوْلِهِ وَأُلْحِقَ بِهَا إلَخْ يَنْبَغِي تَعْيِينُ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ؛ لِأَنَّهُ الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ اهـ سَيِّدُ عُمَر
حاشية ابن قاسم العبادي
(قَوْلُهُ عِنْدَ الْقَبْرِ إلَخْ) عِبَارَةُ شَرْحِ الرَّوْضِ سَوَاءٌ أَيْ فِي جَوَازِ الْإِجَارَةِ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ أَعْقَبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لَهُ أَوْ جَعَلَ أَجْرَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَمْ لَا اهـ (قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ) عَطْفٌ عَلَى عِنْدَ الْقَبْرِ وَكَذَا قَوْلُهُ بَعْدُ أَوْ بِحَضْرَةِ الْمُسْتَأْجِرِ ش


Wallahu A'lam Bisshawab.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

HUKUM MINYAK WANGI BERALKOHOL

Buya Yahya Menjawab)
Assalamu’alaikum Buya, ma’af mau Tanya bagaimana hukumnya menggunakan wangi-wangian yang mengandung Alkohol, Etanol ,dsb ? terima kasih.
JAWABAN :
Wa’alaikumsalam Wr.Wb
Saudariku Maila yang semoga senantiasa dalam rahmat Allah SWT, amiin.
Alkhohol adalah roh atau inti khomer yang di haramkan oleh Allah swt. Jadi hukum yang berlaku untuk khomer juga berlaku untuk alkhohol, hukumnya yaitu mutlaq tidak boleh ) haram) di konsumsi sebagai makanan dan minuman baik banyak atau sedikit. Maka hukumnya tetap haram jika ada makanan atau minuman atau untuk campuran obat. Dan obat atau apapun yang ada kandungan alkhoholnya walaupun sangat sedikit seperti 1 % atau 0,5 % tetap hukunya haram.
Dan yang anda tanyakan adalah penggunakan di selain yang kami sebut di atas. Seperti untuk campuran minyak wangi atau yang lainya yang di gunakan untuk kulit atau baju kita.
Maka hal itu masuk pembahasan yang lain yaitu masalah najis tidaknya khomer dan alkhohol dalam hal penggunakan dikulit badan atau di baju. Dalam hal ini para ulama tidak sepakat pada satu kata tentang kenajisannya. Jumhur ulama atau mayoritas ulama mengatakan bahwa khomer dan alkhohol adalah najis hakiki , “ hissian wa maknawiyan “ ( lahir dan batin ) artinya ia najis seperti najisnya darah dan bangkai. Tidak sah sholat seseorang yang baju ,badan atau tempat sholatnya terkena alkhohol jika tidak di sucikan terlebih dahulu.
Akan tetapi ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa najisnya khomer dan alkhohol adalah najis maknawi alias najis batin,yakni haram di minum dan dimakan tetapi tidak najis jika dipakai untuk kulit, badan dan baju. Dan sah sholatnya orang yang baju dan badannya terkena alkhohol. Diantara ulama yang berpendapat seperti ini adalah seorang mujtahid mutlaq Imam Robi’aturroi dan seorang mujtahid dalam madzhab imam syafi’I yaitu Imam Al-Muzani.
Jika demikian adanya, maka sebisa mungkin kita mengikuti jumhur ulama kecuali jika dihadapkan pada saat mendesak semisal ada orang hendak menyemprotkan minyak wangi be alkohol ke baju kita. Untuk menjaga perasaan orang yang berniat baik tersebut dengan mengambil pendapat Imam Muzani dengan membiarkan orang tersebut menyemprotkan minyak ke badan kita. Artinya dalam keadaan tertentu kita bisa mengambil pendapat Imam Muzani untuk kemaslahatan.
Wallahua’lam bisshowab ( sumber fb Buya yahya )
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Hukum Air Liur Yang Keluar Ketika Tidur


Salah satu hal yang tergolong dalam najis adalah muntah. Muntah merupakan cairan yang bercampur dengan isi perut yang keluar pada waktu tertentu. Berbeda halnya dengan air liur, cairan yang terdapat dalam mulut berfungsi untuk membantu melunakkan makanan yang dihukum ke dalam salah satu benda suci.
Terkait dengan penjelasan tersebut, bagaimanakah dalam pandangan fiqih tentang air liur yang meleleh ketika tidur, apakah najis sama seperti muntah karena ada kemungkinan bersumber dari perut atau malah suci karena sesuai dengan hukum umum air liur?
Para ulama menjelaskan bahwa air liur yang meleleh ketika tidur hukumnya suci walaupun kuning dan berbau tak sedap selama tidak pasti air itu keluar dari mai’ddah (perut). Kata kata “selama tidak pasti air itu keluar dari mai’ddah (perut)” terbenar dalam dua penjelesan. Pertama, telah pasti air itu keluar dari tempat lain yang bukan ma’iddah.
Kedua, dia ragu apakah keluarnya dari ma’iddah ataupun dari tempat yang lain, tapi pada kasus ini yang lebih ihtiyaz membersihkanya. Bila telah diyakini bersumber dari iddah maka air yang meleleh ketika tidur hukumnya adalah najis. Namun demikan walaupun telah dihukumi najis, bila keluarnya telah menjadi hal yang sering terjadi pada seseorang agama memberi kemudahan kepadanya, artinya air liur yang telah pasti keluar dari mai’ddah dianggap najis yang dimaafkan.

Syeh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in mengatakan:

وماء سائل من فم نائم، ولو نتنا أو أصفر، ما لم يتحقق أنه من معدة، إلا ممن ابتلي به فيعفى عنه وإن كثر.

Kesimpulan:
1.Bila telah yakin keluarnya bukan dari ma’iddah, maka hukumnya suci.
2.Ragu-ragu apakah dari ma’iddah atau bukan, hukumnya suci. Namun yang lebih ihtiyaz menyucikannya.
3.Yakin dari ma’iddah maka hukumnya najis dan dima’afkan bila telah sering terjadi.

Referensi: Kitab Fath al-Mu’in dalam Hasyiah I'anah al-Thalibin Juz. 1 Hal. 85.

Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber : lbm.mudimesra.com
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Jawaban Tentang Puasa Bulan Rajab

Saat ini kita sedang berada di bulan Rajab, salah satu bulan haram yang merupakan bulan yang mendapat kemuliaan dalam agama. Dalam bulan Rajab lumrahnya umat Islam memperbanyak ibadat kepada Allah apabalagi dua bulan lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba. Salah satu ibadat yang ramai dilakukan oleh kaum muslim adalah berpuasa. Namun saat ini sebagaimana amalan umat Islam yang lain, oleh sebagian kalangan yang menganggap diri mereka sebagai pengikut ulama terdahulu yang paling benar sering menyebarkan dakwah mereka bahwa puasa Rajab adalah perbuatan bid`ah.
Oleh karena itu kami mengutip sebuah tulisan dari page Abu Mudi yang menjawab tentang masalah kedudukan hukum puasa di bulan Rajab.
Puasa bulan Rajab
Sebelumnya perlu diketahui bahwa puasa sunat dapat dilaksanakan kapan saja kecuali dalam waktu-waktu yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari raya dan hari tasyriq.

Imam Nawawi mengatakan dalam syarah Muslim:

في هذه الاحاديث أنه يستحب أن لا يخلى شهرا من صيام وفيها أن صوم النفل غير مختص بزمان معين بل كل السنة صالحة له الا 
رمضان والعيد والتشريق

Dari semua hadits-hadits ini dipahami bahwa disunatkan untuk tidak mengosongkan satu bulan pun dari puasa dan juga dipahami bahwa puasa sunat tidak terkhusus dengan satu waktu tertentu bahkan puasa seluruh setahun patut untuk puasa sunat kecuali bulan Ramadhan, hari raya dan hari tasyriq. (lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim jilid 4 hal 295 Kairo, Dar Hadits th1994)

Berkenaan dengan beberapa hadits bulan Rajab, Imam As-Sayuthy pernah di tanyakan sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Hawi lil Fatawy :

مسألة : …في في حديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر ) ...وحديث ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ، ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات ) هل هذه الأحاديث موضوعة … ؟
الجواب : ليست هذه الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل أما الحديث الأول فأخرجه أبو الشيخ بن حيان في كتاب الصيام والأصبهاني وابن شاهين كلاهما في الترغيب والبيهقي وغيرهم قال الحافظ إبن حجر : وليس في اسناده من ينظر في حاله سوى منصور بن زائدة الأسدي …
وأما الحديث الثالث فأخرجه البيهقي في فضائل الأوقات وغيره وله طرق وشواهد ضعيفة لا تثبت إلا أنه يرتقي عن كونه موضوعاً

Masalah:
Tentang hadits riwayat Anas Rasulullah berkata: “sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang disebut dengan Rajab, airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpausa pada bulan Rajab niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut…

Dan hadist Ibnu Abbas, Rasulullah berkata : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab sehari niscaya seperti puasa sebulan. Barangsiapa yang berpuasa tujuh dari di bulan Rajab niscaya di kuncikan baginya tujuh pintu neraka Jahim. Barangsiapa berpuasa selama delapan hari niscaya dibukakan baginya delapan pintu surga. Barangsiapa berpuasa dalam bulan Rajab selama sepuluh hari niscaya digantikan keburukannya dengan kebaikan.

