Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah: Lintas-Nanggroe | Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al-Aziziyah!


Headlines News :
Powered by Blogger.
Mudimesra

Kabar Ads

http://www.al-aziziyah.org/p/alquran-mp3.html

Showing posts with label Lintas-Nanggroe. Show all posts
Showing posts with label Lintas-Nanggroe. Show all posts

Jejak Keintiman Aceh Darussalam dan Kekhalifahan Turki Usmani

Menurut sang penulis yang asli dari bumi Aceh ini, buku ini adalah bentuk kontribusi orang Aceh sendiri terhadap khazanah keilmuan terkhusus peradaban Aceh. Selama ini karya-karya sejarah Aceh yang beredar kebanyakan bukan berasal dari penulis Aceh. Yang notabene, mereka adalah bagian dari sejarah itu sendiri.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa para Penguasa Aceh Darussalam memiliki hubungan yang mesra dengan Kekhilafahan Usmani. Keduanya adalah kekuasaan yang sama-sama berasaskan Islam, yang  terpisahkan jarak yang sangat jauh. Wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam adalah bagian dari Asia Tenggara sedangkan Kekhilafahan Usmani berada di sisi lain benua Asia dan sebagian Eropa. Dua kekuasaan besar yang memang letaknya tidak berdekatan. Maka, tidak salah apabila para sejarawan mengatakan keduanya mempunyai hubungan yang menarik. Lantas, bagaimana rekam tali persaudaraan antara keduanya?

Buku yang berjudul Relasi Kerajaan Aceh dan Kerajaan Darussalam ini adalah karya dari Baiquni Hasbi yang diadaptasi dari tesis yang bersangkutan di Universitas Ankara, Turki. Buku ini mengungkapkan pentingnya mengetahui motif dari relasi Kerajaan Aceh Darussalam dengan Usmani. Mengurai sejarah yang sempat tersamarkan mengenai dinamika hubungan dan kerjasama politik antar keduanya pada abad ke 16 dan 19 sekaligus memberikan nafas baru untuk historiografi itu sendiri. Untuk menggali fakta sejarah tersebut, penulis banyak menggunakan berbagai sumber yang berasal dari Arsip Turki Usmani langsung. Seolah penulis ingin mengajak pula bagaimana bentuk relasi tersebut dari sudut pandang Kekhilafahan Islam terakhir ini.


Menurut sang penulis yang asli dari bumi Aceh ini, buku ini adalah bentuk kontribusi orang Aceh sendiri terhadap khazanah keilmuan terkhusus peradaban Aceh. Selama ini karya-karya sejarah Aceh yang beredar kebanyakan bukan berasal dari penulis Aceh. Yang notabene, mereka adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Itulah pentingya menulis relasi antar keduanya. Pada awal abad ke 16 Aceh masyhur dan tercatat sebagai destinasi yang menjanjikan. Di periode ini pula catatan sejarah mengenai Aceh menuai kabar gembira. Banyak para pelancong dunia telah mencatatnya.

Baiquni membagi bukunya ke dalam empat bagian. Di bagian pertama, ia menggambarkan keadaan kedua kekuatan besar tersebut di tempo waktu yang sama, yakni abad ke 16 dan ke 19 terutama dalam aspeki ekonomi dan politik. Aceh pada era ini merupakan kekuasaan yang kuat. Ia membuktikan dengan adanya peningkatan perdagangan lada di masa Sultan Al Kahhar. Al Kahhar adalah seorang Sultan yang kuat, sehingga ketika memimpin Aceh mampu memberikan harapan besar untuk Aceh. Tak diragukan lagi, ia mampu menguatkan perekonomian. “Bahkan, sebuah catatan perbendaharaan Portugis di Goa (India) pada tahun 1590 Aceh memperoleh keuntungan besar dari itu” (hal 25). Hal yang sama terjadi Usmani di abad ke 16. Sulayman Al Qonuni sukses membawa Usmani menjadi satu-satunya kekuatan terbesar di dunia. Di tahun 1541 di Benua Eropa, ia menaklukan Hungaria. “Hingga akhirnya kekuasaan Kristen mengakui kehebatannya” (hal 42).

Abad ke 19, Aceh terkepung dengan kekuatan lua yang berimbas pada kemundurannya. “Kerajaan asing seperti Belanda, Inggris saling mengadu demi mendapatkan wilayah Aceh” (hal 26). Kondisi yang sama di rasakan Usmani. Kemunduran drastis terjadi di abad ke 19. Ketertinggalan Usmani dengan Barat menjadi satu dari beberapa dampaknya. Meskipun pembaruan-pembaran dilakukan, tidak mampu mengubah kondisi. “Kerajaan Eropa bertambah kuat dan akibatnya cengkeraman mereka (Inggris, Prancis) semakin tajam dan kuat dalam sistem pemerintahan Usmani” (hal 46).

Bagian kedua dari bukunya yang merupakan Inti, Baiquni mengungkap bahwa relasi di abad ke 16 dibuktikan dengan adanya surat dari Sultan al-Kahhar yang dikirimkan kepada Sultan Sulayman al-Qanuni pada tahun 1566 M. Ia mengirimkan dua utusannya yang bernama Umar dan Husein. Tujuannya adalah meminta bantuan militer kepada Sultan Sulayman Agung. Namun hal itu tidak langsung disepakati oleh Sultan Sulayman kata penulis. “Sebab karena jarak antara keduanya sangat jauh, maka sultan akan menyertakan orang Usmani sebagai utusan yang membersamai dalam perjalanan ke Aceh Darussalam” (hal 57).

Selain permintaan dalam bidang militer, Kerajaan Aceh meminta kepada Usmani agar masuk sebagai vilayet (propinsi). Ia mengajukan agar Aceh disamakan kedudukannya dengan Yaman, Mesir, Jedah yang merupakan bagian propinsi dari Kekhilafahan Usmani. Atau, bisa disebut Sultan Aceh menawarkan kerajaannya sebagai negara vasal Kekhilafahan Usmani, sehingga mengakui kedaulatan Usmani yang merupakan satu-satunya kepemimpinan di dunia Islam (hal 63).

Lada dan rempah-rempah menjadi komoditas yang unggul bagi Kerajaan Aceh Darussalam. Hubungan dagang antara keduanyapun tak luput dari catatan sejarah selain dalam bidang militer. “Puncaknya pada tahun 1560an, tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1564 laporan dari Tuan tanah dari Cairo bahwa mereka menerima lebih dari 18.000 kwintal lada 3000 kwintal rempah-rempah” (hal 94).

Lain halnya dengan Sultan Sulayman. Sultan Salim II juga mengeluarkan surat resmi kekhilafahan kepada utusan Aceh. Dalam surat tersebut ia menunjuk Mustafa Cavus sebagai duta Usmani dan Kurtoglu Hizir Reis (mantan laksamana Iskandariya) untuk memimpin ekspedisi ke Aceh. Selain itu Sultan juga memerintahkan Gubernur Mesir untuk membantu dan mempermudah urusan duta Sultan al-Kahhar, baik saat mengambil kebutuhan atau ingin membeli kuda dan senjata untuk melawan Portugis (hal 65).

Permintaan bantuan kembali Aceh lakukan di abad ke 19. “Seorang yang bernama Abdurrahman al-Zahir tiba di Istanbul sekitar 27 April 1873 untuk meminta bantuan militer pada Usmani” (hal 89). Karena kondisi genting telah terjadi di Aceh Darussalam akibat serangan dari Belanda.

Bagian ke empat buku ini, penulis mengungkap pentingnya relasi yang terjadi antar keduanya. Menurutnya, relasi itu akan berdampak pada saling menguatnya kekuasaan Usmani dan juga Aceh Darussalam. Membuat geram kekuatan luar dari kerajaan-kerajaan kristen maupun lainnya yang memiliki misi untuk menguasai. Akan tetapi, diluar itu semua sudah menjadi keharusan bagi Usmani. “Bentuk komitmen Usmani untuk melindungi Muslim yang menjadi kewajibannya untuk wilayah Islam di dunia” (hal 104).

Bagian ke lima, dijelaskan tentang pengaruh dari realasi dua kerajaan tersebut. Salah satunya, baru-baru ini terdapat penemuan mata uang emas di Kampung Pande. Dalam kumpulan koin emas tersebut ditemukan mata uang yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Usmani. Karena pada koin tertulis “Sultan Sulayman bin Sultan Salim Syah ‘uzza nashruhu dhuriba fi Misr sanah 927”, yang berarti “Sultan Sulayman bin Sultan Salim Syah, semoga dikuatkan kemenangannya, dicetak di Mesir pada tahun 927/6 H” (hal 111).

Sejumlah kekurangan masih ditemukan dari buku ini. Terdapat banyak kesalahan penulisan, misalnya dalam pemilihan kata, kalimat yang belum sempurna, tidak adanya spasi dalam sebuah kalimat. Itupun dijumpai tidak hanya satu, atau dua, melainkan lebih. Pembahasan relasi yang ditulis oleh Baiquni mencakup abad ke 16 dan 19 sehingga ada kekosongan informasi untuk pembaca tentang kondisi abad ke 17 dan 18. Bagi pembaca awam ini akan menjadi kendala.

Sebagai kesimpulan, buku ini sangat baik untuk dijadikan rujukan terutama bagi para peminat sejarah tentang hubungan Kerajaan Aceh dan Turki Usmani. Tidak hanya itu, pada bagian lampiran buku ini banyak juga dimuat arsip-arsip dari Turki Usmani yang penulis gunakan untuk menjelaskan keintiman ini. Penulis seperti ingin mengajak kita untuk terus membaca dan mengungkap banyak fakta yang sangat menarik dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Wallahu ‘alam bisshowab
Judul Buku      : Relasi Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Utsmani
Penulis            : Baiquni Hasbi
Penerbit           : LSAMA
Terbit              : Cetakan Pertama, April 2014
Tebal               : xvi + 184 ; 14×21 cm

Oleh : Rizka K. Rahmawati
Peresensi adalah alumni Program Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kontributor di komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) .

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nanti Malam, Ikapas Nisam Peringati Haulnya yang ke 5


Ikatan Pemuda dan Santri (IKAPAS) Kecamatan Nisam, pada malam nanti, minggu 10 Juli 2016 memperingati hari jadinya atauHaul yang ke lima dengan acara zikir akbar yang dipusatkan di Dayah Raudhatunnur Gampong Peunayan Kecamatan Nisam Aceh Utara.

Panitia Acara, Muhajir kepada al-aziziyah.org mengatakan, zikir akbar akan dikemas dengan acara silaturrahmi, shalawat, qashidah, zikir, tausiah dan do’a. Adupun pentausiah yang dihadirkan adalah Tgk. Khairul Walad Nurdin Wahed dari Panton.

Lanjutnya, Insyaallah majelis pemandu zikir dipimpin oleh para santri IKAPAS dan kaloborasi dengan beberapa santri HISADA Dewantra dan juga akan ikut bersama Tgk. Sofyan Hanafiah vokalis Salsabil Aceh.

Panitia juga turut mengundang masyarakat dan disamping itu juga diundang pengurus organisasi santri yang ada di Aceh Utara, diantaranya HISADA Dewantara, IPPES Syamtalira Bayu, IKASABA Syamtalira Bayu, ISATA Tanah Luas, KALAM Lhoksukon, ISAT Aceh Timur dan lain-lain.


Acara dimulai dengan shalat Isya berjama’ah dilanjutkan pembacaan shalawat, maulid, qashidah, tausiah dan diakhiri dengan do’a. Acar akan disiarkan langsung oleh radio mudimesra atau unduh aplikasi di playsore steaming Islam dan pilih chanel mudimesra radio streaming. Pungkas Muhajir (an-nisamie)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Durian Monthong

Durian Monthong adalah durian yang berasal dari Thailand tanaman durian Monthong cukup produktif dan mampu beradaptasi pada berbagai tempat. Kelemahannya tanaman ini tidak mempunyai ketahanan terhadap penyakit Phytophthora .sp. Bentuk buah bervariasi, dari bulat panjang sampai hampir persegi. Durinya besar dan tersusun jarang. Bobot buahnya mampu mencapai 6 kg. Kulitnya tebal dengan warna hij au. juringnya ada 5. Warna daging buah ada yang kuning emas, ada pula yang krem. Dagingnya sangat tebal dengan rasa manis legit dan aroma harum. Tanaman Durian monthong merupakan tanaman genjah. Mampu berproduksi pada umur 4-5 tahun sejak ditanam dengan bibit asal sambung pucuk.

Di pasar, buah durian ini mengiklankan diri melalui baunya yang keras dan khas. Buah durian sangat disukai orang, sehingga panen padi di Indonesia akan terbengkalai jika bertepatan dengan panen buah durian, dan sampai puncak masa panen durian orang-orang masih bernafsu besar untuk memakannya. Tanaman durian dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Namun, produksi terbaiknya dicapai jika penanaman dilakukan pada ketinggian 400-600 m di atas permukaan laut. Tanaman ini menyukai daerah yang beriklim basah atau tempat-tempat yang banyak turun hujan. Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhannya yaitu tanah yang lembap, subur, gembur, tak bercadas, dan kedalaman air tanahnya tidak lebih dari 1 m. Panen Pohon durian tumbuh sangat tinggi, dan karena sulit menerka matangnya buah, praktek yang umum dilakukan ialah menunggu sampai buah itu berjatuhan. Pemanenan secara selektif itu perlu, dan pemetik yang berpengalaman menggunakan berbagai kriteria untuk menaksir kematangan buah durian.

Diawali dari jumlah hari yang telah dilewati sejak bunga mekar, mereka juga mungkin memperhatikan warna, elastisitas dan letaknya duri, intensitas bau yang keluar dari buah, suara yang terdengar jika jari-jari dijentikkan pada alur-alur di antara duri, perubahan pada tangkai buah, dan uji-apung di air. Penanganan pasca panen Berkat kulitnya yang kuat, pengangkutan buah durian dipermudah, tetapi adanya duri-duri itu menyulitkan penanganannya; buah ini perlu dipegang tangkainya. Buah yang telah pecah sewaktu jatuh ke tanah, cepat sekali rusak, arilusnya menjadi tengik dalam waktu 36 jam saja.

Buah yang masih bertangkai, yang dipungut dari bawah pohonnya masih dapat dimakan setelah 2-3 hari, tetapi jika daya tahan buah yang telah dipungut itu dapat diperpanjang sekitar 1 minggu lagi, hal ini akan merupakan keuntungan yang besar. Buah durian harus segera diangkut ke pasar, diwadahi karung, keranjang bambu atau ditumpuk saja dalam bak truk.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nabawi TV Mengembangkan Kajian Ahlusunnah Wal Jama'ah

Frekuensi
 www.khabarpopuler.com

Keberhasilan Nabawi TV dalam berdakwah diseluruh nusantara sekarang telah dirasakan oleh segenab masyarakat baik kalangan terpelajar dan awan isya Allah bisa memberi kajian yang penuh islami dari hari ke hari.dalam konteks Ahlusunnah Wal Jama'ah

Silahkan kunjungi  di :
Satelit             Palapa D
Frekuensi       3818 MHz
Polarisasi        Vertikal
Simbol Rate    27500 msps

Latar Belakang

Berawal dari keberhasilan TV muslim Irtsun Nabawi yang sangat fenomenal di Timur Tengah, dalam waktu singkat telah berhasil menyebarkan dakwahnya dan mampu memberikan dampak positif secara regional. Keprihatinan akan tontonan yang banyak membuat orang jauh dari Allah dan RasulNya, memotivasi kami untuk memberikan tayangan alternatif yang mendidik dan menghibur dengan kualitas terbaik, yang dapat membawa orang lebih dekat kepada Tuhannya dan UtusanNya.
Nabawi artinya bersifat kenabian. Motivasinya bahwa kami bisa membuat tayangan yang membuat orang mengenal Rasulullah, mencintai, dan mengikuti ajaran beliau SAW. Nabawi juga berarti bahwa kami ingin membawa pesan yang berlandaskan sanad, jalur transmisi pesan tanpa putus yang terus bersambung semenjak zaman Nabi hingga zaman ini, yang dibawa oleh para ulama mulia.
Kata “Nabawi” dikedepankan, untuk menunjukkan dan mengingatkan bahwa ini bukanlah sekedar televisi, namun media ini ingin menjadi salah satu jalur representasi dan manifestasi dari cahaya mulia sifat-sifat Nabi SAW.

VISI
Menjadi penyedia konten muslim terbaik

MISI
Menyebarkan ilmu agama yang bersambung sanadnya (taklim – akal)
Membimbing hati dan akhlaq agar mengenal Tuhannya melalui jalan rohani yang bersambung sanadnya (tarbiyah/tazkiyah – hati)
Mendorong aktivitas dakwah yang bersambung sanadnya (tabligh – jasad)

NILAI-NILAI & SIKAP
Tidak politis
Tidak provokatif
Merangkul dan menyatukan – Rahmatan lil ‘alamin
Introspektif
Moderat

PRINSIP AMAL
Niat lurus semata karena dan untuk Allah swt.
Kombinasi kerja profesional dengan tawakkal
Karya berkualitas
Motivasi menjadi yang terbaik
Motivasi memberikan karya yang berdampak

PERAN
Menjadi media dakwah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang merupakan mayoritas umat, yang berkarakter moderat
Menjadi media tampilnya referensi bersanad, berupa para ulama yang terpercaya

AUDIENS
Nabawi TV berdakwah kepada semua kalangan di wilayah regional Asia Tenggara

MEDIA OUTLET
Di dalam menyampaikan dakwahnya, Nabawi TV memanfaatkan semua media outlet yang ada demi memaksimalkan sampainya pesan kepada semua audiens potensial, yaitu:
Parabola
Terrestrial
Internet
Media cetak
Media penyimpanan digital spt DVD dsb.

PUBLIKASI
Nabawi TV bekerjasama dengan majelis taklim dan lembaga dakwah, formal maupun informal, untuk memperkenalkan dan mempopulerkan brand Nabawi TV.
JENIS PROGRAM
Banyak ragam program yang dibuat oleh Nabawi TV, diantaranya:
Liputan majelis dari ulama yang terpercaya
Kajian oleh ulama yang terpercaya
Liputan perjalanan dakwah
Petikan yang menyentuh dan membimbing
Dokumenter
Wawancara dan dialog
Pesan ilmu-akhlaq-dakwah
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

TVRI Nasional Liput Kegiatan Santri Dayah MUDI


Samalanga - Dalam rangka membangun negeri melalui siaran-siaran bermamfaat bagi warga negara, crew TVRI Nasional melakukan liputan kegiatan para santri di LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Para rombongan TVRI tiba asrama sekitar pukul 15.30. wib pada Minggu (6/3). Rambongan didampingi oleh Pimmpinan Radio Diradja FM, Bapak Muktaruddin. Dan setibanya di MUDI disambut dan dipandu aktifitas liputan oleh pihak HUMAS dan Bagian LPDM.

"InsyaAllah, siaran akan tayang pada 1 April 2016, pada pukul 11.00 Wib". Kata Ketua Tim TVRI, Ibrahim. (mudimesra.com)
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Perang Turki dan Russia Serta Hubungannya dengan Aceh

Kisah perang Crimea ini kemudian disebar melalui syair dan hikayat yang membangkitkan semangat dukungan kepada Turki

PENEMBAKAN jet tempur Rusia yang diklaim terbang di atas wilayah udara Turki di perbatasan Suriah memicu ketegangan diantara kedua belah pihak. Turki yang merupakan anggota NATO mengaku mereka telah melakukan hal tersebut untuk melindungi kedaulatan negaranya. Sementara Russia mengklaim, pesawat tempur mereka tidak melewati perbatasan Turki dan masih berada di Suriah.

Jika menilik catatan sejarah, konflik antara Turki dengan Russia bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pada tahun 1853, pernah terjadi perang besar antara Turki Usmani dengan beberapa negara melawan Rusia. Perang itu dikenal dengan perang Crimea. Perang panjang ini menelan korban ratusan ribu tentara dari kedua belah pihak.

"Tokoh Florence Nightingale, pelopor perawat dunia, muncul dan terkenal dalam perang ini. Leo Tolstoy sempat merekam pahitnya perang ini dan kejadian pengepungan kota Sevastopol (Siege of Sevastopol) disusun dalam karya berjudul The Sebastopol Sketches," ujar Munawar Liza Zainal, mantan Wali Kota Sabang seperti dikutip oleh salah satu kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, kepada portalsatu.com, Minggu, 29 November 2015.

Perang besar tersebut ternyata mempunyai hubungan dengan Kerajaan Aceh Darussalam pada masa itu. Aceh disebut-sebut juga terlibat dalam perang Crimea bersama Kerajaan Inggris, Kerajaan Sardinia, dan Prancis.

Aceh saat itu merupakan vatsal Turki di Asia Tenggara.

"Ketika perang Crimea dimulai pada 1853, Sultan Alauddin Ibrahim Mansur Syah, Sultan Aceh yang memerintah secara de facto dari 1838, dan secara formal dari 1857 sampai 1870, mengirimkan bantuan kepada Sultan Abdul Medjit dari Turki sebesar 10.000 Dollar Spanyol. Ini merupakan bentuk dukungan dan sokongan rakyat Aceh kepada Turki," kata Munawar Liza.

Bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam ini memperkuat pengaruh Turki di Asia Tenggara. Aceh yang menjadi negara Islam terbesar di Selat Malaka, diperkenankan mengibarkan bendera Turki di setiap kapal dagang dan armada perangnya. Selain itu, Aceh juga mendapat bintang atau penghargaan tertinggi yang disebut Mejidie oleh Turki.

Kisah perang Crimea ini kemudian disebar melalui syair dan hikayat yang membangkitkan semangat dukungan kepada Turki di Asia Tenggara kala itu.

Hal senada disampaikan oleh sejarawan Unsyiah, Teuku Abdullah atau dikenal TA Sakti. Dia membenarkan ada beberapa hikayat yang menyebutkan peranan Aceh dalam perang Crimea. "Mengenai hal itu juga disebutkan dalam buku Memetakan Masa Lalu Aceh yang ditulis oleh Anthony Reid, R. Michaelle Feener, dan Patrick Daly," katanya.

Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Laraasan di Jakarta pada 2011 lalu.

TA Sakti mengatakan pada masa itu, Turki diibaratkan seperti Uni Soviet pada masa perang dingin melawan Blok Barat. "Turki saat itu kuat. Sehingga banyak negara-negara Islam, termasuk Aceh, menyatu di dalam imperium Turki Utsmany. Selain Aceh, ada juga kerajaan-kerajaan Islam di Afrika yang turut membantu armada perang Turki di perairan," kata TA Sakti.

Menurut TA Sakti, referensi lainnya yang menyebutkan peranan Aceh dalam membantu Turki juga bisa dilihat dalam Hikayat Meukuta Alam. "Disertasi Imran T Abdullah, orang Aceh juga," katanya.

TA Sakti mengatakan atas peranannya tersebut yang membuat Aceh turut disegani oleh kekuatan barat pada masa itu. "Turki memiliki jaringan yang kuat dan disegani oleh dunia pada masa itu. Aceh menjadi salah satu bagiannya yang menyebabkan negara-negara barat tidak bisa mencaplok kerajaan ini. Namun setelah Turki melemah akibat berperang dengan Portugis dan perang Crimea, Aceh kemudian menjadi sasaran di Malaka, hingga kemudian Belanda ikut memerangi Aceh," katanya.[portalsatu]
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Syeikh Belaid Hamidi: Bangkitkan Kembali Semangat Penulisan Mushaf di Aceh

Syeikh Belaid Hamidi di acara pengajian KWPSI dengan tema, "Penulisan Ayat-ayat Al-Quran Rahhalah di Bumi Aceh"
Islamic - Aceh yang pernah mengukir kegemilangan di zaman kesultanan dengan penulisan mushaf Al-Quran ratusan tahun silam, saat ini perlu membangkitkan kembali semangat penulisan mushaf.

Ini merupakan bagian dari proses untuk memelihara Al-Quran hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat Al-Hijr: 9 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Demikian disampaikan ulama dan penulis Mushaf Kerajaan Maroko, Syeikh Belaid Hamidi saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (25/11/2015) malam.

Menurutnya, semangat penulisan mushaf Al-Quran pada generasi muda Aceh ini juga sejalan dengan penerapan syariat Islam di provinsi paling ujung barat pulau Sumatera itu.

“Kalau Aceh lagi menerapkan syariat Islam, karena Al-Quran adalah syariat, berarti menuliskan mushaf Al-Quran itu itu penerapan syariat. Karenanya mari kita bangkitkan semangat dalam membudayakan kembali penulisan Mushaf dengan tangan yang kini mulai pudar tergerus zaman,” kata Syeikh Belaid Hamidi yang juga Dewan Hakim Perlombaan Kaligrafi Internasional Ircica, Turki pada pengajian KWPSI dengan tema, “Penulisan Ayat-ayat Al-Quran Rahhalah di Bumi Aceh”.

Menurutnya, untuk menulis mushaf Al-Quran ini bukan pekerjaan yang mudah. Harus betul-betul siap, makanya dirinya ingin mempersiapkan dulu orang dan SDM-nya. Ketika dia sudah betul-betul nanti siap baru diarahkan, agar tidak sampai tergesa-gesa.

“Saya ingin mempersiapkan murid saya dulu yang ada di Aceh sebanyak empat orang agar betul-betul teliti dia dalam penulisan di nasakh, kemudian juga akan ikut membantu menulis satu dua juz, saya akan selalu berada di belakang murid-murid yang telah saya berikan ijazah khat,” terangnya.

Ditambahkan Syeikh, kalau misalnya pemerintah di Aceh betul-betul mendukung untuk penulisan mushaf ini, maka harus mendukung dari segala segi. Yang menulis itu nanti dia tidak lagi memikirkan hal-hal yang lain. Dia akan konsentrasi dengan penulisan. “Kalau pemerintah mendukung penuh, insya Allah saya akan siap membantu,” jelasnya.

Dalam pengajian KWPSI yang dimoderatori Dosi Alfian itu, penulis delapan mushaf Al-Quran asal Maroko ini juga mengisahkan bahwa dirinya memendam hasrat untuk menuliskan mushaf Al-Quran sejak kecil. Namun, Syeikh Belaid memasang tekad akan mewujudkan cita-citanya ketika umurnya mencapai 40 tahun.

Hingga pada suatu malam akhir tahun 1980-an, Syeikh Belaid Hamidi mengaku bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Dalam mimpi itu, Rasulullah meminta Syeikh Belaid menuliskan mushaf Al-Quran.

“Setelah mimpi itu, saya sangat ingin menulis Al-quran, tapi ada satu kendala yaitu saya berjanji akan mulai menulis Al-Quran pada umur 40,” ungkap Syeikh Belaid.

Pada pengajian KWPSI, Syeikh Belaid Hamidi yang kini mengajar di Mesir, didampingi dua muridnya asal Aceh, Mukhlis Ilyas yang bertindak sebagai penerjemah, serta Khairul Rafiqi.

Penulis delapan mushaf Al-Quran asal Maroko ini juga mengisahkan bahwa dirinya memendam hasrat untuk menuliskan mushaf Al-Quran sejak kecil. Namun, Syeikh Belaid memasang tekad akan mewujudkan cita-citanya ketika umurnya mencapai 40 tahun. [Baca juga: Mulai Menulis Mushaf Setelah Bermimpi Rasulullah]

Hingga pada suatu malam akhir tahun 1980-an, Syeikh Belaid Hamidi mengaku bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Dalam mimpi itu, Rasulullah meminta Syeikh Belaid menuliskan mushaf Al-Quran.

“Setelah mimpi itu, saya sangat ingin menulis Al-Quran, tapi ada satu kendala yaitu saya berjanji akan mulai menulis Al-Quran pada umur 40,” ungkap Syeikh Belaid.

Syeikh Belaid mengaku telah mengunjungi 13 negara. Di setiap negara yang ia kunjungi, tak lupa menuliskan Al-Quran disertai catatan pinggir nama daerah dan negara yang disinggahinya.

“Hari ini saya berada di Aceh tepat pada Bulan Safar. Sungguh merupakan suatu yang kebetulan bahwa mushaf yang sedang saya tulis ini, saya mulai pada bulan Safar tahun lalu,” katanya.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mufti Damaskus dan Rombongan Ulama Suriah Berkunjung ke Aceh

Syekh Adnan Al-Afyuni (tengah) bersama para ulama Suriah lain
Islamic - Mufti Damaskus, Syekh Adnan Al-Afyuni bersama sejumlah ulama Suriah akan berkunjung ke Aceh, akhir November 2015 ini.

Informasi diperoleh Serambinews.com, kedatangan Mufti Damaskus dan rombongan ulama Suriah ini untuk menghadiri dan menjadi pembicara dalam rapat kordinasi Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), yang akan berlangsung dari tanggal 29 sampai dengan 30 November, di Asrama Haji, Banda Aceh.

"Mereka dijadwalkan datang ke Aceh untuk memberi materi dalam rapat kordinasi ulama dayah se Aceh dan tausyiah di hadapan masyarakat Aceh," kata Sekjend HUDA, Tgk Bulqaini Tanjungan, dalam siaran pers kepada Serambinews.com, Jumat (27/11/2015).

Ia menjelaskan, pada awalnya para ulama Suriah ini datang ke Malang dalam suatu undangan.

"Lalu kita komunikasi agar bisa hadir ke Aceh, ternyata mereka juga menyatakan keinginan besar untuk datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menerapkan Syari'at Islam, Ahlusunnah wal Jama'ah," kata Tgk Bulqaini.

"Mereka mau ke Aceh karena sebelumnya sudah pernah mendengar tentang Aceh. Mereka juga dapatkan informasi via mahasiswa Aceh yang pernah belajar di sana tentang keilmuan di Aceh yang memiliki sanad, " ujar Tgk Bulqaini menerangkan.

Adapun rombongan ulama Suriah yang akan datang ke Aceh adalah, Syekh Adnan Al-Afyuni (ulama Mazhab Syafi'i yang merupakan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah dan Wakil Rektor Universitas Ahmad Kuftaro).

Syekh Mahmud Chehadeh (Imam, Khatib dan Pengajar di Mujamma' Ahmad Kuftaro), Syekh Omar Dib (Ulama Muda dan cucu Syekh Rajab Dieb), dan Habib Muhammad bin Abdul Qadir Aljuned yang merupakan ketua Majlis Muwasalah antar ulama Muslimin wilayah Asia Tenggara.(*)

SERAMBINEWS
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Hebat, Pemuda Aceh Ini Hafal 30 Juz Al-Qur'an Hanya Dalam 14 Hari

Seorang pemuda bernama Teuku Akbar Maulana yang merupakan salah satu alumni Ma’had Darul Ulum, Banda Aceh ini berhasil menghafalkan 30 Juz Al-Qur'an hanya dalam waktu yang sangat singkat yaitu 14 Hari.Terlihat Proses setoran hafalan terakhir Teuku Akbar Maulana adalah surat An-Nas yang kemudian direkan dengan penuh khidmat dan seketika pria yang berasal dari Abdya langsung meneteskan air mata karena tak kuasa menahan haru.
Teukur Akbar Maulana masuk menjadi salah satu peserta program acara karantina 30 hari. Teuku Akbar Maulana merupakan peserta acara tersebut yang sangat menginspirasi dan bisa menjadi contoh baik bagi para peserta lainnya.

Teuku Akbar Maulana pun mendatangi tempat karantina sebelumnya terlambat lantaran dirinya transit dari Turki sampai ke Indonesia dan setelah menunggu 30 jam baru sampailah Akbar Maulana ke negeri Laskar Pelangi, BelitungSebelumnya Akbar Maulana telah mempunyai bekal hafal 7 Juz sebelum bergabung pada acara ini. dan dibawah bimbingan para Ustadz di acara karantina 30 hari ini akhirnya Akbar Maulana berhasil menghafalkan 30 Juz. Seperti dikutip 30harihafalquran.com (19/7/2015)

Saat ini Teuku Akbar Maulana sedang duduk dibangku sekolah menengah pertama ( SMU ) di sekolah Imâm Hatib Kayseri Turki. dan selama bersekolah di sana Akbar Maulana merupakan seorang yang juara, Ia telah menjuarai berbagai kejuaran disekolahnya dan menjadi salah seorang pelajar asing yang sangat disegani, bukan hanya karena Prestasi Akademiknya. Akbar Maulana juga pernah mendapatkan juara Badminton.

Bahkan tiga bulan yang lalu Akbar Maulana bercerita jika saat ini dirinya sedang dibuatkan sebuah film oleh temannya yang tinggal di Australia.Penasaran !!!, Silahkan cek saat Akbar Maulana memberikan hafalan setoran terakhirnya dan bagaimana saat Akbar mengabari ibunya di Aceh setelah berhasil menghafal 30 Juz ini.

 Seperti yang sudah diterangkan dalam website 30harihafalquran.com karantina Nasional Menghafal Al Quran 30 Juz hanya Dalam waktu 30 Hari merupakan suatu Program Percepatan Hafalan Dan Setoran Al Quran dengan target yang ditentukan yaitu 30 Juz hanya dalam waktu 30 hari.

Program karantina hamasah yang diselenggarakan oleh Yayasan Desa Wisata Quran Hamasah ini memang dari waktu ke waktu memiliki ciri tersendiri dengan selalu mengganti suasana dan juga tempat acara.

Disamping selalu mengutamakan output dan juga kualitas para alumninya, Yayasan Desa Wisata Quran Hamasah juga memberikan nilai tersendiri bagi tempat - tempat yang dijadikan lokasi karantina tentunya.

Sumber: hanyatauaja
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sabrom Galang Dana untuk Nasyid Salsabil

LHOKSEUMAWE – Satuan Brother hood Otomotif and Music (Sabrom) Lhokseumawe menggelar aksi penggalangan dana untuk grup nasyid Salsabil. Aksi dilakukan dengan mendatangi penikmati kopi di sejumlah warung kopi di Lhokseumawe, Minggu, 21 Juni 2015, malam.
Pantauan portalsatu.com, anggota Sabrom mulai melakukan aksi penggalangan dana di warung Station Premiun dekat Simpang Kutablang, Lhokseumawe, sekitar pukul 22.15 WIB.
Sejumlah wanita cantik anggota Sabrom, salah satunya Pocut Hariani, membawa beberapa kardus bertuliskan “Solidaritas Sabrom Lhokseumawe untuk Nasyid Salsabil”.
Mereka merapat ke setiap meja yang disesaki penikmat kopi di warung tersebut. Di lokasi itu tampak Sekretaris Sabrom, Benny, penasehat Salsabil, Ahmad Dani, dan managemen Salsabil Muhammad Razali.
“Alhamdulillah, banyak yang bantu,” ujar Pocut Hariyani yang juga Duta Wisata Lhokseumawe 2014. Selesai di Station Premium (SP), Sabrom bergerak ke warung di sebelah SP. Di sana, juga banyak penikmat kopi  turut memberikan sumbangan.  Sabrom kemudian bergerak ke warung Corner Coffee di kawasan KP3 Lhokseumawe.
“Kita terpanggil untuk membantu Salsabil setelah mengetahui kondisi grup nasyid itu yang membutuhkan perhatian kita semua, karena mereka yang sedang berjuang mengharumkan nama Aceh di Jakarta terkendala dengan faktor ekonomi,” ujar Benny kepada portalsatu di sela-sela aksi penggalangan dana tersebut.
Benny menyebut pihaknya mengetahui kondisi Salsabil terkendala faktor ekonomi dari penasehat grup nasyid itu, Ahmad Dani, Minggu siang.
“Kemudian kita sampaikan kepada semua kawan-kawan di Sabrom untuk berkumpul malam ini, dan kita langsung turun menggalang dana untuk membantu Salsabil. Aksi ini akan terus berlanjut,” katanya.
aksi 2
Diberitakan sebelumnya, penampilan grup nasyid Salsabil asal Krueng Geukueh, Dewantara, Aceh Utara, di ajang Q Academy Indosiar, Jumat, 19 Juni 2015, malam, berakhir dengan panen pujian dari semua juri. Tidak hanya para juri, Salsabil juga memukau pemirsa Indosiar, sehingga grup nasyid tersebut merajai polling SMS dan dinyatakan lolos ke babak berikutnya.
Q Academy merupakan ajang pencarian bakat dalam nuansa musik islami yang ditayangkan Indosiar sejak 16 Juni lalu. Kompetisi ini diikuti grup musik qasidah, marawis, nasyid dan gambus serta grup band religi. Dari 40 grup yang berhak menjadi peserta, tiap malamnya tampil empat grup. Grup yang meraih polling SMS tertinggi berhak masuk ke babak berikutnya atau lolos ke zona ajib. Sementara tiga grup dengan perolehan SMS rendah akan ditentukan melalui penilaian dewan juri dan dua di antaranya harus pulang alias wassalam.
Grup Nasyid Salsabil memiliki tujuh personil, yaitu Fitriadi, Muzakir Hanafiah, Samsul Bahri, Sofyan Hanafiah, Muqsin Salsabil, Muklis, Samsul Usman. Mereka memperkenalkan namanya satu demi satu diiringi aksi kocak host acara itu Ramzi, Irfan, Rina, dan Indra Bekti.
“Ini baru namanya nasyid,” ujar Soimah, juri spesialis aksi panggung, memuji penampilan perdana Salsabil ( sumber : portalsatu.com ) 
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Jangan Lupakan Nama Pendiri IAIN Langsa

Sejarah IAIN Langsa harus dilihat secara utuh, artinya tidak boleh dilihat sepotong-sepotong. Dimana IAIN Langsa memiliki  akar yang kuat dalam sejarah kemunculannya. IAIN Langsa adalah karya dan produk intelektual anak  negeri yang mempunyai komitmen dan kepedulian terhadap pendidikan anak bangsa. Melihat sejarah harus dengan komprehensif dan totaliti, dimana IAIN Langsa saat ini merupakan kelanjutan dari IAI Zawiyah Cot Kala Langsa yang didirikan pada tahun 1980. Kemudian berubah status menjadi STAI Zawiyah Cot Kala Langsa pada tahun 1981, dan pada tahun 2006 STAI Zawiyah Cot Kala Langsa menjadi STAIN Zawiyah Cot Kala dan akhirnya pada tahun 2014 berubah kembali menjadi IAIN Langsa. Ini adalah sejarah IAIN Langsa yang harus diketahui oleh semua pihak.

Semangat para pendiri pada tahun 1980 telah membuahkan hasil yang mengembirakan, dimana saat ini kampus yang pernah mereka dirikan telah berkembang pesat ditanah air khususnya di provinsi Aceh. Para pendiri tersebut yakni Hasan ZZ, Azhar Zakaria, Muhammad Arifin Amin dan Idris Harahap. Mereka adalah tokoh intelektual dan inisiator kelahiran IAIN Langsa yang sangat megah ini. Rasa cinta terhadap sejarah dan kepedulian mereka pada pendidikan telah mereka tuangkan dalam bentuk prasasti pendirian perguruan tinggi tesebut. Kemudian, mereka menabalkan nama Zawiyah Cot Kala pada IAIN Langsa untuk mengabadikan dan menghidupkan kembali kejayaan perguruan tinggi yang terbesar di Asia Tenggara abad 7 Masehi yakni Zawiyah Cot Kala. Ini merupakan bentuk penghargaan pada sejarah bangsa.

Betapa besar pengabdiannya pada kampus IAIN Langsa, maka sudah sepantasnya kita menghargai usaha dan kerja keras mereka dalam mendirikan perguruan tinggi ini. Penghargaan ini dapat dilakukan dengan cara menabalkan nama mereka pada sarana-sarana kampus IAIN Langsa. Misalnya, nama Hasan ZZ ditabalkan pada nama mesjid kampus IAIN Langsa, nama Azhar Zakaria ditabalkan menjadi nama perpustakaan, nama Muhammad Arifin Amin ditabalkan pada nama aula kampus dan nama Idris Harahap pada nama asrama mahasiswa di kampus IAIN Langsa. Penabalan nama mereka sudah menjadi keharusan dan kewajiban sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa mereka terhadap kampus IAIN Langsa.

Mereka adalah tokoh dan generasi terbaik bangsa yang pantas mendapatkan perhargaan tersebut dengan menabalkan namanya pada sarana – sarana kampus. Supaya kampus IAIN Langsa menjadi perguruan tinggi yang respek terhadap sejarah. Sehingga  pemikiran dan usaha keras mereka menjadi motivasi dan inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat luas. Ide, gagasan dan inovasi mereka akan menjadi pengetahuan bagi kita semua.

Untuk itu, saya meminta Rektor IAIN Langsa agar menabalkan nama pendiri tersebut pada sarana-sarana kampus  yang dituangkan dalam surat keputusan Rektor IAIN Langsa. Rektor harus menabalkan nama mereka sesegera mungkin, mereka pantas mendapatkan penghargaan tersebut dan jangan lupakan nama –nama mereka. Jasa-jasa mereka tidak boleh dilupakan dan harus terus dikenang oleh kampus IAIN Langsa. Tanpa kerja keras mereka, kampus ini tidak akan ada dan tidak akan berkembang seperti ini. Hasil kerja keras mereka tersebut telah banyak melahirkan sarjana Islam melalui kampus IAIN Langsa. Dimana generasi bangsa dapat belajar dari kampus yang pernah mereka dirikan sebelumnya. Bahkan telah membuka lapangan kerja untuk dinikmati generasi setelahnya. Oleh karena itu, saya meminta rektor segera menabalkan nama mereka pada sarana-sarana kampus IAIN Langsa. Supaya kita menjadi generasi yang pintar menghargai dan menjaga sejarah bangsa dan sejarah lembaga kita. (Tami)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

newer posts back home
 
Mudimesra

Link's Partners

Mudimesra
Support : Creating Website | Free Template | Radio Aceh
Copyright © 2014. Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger