Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah: Aceh | Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al-Aziziyah!


Headlines News :
Powered by Blogger.
Mudimesra

Kabar Ads

http://www.al-aziziyah.org/p/alquran-mp3.html

Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

Nasehat Terakhir Abu Panton Di Dayah Mudi Mesra

Islamic -Saat itu jam sudah menunjuki pukul 2 malam, tetapi Abu Panton masih terus menyampaikan nasehat dan mauidhah terhadap seluruh santri MUDI, baik yang masih belajar maupun yang sudah alumni. Disamping banyak menyampaikan nasehat abu juga banyak menyampaikan kisah beliau bersama Abon ketika masih belajar di ma’had. Ketika menceritakan hal ini tidak ada seorang pun yang tidak terharu, bahkan banyak yang tidak sanggup menahan air mata.

Ada satu jam lebih abu berbicara di hadapan hadirin yang memadati halaman masjid, beliau berbicara dengan penuh semangat, khusyu’ dan hikmah. Rasanya ini merupakan hal yang paling bermakna dari peringatah HAUL tahun ini disamping hasil mubahatsah tentunya.

Kisah beliau bersama Abon. Diatarakisah beliau bersama Abon adalah pada suatu malam beliau mutalaah kitab mazahibul arbaah di dalam balee beuton, tanpa beliau sadari beliau tertidur dengan kitab diatas dadanya. Ketika sudah larut malam beliau terbangun dan beliau terkejut ketika mendapati Abon sedang duduk di dekat kepalanya. Spontan beliau bangun dan bertanya kepada Abon, “padum na trep ka teungku duk inoe” ? saat itu Abon masih dipanggil teungku. Abonmenjawab, “ kalon puteng rukok” ! Abuterkejut ketika melihat puntung rokok sudah banyak dalam asbak dimana ini membuktikan bahwa Abon sudah lama duduk menemaninya tidur.

“ peu kitab nyan “ ? Tanya Abon selanjutnya seraya menunjuki ke arah kitab yang ada pada abu, “ kitab mazahibul arbaah teungku, geupeugah taleuk 3 sigoe kheun jatuh satu”. Jawab abu. “ nyan salah “. Komentar abu selanjutnya. Mendengar komentar Abon demikian abu merasa penasaran, sehingga beliau bertanya, “ meunye memang salah peu alasan, inoe kameutuleh lagee nyo”. “ pokok jih nyan salah, kapateh mantong peu yang lon peugah” jawab Abon seraya mondar mandir dalam balee beuton sambil mengapit-ngapitkan kitab mazahibul arbaah yang ada di tangannya. 

Dengan jawaban Abon yang demikian abu merasa tidak ada yang perlu ditanyakan lagi dan meyakini saja apa yang dikatakan Abon. Tetapi yang lebih mengherankan, kata abu, adalah sambil jalan tersebut, Abon banyak mengucapkan kata-kata seperti orang surah kitab, tetapi abu tidak mengerti satupun maksudnya. Kapan beliau tahu kebenaran yang telah disampaikan Abon yaitu ketika beliau menunaikan ibadah haji ke baitullah dan membeli satu kitab hadits yang di dalamnya termaktub semua surah yang Abon jelaskan sambil jalan beberapa tahun yang lalu. Pada hal kitab tersebut tidak ada dalam maktabah Abon. 

Ini berarti jangankan Abon pernah memutala’ah kitab tersebut, mungkin melihatpun tidak. Menurut abu ini adalah salah satu bukti bahwa Abon banyak mendapat ilham dari Allah SWT. masyaAllah. Ini hanya sepenggal kisah dan isi pidato beliau saat itu, kami sangat menyesal tidak sempat menulis semuanya, padahal tidak satupun perkataan beliau yang sia-sia. 

Memang dari nada perkataan dan nasehat beliau itu kami mendapat firasat itu yang terakhir ingin beliau sampaikan. Sering abu menghadiri HAUL dan Bahstul Masail tapi tidak pernah beliau memberikan nasehat sedemikian mengharukan dan penuh hikmah. Cuma saat itu kami tidak berani mengatakan yang macam-macam karena setiap perkataan itu adalah doa. Sedangkan tidak sedikitpun keinginan kita untuk berpisah dengan beliau. Tapi bagaimanapun kita berkehendak hanya Allah SWT yang memutuskan. 

Sumber: www.islami.xyz
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Tasyakuran Santri Pidie MUDI MESRA Pasca Muharram



Kamis 4 Safar 1438 H bertepatan 3 November 2016 M, FORSAP menggelar acara syukuran pasca mengikuti ajang perlombaan Muharram 1438 H, Kali ini santri pidie di dayah MUDI MESRA mendapatkan A+ dalam artian mendapatkan doble juara yaitu juara umum kelas dan juara umum perlombaan Muharram. Acara ini dihadiri sekitar 500 santri dan 150 dewan guru dan para undangan lainnya. "Juara ini bukanlah hasil sinsalabin abra katabra akan tetapi hasil jerih payah dan semangat para dewan guru dan santri khususnya dari Pidie ujar "Tgk Zahrul Fuadi Tangse" Sebagai Pengurus Forum Santri Pidie (FORSAP).

Santri Pidie adalah santri terbanyak di LPI MUDI MESRA saat ini telah mencapai lebih 1500 baik santriwan maupun santriwati serta mempunyai sedikitnya 15 Kafilah di komplek putra dan putri dayah MUDI MESRA, Samalanga.  Semuanya dibawah naungan wadah yang dinamakan FORSAP (Forum Santri Pidie).
Dalam Acara Tasyakuran FORSAP (Forum Santri Pidie) Tgk Mukhlisuddin Marzuki , Menyampaikan Tausiah dihadapan ratusan santri Pidie, beliau menyampaikan untuk memperhankan kusuksesan adalah lebih susah dari pada mencapai kesuksesan.

Beliau juga menyampaikan bahwa mari kita pertahankan FORSAP karena ia mempunyai kekuatan yang besar maka dalam membangun suatu komunitas atau organisasi pertama marilah kita perbaiki niat karena Allah dan yang kedua cinta, dan cinta kepada organisasi khususnya FORSAP membutuhkan pengorbanan yang lebih yang tidak lepas dari belajar yang sungguh-sungguh bagi santri kabupaten pidie itu sendiri. Mudah mudahan kedepan santri Pidie bisa berkiprah dikampung halaman mereka masing-masing dalam menbentengi aqidah Ahlusunnah Wal Jamaah.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pengajian TASTAFI Kota Banda Aceh Di MRB 6 Muharram 1438 H ‘’Kelebihan Hari A'syura''


Pengajian TASTAFI Kota Banda Aceh Di MRB 6 Muharram 1438 H ''Kelebihan Hari A'syura''
Nara Sumber : Abu Syaikh Hasanoel Basri HG

Kelebihan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dimaksudkan haram melakukan perperangan, karena dalam setahun terdapat 4 bulan haram yaitu Zulkaidah,Zulhijjah,Muharram Dan Rajab, Dalam bulan Muharram terdapat hari-hari yang mulai terutama hari A’syura yang mana terdapat keutamaan dan kejadian yang luar biasa.

Pengajian TASTAFI pada kali ini edisi 6 Muharram 1438 H Abu MUDI tidak membacakan kitab Siarus Salikin sebagaimana biasanya,akan tetapi beliau membaca kitab I’anatu Thalibin karangan Abi Bakar Syata kerena mengingat memontum yang tepat menyambut kedatangan hari A’syura beberapa hari lagi.

Dalam kitab I’anatu Thalibin terdapat suatu faedah yang menerangkan kelebihan hari Asyura yang biasa kami rangkum sebagai berikut :
Diwajibkan Allah puasa sehari kepada ummat nabi Musa as (Bani Israil) yaitu pada  sepuluh Muharram (A’syura) .Sedangkan bagi kita sebagai ummat nabi Muhammad saw disunnahkan berpuasa dan menafkahkan keluarga pada hari tersebut sebagai tambahan supaya berbeda dengan Yahudi disunnahkan juga kita berpuasa hari Tasu’a (9 Muharram) dua amalan ini adalah sepakat para ulama dengan riwayat yang sahih.

Ada beberapa riwayat yang terjadi berbeda pendapat para ulama tentang amalan hari A’syura (10 Muharram) akan  tetapi boleh diamalkan karena bagian dari fadhail amal, diantaranya : 
Memotong kuku,mengusab kepala anak yatim,bersedekah, shalat sunnah A’syura,memakai celak, mengunjungi ulama ,menjenguk orang sakit dan membaca surat Al Ikhlas 1000 kali.

Diantara kejadian pada hari A’syura adalah:

1. Diampunkan Allah nabi Adam as dari kesalahan memakan buah khuldi serta diangkatnya sebagai Safiyullah.
2. Diangkatkan nabi Idris as ketempat yang tinggi (langit).
3. Dikeluarkan nabi Nuh as dari bahtera.
4. kelepasan nabi Ibrahim as dari api raja Namrud,
5. Diturunkan Taurat kepada nabi Musa as
6. Disembuhkan nabi Ayyub as,
7. Dikeluarkan nabi Yunus as dari perut ikan
8. Terbelah laut untuk bani Israil, diampunkan nabi Daud as
9. Diiberikan Allah kerajaan bagi nabi Sulaiman as,
10. Diampunkan dosa nabi Muhammad as baik dosa yang terdahulu maupun yang akan datang.
11. Hari Asyura hari pertama turun hujan ,pertama rahmat,dijadikan langit dan bumi.



Diantara kelebihannya juga ‘’Barang siapa yang bersedekah pada hari A’syura seolah-olah ia tidak pernah menolak orang yang meminta-minta dan Barang siapa mengunjungi orang sakit pada hari A’syura maka seolah-olah ia mengunjungi orang yang sakit keseluruhannya’’.
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Jejak Keintiman Aceh Darussalam dan Kekhalifahan Turki Usmani

Menurut sang penulis yang asli dari bumi Aceh ini, buku ini adalah bentuk kontribusi orang Aceh sendiri terhadap khazanah keilmuan terkhusus peradaban Aceh. Selama ini karya-karya sejarah Aceh yang beredar kebanyakan bukan berasal dari penulis Aceh. Yang notabene, mereka adalah bagian dari sejarah itu sendiri.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa para Penguasa Aceh Darussalam memiliki hubungan yang mesra dengan Kekhilafahan Usmani. Keduanya adalah kekuasaan yang sama-sama berasaskan Islam, yang  terpisahkan jarak yang sangat jauh. Wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam adalah bagian dari Asia Tenggara sedangkan Kekhilafahan Usmani berada di sisi lain benua Asia dan sebagian Eropa. Dua kekuasaan besar yang memang letaknya tidak berdekatan. Maka, tidak salah apabila para sejarawan mengatakan keduanya mempunyai hubungan yang menarik. Lantas, bagaimana rekam tali persaudaraan antara keduanya?

Buku yang berjudul Relasi Kerajaan Aceh dan Kerajaan Darussalam ini adalah karya dari Baiquni Hasbi yang diadaptasi dari tesis yang bersangkutan di Universitas Ankara, Turki. Buku ini mengungkapkan pentingnya mengetahui motif dari relasi Kerajaan Aceh Darussalam dengan Usmani. Mengurai sejarah yang sempat tersamarkan mengenai dinamika hubungan dan kerjasama politik antar keduanya pada abad ke 16 dan 19 sekaligus memberikan nafas baru untuk historiografi itu sendiri. Untuk menggali fakta sejarah tersebut, penulis banyak menggunakan berbagai sumber yang berasal dari Arsip Turki Usmani langsung. Seolah penulis ingin mengajak pula bagaimana bentuk relasi tersebut dari sudut pandang Kekhilafahan Islam terakhir ini.


Menurut sang penulis yang asli dari bumi Aceh ini, buku ini adalah bentuk kontribusi orang Aceh sendiri terhadap khazanah keilmuan terkhusus peradaban Aceh. Selama ini karya-karya sejarah Aceh yang beredar kebanyakan bukan berasal dari penulis Aceh. Yang notabene, mereka adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Itulah pentingya menulis relasi antar keduanya. Pada awal abad ke 16 Aceh masyhur dan tercatat sebagai destinasi yang menjanjikan. Di periode ini pula catatan sejarah mengenai Aceh menuai kabar gembira. Banyak para pelancong dunia telah mencatatnya.

Baiquni membagi bukunya ke dalam empat bagian. Di bagian pertama, ia menggambarkan keadaan kedua kekuatan besar tersebut di tempo waktu yang sama, yakni abad ke 16 dan ke 19 terutama dalam aspeki ekonomi dan politik. Aceh pada era ini merupakan kekuasaan yang kuat. Ia membuktikan dengan adanya peningkatan perdagangan lada di masa Sultan Al Kahhar. Al Kahhar adalah seorang Sultan yang kuat, sehingga ketika memimpin Aceh mampu memberikan harapan besar untuk Aceh. Tak diragukan lagi, ia mampu menguatkan perekonomian. “Bahkan, sebuah catatan perbendaharaan Portugis di Goa (India) pada tahun 1590 Aceh memperoleh keuntungan besar dari itu” (hal 25). Hal yang sama terjadi Usmani di abad ke 16. Sulayman Al Qonuni sukses membawa Usmani menjadi satu-satunya kekuatan terbesar di dunia. Di tahun 1541 di Benua Eropa, ia menaklukan Hungaria. “Hingga akhirnya kekuasaan Kristen mengakui kehebatannya” (hal 42).

Abad ke 19, Aceh terkepung dengan kekuatan lua yang berimbas pada kemundurannya. “Kerajaan asing seperti Belanda, Inggris saling mengadu demi mendapatkan wilayah Aceh” (hal 26). Kondisi yang sama di rasakan Usmani. Kemunduran drastis terjadi di abad ke 19. Ketertinggalan Usmani dengan Barat menjadi satu dari beberapa dampaknya. Meskipun pembaruan-pembaran dilakukan, tidak mampu mengubah kondisi. “Kerajaan Eropa bertambah kuat dan akibatnya cengkeraman mereka (Inggris, Prancis) semakin tajam dan kuat dalam sistem pemerintahan Usmani” (hal 46).

Bagian kedua dari bukunya yang merupakan Inti, Baiquni mengungkap bahwa relasi di abad ke 16 dibuktikan dengan adanya surat dari Sultan al-Kahhar yang dikirimkan kepada Sultan Sulayman al-Qanuni pada tahun 1566 M. Ia mengirimkan dua utusannya yang bernama Umar dan Husein. Tujuannya adalah meminta bantuan militer kepada Sultan Sulayman Agung. Namun hal itu tidak langsung disepakati oleh Sultan Sulayman kata penulis. “Sebab karena jarak antara keduanya sangat jauh, maka sultan akan menyertakan orang Usmani sebagai utusan yang membersamai dalam perjalanan ke Aceh Darussalam” (hal 57).

Selain permintaan dalam bidang militer, Kerajaan Aceh meminta kepada Usmani agar masuk sebagai vilayet (propinsi). Ia mengajukan agar Aceh disamakan kedudukannya dengan Yaman, Mesir, Jedah yang merupakan bagian propinsi dari Kekhilafahan Usmani. Atau, bisa disebut Sultan Aceh menawarkan kerajaannya sebagai negara vasal Kekhilafahan Usmani, sehingga mengakui kedaulatan Usmani yang merupakan satu-satunya kepemimpinan di dunia Islam (hal 63).

Lada dan rempah-rempah menjadi komoditas yang unggul bagi Kerajaan Aceh Darussalam. Hubungan dagang antara keduanyapun tak luput dari catatan sejarah selain dalam bidang militer. “Puncaknya pada tahun 1560an, tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1564 laporan dari Tuan tanah dari Cairo bahwa mereka menerima lebih dari 18.000 kwintal lada 3000 kwintal rempah-rempah” (hal 94).

Lain halnya dengan Sultan Sulayman. Sultan Salim II juga mengeluarkan surat resmi kekhilafahan kepada utusan Aceh. Dalam surat tersebut ia menunjuk Mustafa Cavus sebagai duta Usmani dan Kurtoglu Hizir Reis (mantan laksamana Iskandariya) untuk memimpin ekspedisi ke Aceh. Selain itu Sultan juga memerintahkan Gubernur Mesir untuk membantu dan mempermudah urusan duta Sultan al-Kahhar, baik saat mengambil kebutuhan atau ingin membeli kuda dan senjata untuk melawan Portugis (hal 65).

Permintaan bantuan kembali Aceh lakukan di abad ke 19. “Seorang yang bernama Abdurrahman al-Zahir tiba di Istanbul sekitar 27 April 1873 untuk meminta bantuan militer pada Usmani” (hal 89). Karena kondisi genting telah terjadi di Aceh Darussalam akibat serangan dari Belanda.

Bagian ke empat buku ini, penulis mengungkap pentingnya relasi yang terjadi antar keduanya. Menurutnya, relasi itu akan berdampak pada saling menguatnya kekuasaan Usmani dan juga Aceh Darussalam. Membuat geram kekuatan luar dari kerajaan-kerajaan kristen maupun lainnya yang memiliki misi untuk menguasai. Akan tetapi, diluar itu semua sudah menjadi keharusan bagi Usmani. “Bentuk komitmen Usmani untuk melindungi Muslim yang menjadi kewajibannya untuk wilayah Islam di dunia” (hal 104).

Bagian ke lima, dijelaskan tentang pengaruh dari realasi dua kerajaan tersebut. Salah satunya, baru-baru ini terdapat penemuan mata uang emas di Kampung Pande. Dalam kumpulan koin emas tersebut ditemukan mata uang yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Usmani. Karena pada koin tertulis “Sultan Sulayman bin Sultan Salim Syah ‘uzza nashruhu dhuriba fi Misr sanah 927”, yang berarti “Sultan Sulayman bin Sultan Salim Syah, semoga dikuatkan kemenangannya, dicetak di Mesir pada tahun 927/6 H” (hal 111).

Sejumlah kekurangan masih ditemukan dari buku ini. Terdapat banyak kesalahan penulisan, misalnya dalam pemilihan kata, kalimat yang belum sempurna, tidak adanya spasi dalam sebuah kalimat. Itupun dijumpai tidak hanya satu, atau dua, melainkan lebih. Pembahasan relasi yang ditulis oleh Baiquni mencakup abad ke 16 dan 19 sehingga ada kekosongan informasi untuk pembaca tentang kondisi abad ke 17 dan 18. Bagi pembaca awam ini akan menjadi kendala.

Sebagai kesimpulan, buku ini sangat baik untuk dijadikan rujukan terutama bagi para peminat sejarah tentang hubungan Kerajaan Aceh dan Turki Usmani. Tidak hanya itu, pada bagian lampiran buku ini banyak juga dimuat arsip-arsip dari Turki Usmani yang penulis gunakan untuk menjelaskan keintiman ini. Penulis seperti ingin mengajak kita untuk terus membaca dan mengungkap banyak fakta yang sangat menarik dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Wallahu ‘alam bisshowab
Judul Buku      : Relasi Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Utsmani
Penulis            : Baiquni Hasbi
Penerbit           : LSAMA
Terbit              : Cetakan Pertama, April 2014
Tebal               : xvi + 184 ; 14×21 cm

Oleh : Rizka K. Rahmawati
Peresensi adalah alumni Program Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kontributor di komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) .

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

newer posts back home
 
Mudimesra

Link's Partners

Mudimesra
Support : Creating Website | Free Template | Radio Aceh
Copyright © 2014. Islamic Learning Center - Achehnese Norway Al Aziziyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Baharsj
Proudly powered by Blogger