Apakah semua hadist ini maudhu`…?
Jawab:
Hadits-hadits ini bukanlah hadist maudhu` tetapi merupakan bahagian dari hadist dhaif yang boleh diriwayatkan pada fadhail a`mal (keutamaan beramal).

Hadist pertama di riwayatkan oleh Abu Syeikh bin Hayyan dalam kitab ash-Shiyam dan diriwayatkan oleh al-Ashbihany dan Ibnu Syahin dalam kitab Targhib dan juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dan lainya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalany berkata tidak ada pada sanadnya perawi yang perlu ditinjau keadaannya selain Manshur bin Zaidah al-Asady.

Adapun hadits yang ketiga maka diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dalam kitab Fadhail Auqat dan kitab yang lain. Hadits ini juga memiliki thariq dan syahid (pendukung) yang dhaif yang tidak stubut tetapi jauh dari keadaanya sebagai hadits maudhu` (hadits palsu). (Imam as-Sayuthy, Hawi lil Fatawy jilid 1 hal 339 Beirut, Dar Kutub Ilmiyah th 2000)

Pertanyaan serupa dengan jawaban serupa juga pernah ditanyakan kepada Imam Ibnu Hajar sebagaimana dituliskan dalam kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 86 Cet. Dar Fikr

Imam Baihaqy dalam kitab Fadhail al-Auqat beliau menerangkan beberapa hadits tentang kelebihan bulan Rajab pada bab Fi Fadh Syahr Rajab hal 19 Cet. Dar Kutub Ilmiyah dan juga dalam kitab Syu`ab al-Iman pada Fash Takhsish Syahr Rajab bi zikr)

Dalam satu hadits shahih riwayat Imam Muslim:
حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة حدثنا عبد الله بن نمير ح وحدثنا ابن نمير حدثنا أبى حدثنا عثمان بن حكيم الأنصارى قال سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب - ونحن يومئذ فى رجب - فقال سمعت ابن عباس - رضى الله عنهما - يقول كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم.

Telah menceritakan kepada kami Abubakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair (dalam riwayat lain), telah menceritakan kepada kami oleh Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim al-Anshari ia berkata, saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab, saya telah mendengar Ibnu Abbas Ra. Berkata: “Dulu Rasulullah Saw. pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” (H.R. Imam Muslim)

Hadits ini juga diriwayatkan dari thariq yang lain (lihat Shahih Muslim bab Shiyam Nabi fi Ghair Ramadhan)

Imam Nawawi menerangkan dalam kitab Syarah Shahih Muslim :

قوله ( سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب فقال سمعت بن عباس يقول كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم ) الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أنه لا نهى عنه ولا ندب فيه لعينه بل له حكم باقي الشهور ولم يثبت في صوم رجب نهى ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه و سلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها والله أعلم

Yang dhahir bahwa maksud sa`id bin jibrin dengan istidlal ini adalah tidak ada larangan tentang puasa Rajab dan tidak ada perintah sunat bagi khusus puasa Rajab tetapi berlaku hukum puasa bulan yang lain dan tidak ada larangan tentang puasa Rajab dan tidak pula perintah sunat secara khusus tetapi asal hukum puasa adalah sunat. Dalam Sunan Abi Daud “Bahwa Rasulullah memerintahkan puasa pada bulan-bulan haram sedangkan bulan Rajab termasuk salah satu bulan haram. (lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim jilid 4 hal 295 Kairo, Dar Hadits th1994)

Imam as-Sayuthy dalam Syarah Shahih Muslim setelah mengutip perkataan Imam Nawawi ketika mengomentari hadits sa`id bin jibrin tersebut menuliskan:

قلت وروى البيهقي في شعب الإيمان عن أبي قلابة قال في الجنة قصر لصوام رجب وقال هذا أصح ما ورد في صوم رجب قال وابو قلابة من التابعين ومثله لا يقول ذلك إلا عن بلاغ ممن فوقه عمن يأتيه الوحي

Saya berkata: dan diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dalam kitab Syu`ab al-Iman dari Abi Qalabah beliau berkata “dalam surga ada sebuah istana yang disediakan bagi orang berpuasa Rajab. Beliau berkata: Abi Qalabah adalah seorang tabi`in. Orang seperti beliau tidak akan mengatakan hal demikian kecuali diambil dari seseorang di atas beliau yang mengambilnya dari orang yang diberi wahyu (Rasulullah SAW) (lihat Imam Sayuthy Syarah Muslim jilid 3 hal 238, Saudi Arabia, Dar Ibn Affan th 1996)

Dari uraian Imam as-Sayuthy tersebut dapat dipahami bahwa diantara semua hadits tentang kelebihan Rajab secara khusus yang paling shahih hanyalah hadits riwayat Imam Baihaqy tersebut. Walaupun hadits tersebut adalah hadits mauquf kepada Abi Qulabah namun beliau adalah seorang tabi`in. Para tabi`in merupakan generasi yang penuh barakah sebagaimana Rasulullah sebutkan sendiri dalam sebuah hadits. Mereka tidak akan meriwayatkan sebuah hadits kecuali pernah mendengarnya dari orang-orang yang terpercaya yang mengambilnya dari Rasulullah.

Imam Ibnu Hajara al-Haitamy pernah ditanyakan tentang seorang faqih yang memfatwakan dan melarang manusia untuk berpuasa Rajab dan mengatakan bahwa semua hadits tentang puasa Rajab adalah hadits maudhu`. Imam Ibnu Hajar menjawabnya dengan uraian yang panjang yang ditulis dalam kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 53 Cet. Dar Fikr.

kesimpulan dari jawaban Ibnu Hajar adalah:
  1. Perbuatan faqih tersebut melarang manusia untuk berpuasa Rajab merupakan kebodohannya dan berbicara dengan sembarangan dalam syariat serta wajib terhadap penguasa untuk mencegahnya dan bahkan menghukumnya (ta`zir) sehingga ia meninggalkan perbuatannya melarang manusia untuk berpuasa di bulan Rajab.
  2. Berdasarkan dari hadits-hadits Rasulullah, puasa Rajab juga disunatkan karena bulan Rajab termasuk dalam bulan yang diperintahkan untuk berpuasa secara umum dan juga termasuk dalam bulan haram yang diperintah untuk berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadist.
  3. banyak juga hadits yang menerangkan kelebihan puasa Rajab secara khusus seeprti yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqy (dalam kitab Fadhail Auqat dan Syu`ab al-Iman) walaupun hadits tersebut dhaif namun para ulama ijmak bahwasanya hadits dhaif boleh diamalkan pada fadhail a`mal dan puasa Rajab termasuk dalam fadhail a`mal.
  4. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy mengakui benar bahwa banyak juga hadits maudhu` yang diriwayatkan tentang kelebihan puasa Rajab, namun para ulama dalam mengatakan sunat berpuasa Rajab bukan beradasarkan hadits tersebut namun berdasarkan hadist sunat berpuasa dalam setiap bulan dan dalam bulan haram dan hadits-hadits dhaif yang masih bisa diamalkan.
  5. Tidak ada orang yang mengingkari kebolehan beramal dengan hadits dhaif pada fadhail a`mal kecuali orang yang jahil dan maghrur (tertipu).
Dalam fatwa tersebut Imam Ibnu Hajar juga mengutip fatwa Imam `Izzuddin bin Abdissalam yang ditanyakan tentang sebagian ahli hadits yang melarang munusia berpuasa pada bulan Rajab dan membesarkan bulan Rajab. Imam Izzuddin menjawab bahwa orang yang melarang puasa Rajab dalah orang yang jahil dengan hukum syara`.

Imam Mawardi dalam kitab beliau Hawy Kabir jilid 3 hal 474 Cet. Dar Kutub Ilmiyah thn 1999:

فصل : ومن ذلك شهر رجب فضل الصيام فيه ، روي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه سئل : أي الصوم أفضل بعد شهر رمضان ؟ فقال : " شهر الله الأصم " وروي الأصب . قال أبو عبيد : يعني رجبا ؛ لأن الله تعالى يصب فيه الرحمة صبا ، وسمي أصم ؛ لأن الله تعالى حرم فيه القتال ، فلا يسمع فيه سفك دم ، ولا حركة سلاح وروى عكرمة عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " صيام أول يوم من رجب كفارة ثلاث سنين ، وصيام اليوم الثاني كفارة سنتين ، وصيام اليوم الثالث كفارة سنة ثم كل يوم كفارة شهر " .

Fashl; sebagian dari demikian (kelebihan puasa dalam bulan selain Ramadhan) adalah bulan Rajab. Kelebihan puasa dalam bulan Rajab diriwayatkan dari Rasulullah bahwasanya beliau ditanyakan : “apa puasa yang lebih afdhal setelah Ramadhan ? beliau menjawab “bulan Allah Asham. Dalam riwayat yang lain al-Ashab. Abu `Ubaid berkata “maksudnya bulan Rajab”. Karena Allah ta`ala menuangkan rahmat pada bulan Rajab. Dan dinamakan dengan bulan Asham karena Allah ta`ala mengharamkan berperang pada bulan tersebut maka tidak terdengar adanya pertumpahan darah dan gerakan senjata pada bulan tersebut. Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah berkata “puasa awal dari bulan Rajab menghapuskan dosa tiga tahun dan puasa hari kedua menghapuskan dosa dua tahun dan puasa hari ketiga menghapuskan dosa setahun dan puasa tiap hari menghapuskan dosa sebulan.

Khusus tentang kelebihan awal malam bulan Rajab Imam Syafii meriwayatkan :

وبلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do`a dikabulkan pada lima malam; pada malam jum`at, malam hari raya Adha, malam hari raya fihtri, awal malam bulan Rajab dan malam nisfu Sya`ban (Imam Syafii, al-Umm jilid 1 hal 254 Cet. Dar Fikr th 2009)

Dari uraian panjang diatas dapatlah kita simpulkan:
  1. Tidak ada satu dalilpun yang melarang untuk berpuasa sunat pada bulan Rajab.
  2.  Ada beberapa hadist yang menerangkan kelebihan puasa sunat di bulan Rajab, namun umumnya hadits hadif namun masih boleh diriwayatkan serta diamalkan pada fadhail a`mal (keutamaan beramal)
  3. Kesunnahan puasa dibulanRajab juga masuk dalam sunat berpuasa dalam setiap bulan dan juga sunat berpuasa pada bulan haram
  4. Orang yang melarang manusia untuk berpuasa di bulan Rajab adalah orang yang jahil dan tertipu dalam agama.
Wallhu A`lam bish shawab.
Samalanga, LPI MUDI MESRA
03 Rajab 1434 H/13 Mei 2013

Nash Ibarat kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 53 Cet. Dar Fikr, karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitamy

وسئل رضي الله عنه قال في طهارة القلوب لعلام الغيوب شهر رجب شهر الحرث فاتجروا رحمكم الله في رجب فإنه موسم التجارة واعمروا أوقاتكم فيه فهو أوان العمارة روي أنه من صام من رجب سبعة أيام أغلقت عنه أبواب جهنم ومن صام منه عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه وإن في الجنة قصرا الدنيا فيه كمفحص القطاة لا يدخله إلا صوام رجب وقال وهب بن منبه جميع أنهار الجنة تزور زمزم في رجب تعظيما لهذا الشهر قال وقرأت في بعض كتب الله تعالى من استغفر الله تعالى في رجب بالغداة والعشي يرفع يديه ويقول اللهم اغفر لي وارحمني وتب علي سبعين مرة لم تمس النار جلده أبدا ثم قال بعد ذلك بأوراق كثيرة وفي الحديث من فاته ورده فصلاه قبل الظهر فكأنما صلاه في وقته ا هـ وقد ورد علينا جوابكم الشريف في هذه المسألة وهو جواب شاف وقد حصل به النفع لي ولمن سمعه لكن الفقيه الذي ذكرت لكم في السؤال ينهى الناس عن صومه ويقول أحاديث صوم رجب موضوعة وقد قال النووي الحديث الموضوع لا يعمل به وقد اتفق الحفاظ على أنه موضوع اهـ فالمسؤول منكم زجر هذا الناهي حتى يترك النهي ويفتي بالحق واذكروا لنا ما يحضركم من كلام الأئمة أثابكم الله الجنة
فأجاب رضي الله عنه بأني قدمت لكم في ذلك ما فيه كفاية وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه الشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى وكأن هذا الجاهل يغتر بما روي من أن جهنم تسعر من الحول إلى الحول لصوام رجب وما درى هذا الجاهل المغرور أن هذا حديث باطل كذب لا تحل روايته كما ذكره الشيخ أبو عمرو بن الصلاح وناهيك به حفظا للسنة وجلالة في العلوم ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام فإنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى لما جاء في الأحاديث الصحيحة من الترغيب في الصوم مثل قوله صلى الله عليه وسلم يقول الله كل عمل ابن آدم له إلا الصوم وقوله صلى الله عليه وسلم لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك وقوله إن أفضل الصيام صيام أخي داود كان يصوم يوما ويفطر يوما وكان داود يصوم من غير تقييد بما عدا رجب من الشهور ومن عظم رجب بجهة غير ما كانت الجاهلية يعظمونه به فليس مقتديا بهم وليس كل ما فعلوه منهيا عن فعله إلا إذا نهت الشريعة عنه أو دلت القواعد على تركه ولا يترك الحق لكون أهل الباطل فعلوه والذي ينهى عن صومه جاهل معروف بالجهل ولا يحل لمسلم أن يقلده في دينه إذ لا يجوز التقليد إلا لمن اشتهر بالمعرفة بأحكام الله تعالى وبمآخذها والذي يضاف إليه ذلك بعيد عن معرفة دين الله تعالى فلا يقلد فيه ومن قلده غر بدينه ا هـ جوابه فتأمل كلام هذا الإمام تجده مطابقا لهذا الجاهل الذي ينهى أهل ناحيتكم عن صوم رجب ومنطبقا عليه على أن هذا أحقر من أن يذكر فلا يقصد بمثل كلام ابن عبد السلام لأنه إنما عنى بذلك بعض المنسوبين إلى العلم ممن زل قلمه وطغى فهمه فقصد هو وابن الصلاح الرد عليه وأشار إلى أنه يكفي في فضل صوم رجب ما ورد من الأحاديث الدالة على فضل مطلق الصوم وخصوصه في الأشهر الحرم أي كحديث أبي داود وابن ماجه وغيرهما عن الباهلي أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت يا رسول الله أنا الرجل الذي أتيتك عام الأول قال فما لي أرى جسمك ناحلا قال يا رسول الله ما أكلت طعاما بالنهار ما أكلته إلا بالليل قال من أمرك أن تعذب نفسك قلت يا رسول الله إني أقوى قال صم شهر الصبر وثلاثة أيام بعده وصم الأشهر الحرم وفي رواية صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن لي قوة قال صم يومين قال زدني فإن لي قوة قال صم ثلاثة أيام بعده وصم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصبعه الثلاث يضمها ثم يرسلها قال العلماء وإنما أمره بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث فأما من لا يشق عليه فصوم جميعها فضيلة فتأمل أمره صلى الله عليه وسلم بصوم الأشهر الحرم في الرواية الأولى وبالصوم منها في الرواية الثانية تجده نصا في الأمر بصوم رجب أو بالصوم منه لأنه من الأشهر الحرم بل هو من أفضلها فقول هذا الجاهل إن أحاديث صوم رجب موضوعة إن أراد به ما يشمل الأحاديث الدالة على صومه عموما وخصوصا فكذب منه وبهتان فليتب عن ذلك وإلا عزر عليه التعزير البليغ نعم روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها حاشاهم من ذلك وإنما عولوا على ما قدمته وغيره ومنه ما رواه البيهقي في الشعب عن أنس يرفعه أن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر وروي عن عبد الله بن سعيد عن أبيه يرفعه من صام يوما من رجب كان كصيام سنة ومن صام سبعة أيام غلقت عنه أبواب جهنم ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة ومن صام عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه ومن صام خمسة عشر يوما نادى مناد من السماء قد غفر لك ما سلف فاستأنف العمل وقد بدلت سيئاتك حسنات ومن زاد زاده الله ثم نقل عن شيخه الحاكم أن الحديث الأول موقوف على أبي قلابة وهو من التابعين فمثله لا يقوله إلا عن بلاغ عمن قوله مما يأتيه الوحي ثم روي عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصم بعد رمضان إلا رجب وشعبان ثم قال إسناده ضعيف ا هـ وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا ولا شك أن صوم رجب من فضائل
الأعمال فيكتفى فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها ولا ينكر ذلك إلا جاهل مغرور وروى الأزدي في الضعفاء من حديث السنن من صام ثلاثة أيام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب الله له عبادة سبعمائة عام وللحليمي في صوم رجب كلام محتمل فلا تغتر به فإن الأصحاب على خلاف ما قد يوهمه كلامه والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب   ( sumber : mudimesra.com) 
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bahaya Menunda-nunda Shalat Sampai Habis Waktunya

Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabantya. Meremehkan shalat adalah perbuatan dosa besar. Tindakan yang membahayakan keimanan. Karena shalat termasuk perkara dien (agama) yang paling penting setelah iman. Siapa yang meremehkan dan menyia-nyiakannya, tidak ada kebaikan padanya. Orang yang meremehkan shalat dan menyia-nyiakannya, maka terhadap kewajiban yang lain akan lebih meremehkan dan menyia-nyiakan. Sebab, shalat menjadi tiang dan penopang dien seseorang. Menunda-nunda shalat fardhu tanpa udzur sehingga lewat waktunya adalah dosa besar, bukan maksiat ringan seperti yang dipahami kebanyakan orang. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Makna Idha’atus Shalat (menyia-nyiakan shalat) menurut sebgian ulama tafsir adalah shalat di luar waktunya dan suka meninggalkan shalat. Umar bin Abdul Aziz berkata tentang maksud ayat di atas, لم تكن إضاعتهم تركها، ولكن أضاعوا الوقت “(makna,-ter) mereka menyia-nyiakan shalat itu bukan meninggalkannya, tetapi menunda-nunda waktunya.” Imam Ibnu Katsir menukil perkataan al-Auza’i yang dari Musa bin Sulaiman dari Al-Qasim bin Mukhaimarah tentang maksud ayat di atas, “Mereka menyia-nyiakan (menunda-nunda) waktunya, kalau meninggalkan maka telah kafir.”
Seseorang yang meremehkan shalat sehingga melaksanakannya keluar dari waktunya akan menemui kerugian, kehancuran, dan tercatat sebagai bagian orang yang lalai. Tempatnya di akhirat adalah satu lembah di jahannam yang sangat dalam dan menjijikkan, yaitu berisi nanah dan darah. Wallahu A’lam. ( sumber. voa-islam)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Panduan Tata Cara Shalat menurut sunnah Rasul

Segala puji bagi ALLAH, Tuhan semesta alam, Yang Maha Suci lagi Maha Agung. Hanya kepada-NYA kita menyembah dan kepada-NYA pula kita memohon belas kasihan. Salam dan shalawat senantiasa kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, Nabi kita sebaik-baik manusia sebagai pemimpin.

Berbagai macam ragam cara shalat yang diajarkan oleh para ulama, kyai, dai, ustadz dan muallim. Namun masih saja banyak perbedaan satu dengan lainnya. Bahkan perbedaan itu membawa perselisihan umat. Padahal sumber utama yang mengajarkan shalat itu hanya satu orang, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Jadi seharusnya yang menjadi panutan itu adalah  Rasulullah, bukannya ulama/kyai/ustadz/dai. Jadi marilah kita bersatu dalam sunnah Rasul.

Insya ALLAH, presentasi ini menjelaskan tata cara setiap gerakan zahir dalam shalat sesuai sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Semoga dengan shalat yang benar maka ALLAH akan membuka hijab tabir antara kita dengan-NYA, sehingga segala doa yang terpanjat akan sampai ke hadapan ALLAH Penguasa Langit dan Bumi, dan DIA berkenan mengabulkan doa kita karena DIA Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Urutan gerakan zahir dalam shalat:

    1. Niat, berdiri
    2. Takbiratul ihram
    3. bersedekap
    4. Membaca iftitah
    5. Membaca taawudz dan fatihah
    6. Membaca surah/ayat Quran
    7. Ruku’
    8. I’tidal
    9. Sujud ke-1
    10. Duduk dua sujud
    11. Sujud ke-2
    12. Duduk istirahat sebelum bangkit berdiri
    13. Melanjutkan ke rakaat berikutnya (dimulai dari membaca fatihah hingga sujud ke-2)
    14. Duduk tahiyat awwal dan membaca doa
    15. Duduk tahiyat akhir dan membaca doa
    16. Mengucapkan salam



1. 'Berniat untuk mengerjakan shalat fardhu/sunat, kemudian berdiri tegak menghadap kiblat.
Niat cukup dalam hati saja, jangan mengucap “ushalli” karena hal itu tidak ada dalam sunnah Rasul. Pandangan mata hanya diarahkan ke tempat sujud agar dapat shalat dengan khusyu’.

Klikk disini Lafal Niat Shalat Fardhu 5 Waktu

Rasulullah SAW bersabda: Pekerjaan-pekerjaan itu tidak lain hanyalah dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkannya. [Bukhari & Muslim]
An Nawawi mengatakan didalam Raudhatu ‘th Thalibin Al Maktab Al Islami, bahwa niat adalah maksud (keinginan). Orang shalat hendaklah menghadirkan didalam ingatannya akan shalat itu sendiri beserta kewajiban-kewajiban (rukun) dalam shalat. Kemudian memaksudkan pengetahuan dan ingatan itu secara sengaja dan menghubungkannya dengan awal takbir. Kemudian mereka berpendapat bahwa niat itu sudah cukup dalam hati saja.
Lafadz “ushalli…” tidak ada satupun dalil yang mengajarkannya, tidak pernah Rasulullah memulai shalatnya dengan mengucap sebarang kata, selain takbir.
Oleh karena itu, ucapan “ushalli…” dimasukkan sebagai perkara bid’ah, karena termasuk menambah-nambah sesuatu yang baru dalam perkara agama. Dan bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan berarti neraka.
Janganlah kita mengikutinya, cukuplah kita berniat dalam hati saja. Kita mungkin menganggap mengucap “ushalli” itu ringan, namun kita tidak tahu kebencian ALLAH terhadap orang yang menambah-nambah urusan agama-NYA.

Apakah sukar shalat tanpa ushalli??? Jika tidak sukar, maka tinggalkan saja.


2. Takbiratul ihram dengan cara mengangkat kedua tangan setinggi bahu/pundak secara bersamaan sambil membaca takbir “ALLAHU AKBAR”
dimana jari-jari tangan dirapatkan dan telapak tangan diarahkan ke kiblat

DARI ABDULLAH BIN UMAR, IA BERKATA: AKU MELIHAT RASULULLAH SAW MENGANGKAT KEDUA TANGAN HINGGA SEJAJAR PUNDAK KETIKA MEMULAI SALAT, SEBELUM RUKUK DAN KETIKA BANGUN DARI RUKUK. BELIAU TIDAK MENGANGKATNYA DI ANTARA DUA SUJUD.  [BUKHARI, MUSLIM, TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED BIN HANBAL, MALIK & AD DARAMI]

DARI SALIM BIN ABDULLAH BIN UMAR, KATANYA: APABILA RASULULLAH SAW BERDIRI HENDAK SHALAT, MAKA DIANGKATNYA KEDUA TANGANNYA HINGGA SETENTANG DENGAN KEDUA BAHUNYA SAMBIL MEMBACA TAKBIR. APABILA BELIAU HENDAK RUKU’ DILAKUKANNYA PULA SEPERTI ITU, BEGITU PULA KETIKA BANGKIT DARI RUKU’. TETAPI BELIAU TIDAK MELAKUKANNYA KETIKA MENGANGKAT KEPALA DARI SUJUD. [MUSLIM]

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM MEMULAI SHALAT DENGAN KATA-KATA “ALLAHU AKBAR” (ALLAH MAHA BESAR). [MUSLIM & IBNU MAJAH]

RASULULLAH MENGERASKAN SUARANYA DENGAN TAKBIR SEHINGGA TERDENGAR OLEH ORANG-ORANG YANG BERADA DI BELAKANGNYA. [AHMAD & HAKIM, DISHAHIHKAN OLEHNYA DAN DISEPAKATI OLEH ADZ DZAHABI]

RASULULLAH SAW BERSABDA: SESUNGGUHNYA TIDAK LAH SEMPURNA SHALAT SALAH SEORANG DIANTARA MANUSIA, SEHINGGA IA BERWUDU DAN MELETAKKAN WUDHU PADA TEMPATNYA, LALU BERKATA “ALLAHU AKBAR”. [THABRANI, DENGAN ISNAD YANG SHAHIH]

RASULULLAH SAW BERSABDA: KUNCI SHALAT ITU ADALAH SUCI, PEMBUKANYA ADALAH TAKBIR DAN PENUTUPNYA ADALAH SALAM. [ABU DAWUD, TIRMIZI DAN DISHAHIHKAN OLEHNYA DAN DISEPAKATI OLEH ADZ DZAHABI]

DIRIWAYATKAN BAHWA: BELIAU SAW MENGANGKAT KEDUATANGANNYA SAMBIL MELURUSKAN JARI-JEMARINYA, TIDAK MERENGGANGKANNYA DAN TIDAK PULA MENGGENGGAMNYA. [ABU DAWUD DAN IBNU KHUZAIMAH, TAMAM, AL HAKIM DAN DISAHIHKAN OLEHNYA DAN DISEPAKATI OLEH ADZ DZAHABI]

 3. SETELAH BERTAKBIRATUL IHRAM KEMUDIAN MELETAKKAN TANGAN DI DADA DENGAN TELAPAK TANGAN KANAN DIATAS PUNGGUNG TANGAN KIRI (SEDEKAP).

DARI IBNU UMAR BIN KHATTAB KATANYA: KETIKA KAMI SEDANG SHALAT BERSAMA-SAMA RASULULLAH SAW, TIBA-TIBA ADA SEORANG LAKI-LAKI DALAM JAMAAH MEMBACA:

“ALLAH MAHA BESAR SEBESAR-BESARNYA, PUJIAN YANG TAK TERHENTI BAGI ALLAH, MAHA SUCI ALLAH SEPANJANG PAGI DAN PETANG”

DARI WA’IL BIN HUJR  KATANYA DIA MELIHAT NABI SAW MENGANGKAT KEDUA TANGAN PADA PERMULAAN SHALAT SETENTANG DENGAN KEDUA TELINGANYA SAMBIL MEMBACA TAKBIR. KEMUDIAN DILIPATKANNYA BAJUNYA LALU DILETAKKANNYA TANGAN KANAN DIATAS TANGAN KIRI. KETIKA BELIAU HENDAK RUKU’ DIKELUARKANNYA KEDUA TANGANNYA DARI LIPATAN BAJUNYA, KEMUDIAN DIANGKATNYA SAMBIL MEMBACA TAKBIR, LALU BELIAU RUKU’. KETIKA BELIAU MEMBACA “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” DIANGKATNYA PULA KEDUA TANGANNYA. KETIKA SUJUD, BELIAU SUJUD ANTARA KEDUA TELAPAK TANGANNYA. [MUSLIM].

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM BERSABDA: SESUNGGUHNYA KAMI SEKALIAN PARA NABI TELAH DIPERINTAHKAN UNTUK MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA DAN MENGAKHIRKAN MAKAN SAHUR, DAN UNTUK MELETAKKAN TANGAN-TANGAN KANAN KAMI DI ATAS TANGAN-TANGAN KIRI KAMI PADA WAKTU SHALAT. [IBNU HIBBAN DAN ADH DHIYA, DENGAN SANAD YANG SHAHIH]

BELIAU MELARANG UNTUK MELETAKKAN TANGAN DI ATAS LAMBUNG (PERUT) DI DALAM SHALAT. [BUKHARI & MUSLIM]


4.  SETELAH BERSEDEKAP KEMUDIAN MEMBACA DOA IFTITAH.

ADA BANYAK BACAAN IFTITAH YANG DIAJARKAN OLEH RASULULLAH, BOLEH MEMILIH SALAH SATUNYA SAJA, ATAU MENGGABUNGKANNYA (JIKA SHALAT SENDIRIAN/SUNAT).

MAKA BERTANYA RASULULLAH SAW: SIAPA YANG MEMBACA KALIMAT ITU TADI? JAWAB LAKI-LAKI ITU: SAYA, WAHAI RASULULLAH! SABDA RASULULLAH SAW: AKU KAGUM DENGAN KALIMAT ITU, KARENANYA DIBUKAKAN SEGALA PINTU LANGIT.

KATA IBNU UMAR: AKU TIDAK PERNAH LUPA MEMBACANYA SEJAK KUDENGAR RASULULLAH SAW MEMBACANYA[HR. MUSLIM]

5. SETELAH MEMBACA DOA IFTITAH KEMUDIAN MEMBACA TA’AWUDZ (BERLINDUNG DARIPADA SYETAN) KEMUDIAN MELANJUTKANNYA DENGAN MEMBACA SURAH AL FATIHAH.

“AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI SETAN YANG TERKUTUK, DARI KESOMBONGANNYA DAN SIHIRNYA SERTA GODAANNYA.” [TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, DAN BAIHAQI]
------
DARI UBADAH BIN SHAMIT RA: BAHWA NABI SAW BERSABDA: “TIDAK SAH SHALATNYA ORANG YANG TIDAK MEMBACA SURAT AL FATIHAH.” [BUKHARI, MUSLIM, TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED & AD DARAMI]


6. SETELAH MEMBACA SURAH AL FATIHAH KEMUDIAN MEMBACA SALAH SATU AYAT ATAU SURAH DARI AL QUR’AN

DARI ABU HURAIRAH KATANYA RASULULLAH SAW BERSABDA : “TIDAK SEMPURNA SHALAT, MELAINKAN DENGAN MEMBACA BACAAN (AYAT).” KATA ABU HURAIRAH, “KARENA ITU APA YANG DIBACANYA (NABI SAW) NYARING, KAMI BACA PULA NYARING KEPADAMU. DAN APA YANG DIBACANYA PERLAHAN, KAMI BACA PULA PERLAHAN KEPADAMU.”[HR. MUSLIM]

DARI ATHA’ KATANYA ABU HURAIRAH BERUJAR: “DALAM SETIAP SHALAT RASULULLAH SAW SELALU MEMBACA BACAAN (AYAT). KARENA ITU BACAAN YANG DINYARINGKANNYA KEPADA KAMI, KAMI NYARINGKAN PULA, DAN BACAAN YANG PERLAHAN-LAHAN DIBACANYA KAMI PERLAHANKAN PULA KEPADAMU.”

LALU SEORANG LAKI-LAKI BERTANYA, “BAGAIMANA KALAU TIDAK KUTAMBAH LAGI BACAANKU SELAIN MEMBACA AL FATIHAH?”

JAWABNYA (ABU HURAIRAH), “JIKA ANDA TAMBAH LEBIH BAIK, JIKA TIDAK MAKA AL FATIHAH SUDAH CUKUP.[HR. MUSLIM]



7. TELAH SELESAI MEMBACA AYAT KEMUDIAN BERTAKBIR SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN SEPERTI KETIKA BERTAKBIRATUL IHRAM DENGAN MEMBACA KALIMAT TAKBIR “ALLAHU AKBAR”

HADIS TENTANG TAKBIR RUKU ADALAH HADIS SHAHIH MUTTAFAQ ‘ALAIH, SEHINGGA SELURUH MAZHAB DAN IA HARUS MENGULANG SHALATNYA.

MENGGANGGAPNYA TERMASUK RUKUN SHALAT, JIKA TERLUPA MEMBACANYA,
MAKA MEMBATALKAN SHALATNYA,

DARI ABU QILAABAH, BAHWA IA MELIHAT MALIK BIN HUWAIRITS KETIKA IA SHALAT, IA BERTAKBIR LALU MENGANGKAT

KEDUA TANGANNYA. KETIKA INGIN RUKUK, IA MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA.
KETIKA MENGANGKAT KEPALA DARI RUKUK, IA MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA. IA (MALIK) BERCERITA BAHWA RASULULLAH SAW DAHULU BERBUAT SEPERTI ITU.

[HR. BUKHARI, MUSLIM, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED BIN HANBAL & AD DARAMI]

  MAHA SUCI TUHAN YANG MAHA AGUNG

8. SETELAH SELESAI MEMBACA TAKBIR, KEMUDIAN RUKUK DENGAN CARA
MEMBUNGKUKKAN BADAN DENGAN POSISI TANGAN DILETAKKAN DI ATAS LUTUT, DAN PUNGGUNG RATA ATAU LURUS, KEMUDIAN MEMBACA TASBIH RUKUK SEBANYAK 3 KALI.

DARI ‘AISYAH KATANYA : “RASULULLAH SAW MEMULAI SALAT BELIAU DENGAN TAKBIR. SESUDAH ITU BELIAU BACA SURAT AL FATIHAH. APABILA BELIAU RUKU’ KEPALANYA TIDAK MENDONGAK DAN TIDAK PULA MENUNDUK, TETAPI PERTENGAHAN (SEHINGGA KEPALA BELIAU KELIHATAN RATA DENGAN PUNGGUNG). APABILA BELIAU BANGKIT DARI RUKU’ BELIAU TIDAK SUJUD SEBELUM BELIAU BERDIRI LURUS TERLEBIH DAHULU. APABILA BELIAU MENGANGKAT KEPALA DARI SUJUD (PERTAMA), BELIAU TIDAK SUJUD (KEDUA) SEBELUM DUDUKNYA ANTARA DUA SUJUD ITU TEPAT BENAR (SEMPURNA) LEBIH DAHULU. TIAP-TIAP SELESAI DUA RAKAAT, BELIAU MEMBACA TAHIYAT SAMBIL DUDUK MENGHIMPIT KAKI KIRI DAN MENEGAKKAN KAKI KANAN. BELIAU MELARANG DUDUK SEPERTI CARA SETAN DUDUK ATAU SEPERTI BINATANG BUAS DUDUK. DAN BELIAU MENYUDAHI SALAT DENGAN MEMBACA SALAM.”[MUSLIM]

MUSH’AB BIN SAAD BERKATA: AKU SALAT DI SAMPING AYAHKU (YAITU SAAD BIN ABU WAQASH). AKU BIARKAN TANGANKU (TERLEPAS) DI DEPAN LUTUTKU. LALU AYAH BERKATA: TEMPELKAN KEDUA TELAPAK TANGANMU DI KEDUA LUTUTMU. KEMUDIAN AKU MELAKUKAN HAL ITU SEKALI LAGI. AYAH MEMUKUL TANGANKU SERAYA BERKATA: KITA DILARANG MELAKUKAN ITU (MELEPAS TANGAN SAAT RUKUK). KITA DIPERINTAH UNTUK MENEMPELKAN TANGAN KITA PADA LUTUT SAAT RUKUK. [BUKHARI, MUSLIM, TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMAD BIN HANBAL & AD DARAMI]

DARI HUDZAIFAH KATANYA IA MELIHAT RASULULLAH SAW RUKUK DENGAN MENGUCAPKAN:

“MAHA SUCI TUHAN YANG MAHA AGUNG.” TIGA KALI.
------
RASULULLAH SAW BERSABDA: APABILA SALAH SEORANG DARI KAMU MENGUCAPKAN “SUBHANA RABII AL ADZIM” TIGA KALI, MAKA TELAH SEMPURNA RUKUKNYA.  [TIRMIZI, ABU DAWUD, NASAI & IBNU MAJAH]




9. SETELAH MEMBUNGKUK RUKU, KEMUDIAN BANGKIT BERDIRI TEGAK SAMBIL MENGANGKAT KEDUA TANGAN SAMBIL MEMBACA TAKBIR IKTIDAL


MAHA MENDENGAR ALLAH KEPADA YANG MEMUJINYA

SETELAH ITU DIAM SEKEJAP SAMBIL MELURUSKAN KEDUA TANGAN KEMUDIAN MEMBACA TASBIH IKTIDAL

 PUJI YA TUHAN, BAGI-MU SEGALA

DARI ABU HURAIRAH RA: BAHWA RASULULLAH SAW BERSABDA : SESUNGGUHNYA IMAM ITU UNTUK DIIKUTI. KARENA ITU, MAKA JANGANLAH KALIAN MENYALAHINYA. APABILA IA BERTAKBIR, MAKA BERTAKBIRLAH KALIAN. BILA IA RUKUK, MAKA RUKUKLAH KALIAN. BILA IA MEMBACA “SAMI’ALLAHU
LIMAN HAMIDAH”, MAKA BACALAH “ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU”. BILA IA SUJUD, MAKA SUJUDLAH KALIAN. DAN BILA IA SHALAT SAMBIL DUDUK, MAKA SHALATLAH KALIAN SAMBIL DUDUK. [HR. BUKHARI, MUSLIM, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH]

DALAM HADIS MUTTAFAQ ALAIHI INI TERDAPAT TAMBAHAN ALLAHUMMA. SEDANGKAN RABBANA…ITU KITA AMBIL DARI HADIS BUKHARI DAN MUSLIM LAINNYA. JIKA KITA ARTIKAN MAKA ALLAHUMMA RABBANA BERARTI “YA ALLAH, YA TUHAN KAMI”.

MAHA SUCI TUHAN YANG MAHA TINGGI

10. SETELAH MEMBACA TASBIH TUMA’NINAH KEMUDIAN BER-SUJUD DENGAN CARA MEMBUNGKUK MELETAKKAN WAJAH KE SAJADAH, KEMUDIAN MEMBACA TASBIH SUJUD SEBANYAK 3 KALI.

DARI HUDZAIFAH KATANYA IA MELIHAT RASULULLAH SAW SUJUD DENGAN MENGUCAPKAN:

 “MAHA SUCI TUHAN YANG MAHA TINGGI.” [MUSLIM]
------
RASULULLAH SAW MENGAJARKAN: APABILA SALAH SEORANG DARI KAMU BERSUJUD, HENDAKLAH IA MENGUCAPKAN “SUBHANA RABII AL A’LA” TIGA KALI, DAN ITULAH YANG PALING SEDIKIT.  [TIRMIZI, ABU DAWUD, NASA’I & IBNU MAJAH]

DARI AL BARRA’ KATANYA RASULULLAH SAW BERSABDA: “APABILA ENGKAU SUJUD, LETAKKAN TELAPAK TANGANMU DAN TINGGIKAN KEDUA SIKUMU.” [MUSLIM]

DARI MAIMUNAH ISTERI NABI SAW KATANYA: “APABILA RASULULLAH SAW SUJUD DIRENGGANGKANNYA KEDUA SIKUNYA DARI RUSUK, SEHINGGA KELIHATAN PUTIH KETIAK BELIAU. DAN APABILA BELIAU DUDUK ANTARA DUA SUJUD DAN PADA TASYAHUD AWAL, BELIAU DUDUK TENANG DI ATAS PAHANYA YANG KIRI.” [MUSLIM]

DARI IBNU ABBAS RA, IA BERKATA: NABI SAW DIPERINTAHKAN UNTUK SUJUD DENGAN TUJUH ANGGOTA BADAN DAN DILARANG MENUTUP DAHINYA DENGAN RAMBUT DAN PAKAIAN. [BUKHARI, MUSLIM, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED BIN HANBAL & AD DARAMI]

HR. MUSLIM DARI IBNU ABBAS MENGATAKAN BAHWA TUJUH ANGGOTA BADAN ITU IALAH: (1) WAJAH YAITU DAHI DAN HIDUNG ; (2-3) KEDUA BELAH TELAPAK TANGAN ; (4-5) KEDUA UJUNG LUTUT ; (6-7) KEDUA UJUNG KAKI.

11. SETELAH BERSUJUD KEMUDIAN BANGKIT DUDUK DENGAN CARA BANGKIT DARI SUJUD SAMBIL MEMBACA TAKBIR “ALLAHU AKBAR” TETAPI MEMBACA TAKBIR INI TIDAK DENGAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN. KEMUDIAN DUDUK DENGAN MENEKUKKAN UJUNG KAKI KANAN DAN SETELAH DUDUK TEGAK SEMPURNA KEMUDIAN MEMBACA ZIKIR DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD
Ya Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, pimpinlah aku, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku.

PERLU DIKETAHUI, TIDAK DITEMUKAN DALIL-DALIL DARI KITAB SAHIH DARI BUKHARI DAN MUSLIM YANG MENERANGKAN TENTANG BACAAN DUDUK ANTARA DUA SUJUD. SEHINGGA SELURUH MAZHAB SEPAKAT BERPEGANG PADA KITAB HADIS DIBAWAHNYA YAITU DARI KITAB-KITAB SUNAN. MENURUT PARA SUNAN, DIRIWAYATKAN DARI HUDZAIFAH BAHWA RASULULLAH SAW MENGUCAPKAN DIANTARA DUA SUJUD: [HR. TIRMIZI, ABU DAWUD, NASAI & BAIHAQI

12. SETELAH MEMBACA DOA ZIKIR DUDUK ANTARA DUA SUJUD KEMUDIAN KEMBALI MEMBACA TAKBIR SAMBIL MEMBUNGKUK UNTUK BER-SUJUD DAN KEMBALI MEMBACA TASBIH SUJUD 3 KALI.

MAHA SUCI TUHAN YANG MAHA TINGGI

DARI BARRA BIN AZIB, IA BERKATA: AKU MENGAMATI SHALAT MUHAMMAD SAW. AKU PERHATIKAN BERDIRINYA, RUKUKNYA, IKTIDAL SETELAH RUKUK, SUJUDNYA, DUDUK ANTARA DUA SUJUD, SUJUD KEDUA, DUDUK ANTARA SALAM DAN SELESAI SHALAT, (AKU PERHATIKAN) SATU DENGAN LAINNYA SALING SAMA. [BUKHARI, MUSLIM, TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, AHMED BIN HANBAL & AD DARAMI]

DARI ABU SALAMAH BIN ABDURRAHMAN BAHWA ABU HURAIRAH SHALAT MENGIMAMI PARA SAHABAT. IA BERTAKBIR TIAP KALI TURUN DAN BANGUN. KETIKA SELESAI IA BERKATA: “DEMI ALLAH, SESUNGGUHNYA AKU ADALAH ORANG YANG PALING MIRIP DENGAN SHALATNYA RASULULLAH SAW.” [BUKHARI, MUSLIM, TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED BIN HANBAL, MALIK & AD DARAMI]




13. SETELAH BANGKIT DARI SUJUD YANG KEDUA, HENDAKNYA DUDUK TUMA’NINAH SEKEJAP DUA ATAU 5 DETIK KEMUDIAN KEMBALI BERDIRI UNTUK MENGERJAKAN RAKAAT SELANJUTNYA SAMBIL MEMBACA TAKBIR,

SETELAH BERDIRI DENGAN SEMPURNA KEMUDIAN MEMULAI RAKAAT SELANJUTNYA DENGAN KEMBALI MEMBACA FATIHAH.

DARI ABU HURAIRAH KATANYA: APABILA RASULULLAH SAW BERDIRI UNTUK RAKA’AT KEDUA, BELIAU LANGSUNG MEMBACA FATIHAH, TANPA DIAM SEBENTAR TERLEBIH DAHULU. [MUSLIM]

DARI MUTHARRIF BIN ABDULLAH, IA BERKATA : AKU DAN IMRAN BIN HUSHEIN SHALAT DI BELAKANG ALI BIN ABI THALIB. KETIKA SUJUD BELIAU BERTAKBIR. SAAT MENGANGKAT KEPALA BELIAU BERTAKBIR. SAAT BANGUN DARI DUA RAKAAT BELIAU BERTAKBIR. SELESAI SHALAT IMRAN MEMEGANG TANGANKU DAN BERKATA: SESUNGGUHNYA ALI TELAH MENGINGATKAN AKU DENGAN SHALAT MUHAMMAD SAW. [BUKHARI, MUSLIM, TIRMIDZI, NASA’I, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED BIN HANBAL, MALIK & AD DARAMI]





DARI ABU HURAIRAH KATANYA: DEMI ALLAH, AKAN AKU AJARKAN KEPADA KAMU CARA SHALAT RASULULLAH SAW. MAKA ABU HURAIRAH BERQUNUT KETIKA SHALAT ZUHUR, ISYA DAN SUBUH MENDOAKAN KEBAIKAN BAGI ORANG-ORANG MUKMIN DAN MENGUTUK ORANG-ORANG KAFIR. [BUKHARI, MUSLIM, NAS’AI, ABU DAWUD, AHMAD]

DARI MUHAMMAD, DIA BERTANYA KEPADA ANAS, KATANYA: ADAKAH RASULULLAH SAW QUNUT DALAM SHALAT SUBUH? JAWAB ANAS: ADA, YAITU SESUDAH RUKU. [MUSLIM]

DARI ANAS BIN MALIK, KATANYA: RASULULLAH SAW PERNAH QUNUT SEBULAN LAMANYA DALAM SHALAT SUBUH SESUDAH RUKUK YAITU MENGUTUK KABILAH-KABILAH RI’IL, DZAKWAN DAN USHAYYAH KARENA MEREKA MENDURHAKAI ALLAH DAN RASUL-NYA. [MUSLIM]

DARI AL BARRA BIN AZIB, KATANYA: RASULULLAH SAW PERNAH QUNUT DALAM SHALAT SUBUH DAN MAGHRIB. [MUSLIM]

MENURUT MAZHAB SYAFII MEMBACA QUNUT DALAM SHALAT SUBUH ADALAH SUNAT MUAKKAD. ANDAIKATA DITINGGALKAN BAIK SENGAJA ATAU KARENA LUPA, MAKA TIDAK BATAL SHALATNYA, AKAN TETAPI HARUS MELAKUKAN SUJUD SAHWI.

DIRIWAYATKAN OLEH AL HAKIM, BAHWA ANAS BIN MALIK BERKATA: RASULULLAH SAW TETAP MELAKUKAN QUNUT DIWAKTU SUBUH HINGGA BELIAU MENINGGAL DUNIA. DIKATAKAN OLEH AL HAKIM BAHWA INI ADALAH HADIS SAHIH.

MAKA AKAN TIMBUL PERTANYAAN: APAKAH BOLEH BERQUNUT SELAIN SHALAT SUBUH? MENJAWAB HAL INI IMAM SYAFII MEMPUNYAI 3 (TIGA) PENDAPAT:

1) BOLEH BERQUNUT PADA SETIAP SHALAT APABILA TIMBUL BENCANA ALAM ATAU BAHAYA PEPERANGAN, ATAU WABAH PENYAKIT ATAU GANGGUAN (INTIMIDATION) KEPADA KAUM MUSLIMIN. JIKA TIDAK ADA BENCANA, MAKA TIDAK BOLEH BERQUNUT SELAIN PADA SHALAT SUBUH.

2)  MAZHAB MEREKA SELALU MEMBACA QUNUT PADA SEMUA SHALAT FARDU, TIDAK TERKECUALI BAIK DALAM KEADAAN BAHAYA ATAUPUN TIDAK

3)  QUNUT BOLEH TIDAK DIBACA SAMA SEKALI

•  QUNUT DIBACA PADA SEPARUH TERAKHIR BULAN RAMADAN PADA RAKAAT TERAKHIR SHALAT WITIR. INI MASIH MENURUT IMAM SYAFII DAN IMAM NAWAWI.

•  MENURUT MAZHAB SYAFII DENGAN FATWA DARI IMAM NAWAWI, SAAT MEMBACA QUNUT DALAM SHALAT SUBUH ADALAH SESUDAH MENGANGKAT KEPALA DARI RUKUK (SESUDAH IKTIDAL) DALAM RAKAAT KEDUA.

•  DAN MENURUT MAZHAB SYAFII, BACAAN QUNUT TIDAK DITENTUKAN BACAANNYA. ARTINYA

BOLEH MEMBACA DOA MANAPUN ATAU DOA-DOA YANG ADA DALAM QURAN.

1) SEBELUMNYA QUNUT DIBACA OLEH RASULULLAH UNTUK MENDOAKAN SUATU KAUM: DARI ANAS BIN MALIK, KATANYA: RASULULLAH SAW PERNAH QUNUT SEBULAN LAMANYA DALAM SHALAT SUBUH SESUDAH RUKUK YAITU MENGUTUK KABILAH-KABILAH RI’LIN, DZAKWAN DAN USHAYYAH KARENA MEREKA MENDURHAKAI ALLAH DAN RASUL-NYA.  [MUSLIM]

2) TETAPI KEMUDIAN DOA RASULULLAH ITU DITOLAK OLEH ALLAH TA’ALA:
DARI ABU HURAIRAH, KATANYA: PERNAH SETELAH RASULULLAH SAW SELESAI MEMBACA “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA LAKAL HAMDU”, KEMUDIAN BELIAU MASIH BERDIRI MEMBACA DOA SEBAGAI BERIKUT:
“YA ALLAH, SELAMATKANLAH WALID BIN WALID, SALAMAH BIN HISYAM, IYASY
BIN ABI RABI’AH DAN ORANG-ORANG MUKMIN YANG LEMAH-LEMAH. YA ALLAH, PERBERAT SIKSA-MU ATAS KABILAH (SUKU) MUDHAR, DAN JADIKANLAH TAHUN-TAHUN MEREKA SEPERTI TAHUN-TAHUN YANG BERAT BAGI YUSUF. YA ALLAH, KUTUKLAH KABILAH-KABILAH (ETHNIC GROUP) LIHYAN, RI’LAN, DZAKWAN DAN USHAYYAH KARENA MEREKA MENDURHAKAI ALLAH DAN RASUL-NYA.”

KEMUDIAN KAMI DAPAT KABAR BAHWA BELIAU MENINGGALKAN DOA ITU SETELAH TURUN AYAT ALLAH: “TAK ADA SEDIKITPUN CAMPUR TANGANMU DALAM URUSAN MEREKA ITU ATAU ALLAH MENERIMA TAUBAT MEREKA, ATAU MENGAZAB MEREKA KARENA SESUNGGUHNYA MEREKA ITU ORANG-ORANG YANG ZALIM.
” [QS:3 ALI IMRAN: 128]
 [BUKHARI, MUSLIM, NASAI, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMAD & AD DARAMI]

PENGERTIAN, DEFINISI, JENIS DAN TATA CARA SHOLAT SUNAT RAWATIB YANG MENGIRINGI SOLAT WAJIB - PRAKTEK IBADAH SALAT AGAMA ISLAM

A. PENGERTIAN DAN DEFINIS
SHALAT SUNAH RAWATIB ADALAH SHALAT YANG MENGIRINGI SOLAT WAJIB LIMA WAKTU DALAM SEHARI YANG BISA DIKERJAKAN PADA SAAT SEBELUM SHOLAT DAN SETELAH SOLAT. FUNGSI SALAT SUNAT RAWATIB ADALAH MENAMBAH SERTA MENYEMPURNAKAN KEKURANGAN DARI SHALAT WAJIB.

B. TATA CARA DAN SYARAT KONDISI
1. DIKERJAKAN SENDIRI-SENDIRI TIDAK BERJAMAAH
2. MENGAMBIL TEMPAT SALAT YANG BERBEDA DENGAN TEMPAT MELAKUKAN SHOLAT WAJIB.
3. SHALAT SUNAH RAWATIB DILAKUKAN DUA ROKAAT DENGAN SATU SALAM.
4. TIDAK DIDAHULUI AZAN DAN QOMAT

C. JENIS SALAT SUNAT RAWATIB
1. SALAT SUNAT QABLIYAH / QOBLIYAH ADALAH SHOLAT SUNAH YANG DILAKSANAKAN SEBELUM MENGERJAKAN SOLAT WAJIB.
2. SHALAT SUNAH BA'DIYAH ADALAH SHOLAT YANG DIKERJAKAN SETELAH MELAKUKAN SHALAT WAJIB.

D. MACAM-MACAM SHOLAT SUNAH RAWATIB
1. SALAT SUNAT RAWATIB MUAKKAD / PENTING
ADALAH SHOLAT SUNAT RAWATIB YANG DIKERJAKAN PADA :
- SEBELUM SUBUH DUA ROKAAT
- SEBELUM ZUHUR DUA ROKAAT
- SESUDAH DZUHUR DUA ROKAAT
- SESUDAH MAGHRIB DUA ROKAAT
- SESUDAH ISYA DUA ROKAAT
2. SALAT SUNAT RAWATIB GHOIRU MUAKKAD / TIDAK PENTING
ADALAH SHOLAT SUNAT RAWATIB YANG DIKERJAKAN PADA :
- SEBELUM ZUHUR DUA ROKAAT
- SETELAH ZUHUR DUA ROKAAT
- SEBELUM ASHAR EMPAT ROKAAT
- SEBELUM MAGRIB DUA ROKAAT
- SEBELUM ISYA DUA ROKAAT

DALIL TENTANG SUJUD SAHWI

KETAHUILAH BAHWA SUJUD SAHWI ADALAH KESEPAKATAN SEMUA ALIRAN TANPA TERKECUALI. BANYAK HADIS SAHIH YANG MENERANGKANNYA. DIANTARANYA ADALAH HADIS SAHIH MUTTAFAQ ALAIH:

DARI ABU HURAIRAH, KATANYA RASULULLAH SAW BERSABDA: APABILA KAMU SHALAT, DATANGLAH SETAN MENGGANGGUMU SEHINGGA KAMU LUPA TELAH BERAPA RAKA’AT KAMU SHALAT. APABILA KAMU MENGALAMI HAL YANG DEMIKIAN ITU, MAKA SUJUDLAH DUA KALI KETIKA DUDUK (TASYAHUD AKHIR).  [MUSLIM]

***DARI ABDULLAH BIN BUHAINAH, IA BERKATA: RASULULLAH SAW SHALAT DUA RAKAAT BERSAMA KAMI, KEMUDIAN BELIAU BANGKIT DAN TIDAK DUDUK. PARA SAHABAT YANG LAINPUN IKUT BANGKIT BERSAMA BELIAU. KETIKA BELIAU HENDAK MENYELESAIKAN SHALATNYA DAN KAMI MENUNGGU SALAMNYA, BELIAU MALAH MEMBACA TAKBIR LALU MELAKUKAN SUJUD DUA KALI SEDANG BELIAU
MASIH DALAM KEADAAN DUDUK SEBELUM SALAM. KEMUDIAN BELIAU SALAM. [BUKHARI, MUSLIM,TIRMIZI, NASAI, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED, MALIK & AD DARAMI]

***DARI ABDULLAH BIN MAS’UD, IA BERKATA: RASULULLAH SAW SHALAT (MENURUT PERAWI IBRAHIM, BELIAU SAW TERLEBIH ATAU KURANG JUMLAH RAKAAT). KETIKA SELESAI SALAM, ADA YANG BERKATA: YA RASULULLAH, APAKAH TELAH TERJADI SESUATU KETIKA BAGINDA SHALAT. RASULULLAH SAW
BERTANYA: APA ITU? MEREKA MENJAWAB: BAGINDA MELAKUKAN SHALAT BEGINI, BEGINI. SEKETIKA ITU JUGA RASULULLAH SAW MELIPATKAN KEDUA KAKINYA DAN MENGHADAP KIBLAT, MELAKUKAN SUJUD DUA KALI DAN SALAM. KEMUDIAN BELIAU BERPALING KEPADA KAMI SERAYA BERSABDA: SEANDAINYA TERJADI SESUATU DALAM SHALAT, MAKA AKU AKAN MENERANGKANNYA KEPADAMU.
TETAPI AKU ADALAH MANUSIA BIASA YANG DAPAT LUPA SEPERTI HALNYA ENGKAU. APABILA AKU LUPA, MAKA INGATKANLAH AKU. APABILA SALAH SEORANG KAMU MERASA RAGU-RAGU DALAM SHALATNYA, MAKA BERUSAHALAH MENCARI DAN MEYAKINI YANG BENAR, LALU SEMPURNAKAN. SELANJUTNYA HENDAKNYA IA MELAKUKAN SUJUD DUA KALI.[BUKHARI, MUSLIM, TIRMIZI, NASAI, ABU DAWUD, IBNU MAJAH, AHMED, MALIK & AD DARAMI]

ADA PERBEDAAN ANTARA ULAMA TENTANG SAAT MEMBACA SUJUD SAHWI

ADA YANG BERPENDAPAT DILAKUKAN SEBELUM MENGUCAPKAN SALAM DAN ADA YANG BERPENDAPAT SESUDAH SALAM. PENDAPAT YANG MENGATAKAN SUJUD SAHWI ADALAH SESUDAH SALAM, SESUAI HADIS SAHIH: DARI ABDULLAH KATANYA: NABI SAW SUJUD DUA KALI KARENA LUPA, YAITU SESUDAH SALAM DAN
BERCAKAP-CAKAP. [MUSLIM]

NAMUN PENDAPAT IMAM YANG KITA PILIH MENGATAKAN BAHWA SUJUD SAHWI DILAKUKAN SEBELUM SALAM, HAL INI BERPEGANG DARI BANYAKNYA HADIS SAHIH BUKHARI, MUSLIM YANG MENERANGKANNYA. SEDANGKAN DALAM HAL APA YANG DIBACA KETIKA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, MAKA KITA KEMUKAKAN PENDAPAT IMAM NAWAWI RAHIMAHULLAH:

BACAAN SUJUD SAHWI ADALAH SAMA DENGAN BACAAN SUJUD YAITU “SUBHANA RABBI AL A’LA” ,KARENA DALAM HADIS-HADIS TIDAK DISEBUTKAN BACAANNYA YANG TERTENTU. DALAM HADIS-HADIS SAHIH BUKHARI, MUSLIM DAN KELOMPOK SUNAN, RASULULLAH SAW HANYA MENYEBUTNYA SEBAGAI SUJUD KARENA TERLUPA.

DAN BACAAN DUDUK ANTARA DUA SUJUD SAHWI ADALAH SAMA DENGAN BACAAN DUDUK ANTARA DUA SUJUD YAITU “RABBIGH FIR LI, RABBIGH FIR LI” ATAU YANG PANJANG LAGI DARI HADIS KELOMPOK SUNAN.


 LAMPIRAN MATERI ( 5 )

1.Shalat-Shalat Sunnah - 01.pdfSHALAT-SHALAT SUNNAH - 01Download Materi: Shalat-Shalat Sunnah - 01.pdf


2.Shalat-Shalat Sunnah - 02.pdfSHALAT-SHALAT SUNNAH - 02Download Materi: Shalat-Shalat Sunnah - 02.pdf

3.Shalat-Shalat Sunnah - 01.docSHALAT-SHALAT SUNNAH - 01Download Materi: Shalat-Shalat Sunnah - 01.doc


4.Shalat-Shalat Sunnah - 02.docSHALAT-SHALAT SUNNAH - 02Download Materi: Shalat-Shalat Sunnah - 02.doc


5.Shalat-Shalat Sunnah.zipSHALAT-SHALAT SUNNAHDownload Materi: Shalat-Shalat Sunnah.zip

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

newer posts back home
 
Mudimesra

Link's Partners

Mudimesra
Support : Creating Website | Free Template | Radio Aceh
Copyright © 2014. Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger